Rabu, 16 Agustus 2017

ADINDA JELITA


Gigit bibir jelita, menampar kalkulasi buta

Tatkala adinda tak sempat kuasai mimpi

Direbus pipimu oleh sepi

Mampus kau buah jelita

Dirajam api gunung atas puing kelana,”

Sadur sang pujangga konservatif

Menunggu untuk diredupkan aduhai kelopak mata

Kembali dalam pallet wewarna

Dan wewangi;

Akan seduh jirab-jirab sang jelita

Mengusung niat yang palsunya sehakiki

Hati;



Sungguh damai selubung pagi

Sembah sujud dentum narasi

Detak jantung tabulasi

Nun meletup-letup digoncang tongkat ibu peri



Bilamana,” sergah pujangga beringas

…kau jelita goyah sendiri

Biar saja aku yang mati,

Lanjut pujangga, raba konstruksi diri

Menyublim satu milyar nota-nota harga

Menebus dosa adinda jelita

Senin, 17 Juli 2017

SENJA, NAMANYA



            Aku membanting jas kerjaku, menghampar berlembar-lembar kertas di atas meja bar. Segala kelu dan hingar bingar kalkulasi mulai meluruh lewat alunan musik, menyalak, membakar rongga; hingga kalut sempat tersamar, hingga kenyamanan melilit tubuh dan pikiran.
            Seorang bartender menghampiri, mencungkil bingkai senyum yang entah. Aku memesan satu gelas red wine Chille tahun 2009. Berharap asam anggur itu membuatku lupa diri. Namun entah bagaimana, pikiranku diurut kerontang kubah lampu bar. Kelaparan hati ini, terjambak sesuatu yang gegap.
            “Malam ini kami kedatangan penyanyi Jazz baru, masih kolot dengan pesta pora,” sergah si bartender sembari mengusap gelas yang sudah kinclong dari sananya. Aku melenguh, tidak perduli. “Namanya Senja,” lanjutnya lagi. Pandanganku yang temaram oleh asap rokok melambung hingga ke langit. “Bagus namanya,” ucapku seadanya. Bartender itu masih penasaran dengan gusarku.
            “Aku bisa mengenalkan kau dengan banyak