Aku membanting jas kerjaku,
menghampar berlembar-lembar kertas di atas meja bar. Segala kelu dan hingar
bingar kalkulasi mulai meluruh lewat alunan musik, menyalak, membakar rongga;
hingga kalut sempat tersamar, hingga kenyamanan melilit tubuh dan pikiran.
Seorang bartender menghampiri, mencungkil bingkai senyum yang
entah. Aku memesan satu gelas red wine Chille tahun 2009. Berharap asam anggur
itu membuatku lupa diri. Namun entah bagaimana, pikiranku diurut kerontang
kubah lampu bar. Kelaparan hati ini, terjambak sesuatu yang gegap.
“Malam ini kami kedatangan penyanyi
Jazz baru, masih kolot dengan pesta pora,” sergah si bartender sembari mengusap
gelas yang sudah kinclong dari sananya. Aku melenguh, tidak perduli. “Namanya
Senja,” lanjutnya lagi. Pandanganku yang temaram oleh asap rokok melambung
hingga ke langit. “Bagus namanya,” ucapku seadanya. Bartender itu masih
penasaran dengan gusarku.
“Aku bisa mengenalkan kau dengan
banyak wanita di sini, tapi nampaknya ketidaktertarikanmu sudah geming melalui sesap anggur acap malam,” timpal si
bartender. Aku tertawa kekeh, mengingat semua masalah hidup yang ingin aku
buang begitu saja lewat alir-alir deras air anggur ini, masuk tertenggak ke
dalam kerongkongan dan berakhir luruh menjelma urin.
Teringat lagi sesuatu yang mencekat
napasku; pekerjaanku, keluargaku dan diriku. Bilamana orang menganggap
kesuksesan ini adalah suatu anugerah, tapi tidak untukku. Puan neraka sudah
mengepung, nyatanya memiliki orang tua yang punya segalanya adalah penjara, sedang
aku tersangka yang menunggu waktuku habis di ruang pasung. Aku penat bukan
kepalang mengingat aku merupakan
direktur perusahaan milik orang tuaku sendiri. Bak ditelanjangi oleh
puntung-puntung pelangi yang hina, pasrah akan masa depan. Belum lagi
perjodohan konyol yang telah diatur seperti drama-drama Korea. Sungguh
memuakkan.
“Kuharap kau terperangah,” suara
bartender itu membuyarkan perjalanan lamunku, seiring dengan sorot lampu dan
megah tepuk tangan mengambang di udara. Seorang perempuan cantik dengan balutan
gaun hitam dan sepatu hak
tinggi yang bertengger di kakinya berjalan anggun memasuki arena bertarung.
Perempuan itu tersenyum ke semua pengunjung bar. Bibir tebalnya dipoles lipstik
merah meriah membuat para lelaki
di sini terpana, tak terkecuali
aku. Alunan musik mendawai pelan, mengiring semua penat yang muntah di lantai dansa.
Perempuan itu menyanyikan lagu
pembuka, sebuah lagu favoritku, All The
Things You Are.
Gerak tubuhnya aduhai menghipnotis mata, suara trumpet menggelegar di seluruh ruangan.
Aku melongo, diam-diam memuja penampilannya di atas panggung.
Satu jam, dua jam, tak henti musik
indah itu mengalun. Perlahan getir ini tercecer di ambang malam. Senja,
namanya. Senja, sukses meninabobokan semua makhluk di sini, termasuk aku. Anggur
merah ini sudah menjelma menjadi aku. Gelaspun bungkam di telan suara emasnya. Hingga lupa,
kuncup racun di kelopak mata menyebar ke paru. Aku sekarat oleh keindahannya,
mabuk dan tersesat.
Hingga tak sadar Senja sudah berdiri
di sampingku, masih dengan balutan gaun hitam dan sedikit berpeluh. Matanya
menelusur jantungku, degup yang tak seimbang dengan ketuk metronom. “Kau,”
ucapnya pelan, dan suara itu terbang ke ubun-ubun. Bak partitur yang menjemput
telinga. Melahap birahi.
“Ada apa gerangan?” aku berusaha
menenangkan detak jantung liar ini.
“Senja, namaku,” perempuan itu
mengulurkan tangan mungilnya. Aku membalas sekenanya. “Aku tahu,” sahutku.
“Bagaimana?”
“Pria penyaji minuman itu yang
memberitahu perihal namamu,” aku menimpali. Wajahnya berubah sumringah. Bangga
dengan manis eksistensi, peretas malu.
“Aku Keenan,” ucapku setengah
berbisik, berharap dia tidak mendengar. Namun sorot matanya seolah menanggapi.
“Keenan!” rupanya girang. Gerak tubuhnya mulai membuai.
“Keenan, kau ingin mendengar
ceritaku?” bias parasnya mendentum lampu-lampu picik, aku bagai tersengat semilyar pujangga petir. Aku mendengus,
aku ingin sekali tidak peduli dengannya, tapi jinjit hati ini merengek minta
ditorehkan hasrat sembabku.
“Jika ingin bercerita, berceritalah.
Asal jangan perbincangan tentang mimpi, sebab mimpi itu buta. Kabutnya menyesatkanmu,
disihir oleh kabut-kabut
masa depan,” ucapku. Senja mengangguk pelan, seakan mengerti maksudku.
“Aku tidak ingin bercerita tentang
mimpi, aku hanya ingin bercerita tentang diriku. Betapa menyeramkan aku ini,
sesosok wanita yang mencari-cari alasan, mengerucut keingintahuan. Betapa
mengerikan diriku, sang penjelajah rahasia. Aku, Senja, tapi pernahkah kau
menyadari bahwa aku tak semenarik senja?”
“Tergantung,” gusarku. “Tergantung
pada apa yang menjadi tolak ukurmu. Apa
yang menjadi gelora konsekuensimu. Apakah sesuai? Setimpal dengan ombang-ambing
kapal yang terjerat di samudera hati? Bukankah hidup sudah mengerikan? Kebahagiaan
hancur menaklukan? Kerlip binal sinar kota yang memabukkan? Kemudian suara
erang tengah malam lebur menakutkan?” perbincangan ini mulai menggugah selera,
kusesap lagi anggur asam si pelipur malam. Raut wajah Senja berubah sayu,
memandangi ceceran gelas yang tersungkur oleh kelam.
“Sesimpul keingintahuan untuk
dicintai. Cinta yang berbalas tanpa menyesap konsekuensi,” lamun Senja
melambung ke udara, dicerca debu-debu gempita. Sendunya terendus asap
warna-warni, meriah oleh luka. Tapi senyum itu sempat terukir di bibirnya.
“Puan rahasia mana yang menjebak
untuk dibongkar, Senja?”
“Rahasia yang terlalu tua dan
bungkam, kemudian mati tak bereinkarnasi,” sesalnya, melalui tumbang tatap yang
ranum.
“Maukah kau berbagi keingintahuanmu?”
pintaku, tanpa sadar tanganku sudah menggenggam jemari gentarnya. “Maukah kau
menempa jeritmu sejenak untuk kutuai dalam liter anggur ini?” aku menambahkan,
wajahnya semakin layu.
“Pun sampai sekarang aku tak
berpengetahuan, aku buta aksara cara mencintai dengan janji, tanpa khawatir dicelakai,”
Senja mendongakkan kepala untuk menjemput pandanganku yang terkoneksi matanya,
tapi alur tatap itu sudah layu sebelum mekar. “Senja, namaku, tak serona waktu
senja. Aku, adalah senja yang meringis di bualan semesta, dituntut jelma hati
yang jamak, tak jua henti dalam kurun waktu yang lengah,” genggaman jemarinya
semakin mengerat, ia melanjutkan cercanya lagi, “dan kau, Keenan, suamiku, kau tanam
rahasiamu di hadapan bola mataku,” gusarku semakin menjalar. Penasaran naskah
selanjutnya.
“Aku menjelajahi waktu untuk
menyeimbangi rahasiamu. Rahasia yang menjadi alasan mengapa tak jua kau
mencintai aku; perempuan masa depanmu. Kemudian melalui pendapat konyolmu
tentang perjodohan kita, menjadikanmu tentara pembenci. Seakan kau adalah mesin
yang diatur oleh sistem, menjalankan kehidupan yang membuatmu mati rasa,”
kembali perempuan itu larut dalam nanar kelamnya, menjemput gelagat rasio
penyeimbang yang terlanjur berantakan. Aku mendengus, kesal, tak mengerti
segala imbuhan, namun anehnya jantung ini semakin menyalak seiring kontradiksi
luap emosi, terkemas rapi dan tak bisu oleh waktu.
“Jadi kau istriku dari masa depan,
yang mempertanyakan mengapa aku membencimu?” aku membenahi pengetahuanku walau
tetap tak paham oleh jalur kenyataan.
“Gilanya aku ingin kau mempercayaiku
kali ini, Keenan. Mempercayai penjelajah sepertiku, yang menyia-nyiakan masa
depannya demi bersamamu malam ini. Menciptakan perbincangan hangat yang tak
pernah kudapat darimu,” Senja mengimbuhi melalui nadir-nadir racik syahdunya.
“Akankah semua berubah di masa depan
jika kau kembali?” redup mata Senja mengatup, kepada letih ia mengangguk. “Kembalilah,
aku di masa depan pasti tengah menunggumu di sudut pintu,” tanganku
mengendurkan genggam jemarinya. Diam-diam memuja keberaniannya.
Lalu Senja pamit dan kami sempat
berpelukan sejenak. Beberapa menit kemudian dia menyesap hilang di lini masa,
tanpa tertinggal jejak-jejak aromanya. Bar ini seperti kehilangan penyanyi
terbaik, para pengunjungpun tertawa seperti sedia kala.
Jika benar Senja adalah wanita yang
akan dijodohkan denganku nanti dan situasi yang membuatku membencinya,
setidaknya, perasaan Senja sempat berbalas malam ini. Malam yang menyambungkan dua
hati pada kesederhanaan jatuh cinta dalam letih. Akupun sadar bahwa semua
tindakan diguncang oleh konsekuensi, seperti si penjelajah waktu yang menelan
mentahan takdir dan menyusup ke masa lalu. Resiko itu terlalu berat, bisa saja
aku menganggapnya sedang melindur. Nyatanya aku mempercayainya lebih dari
kepercayaanku terhadap hidupku sendiri.
Dua bulan kemudian kami dipertemukan
melalui perjodohan yang aku nanti-nantikan semenjak perbincangan yang terjadi
di bar malam itu. Yang menjadi perbedaan; aku jatuh cinta padanya, sedang dia
tidak.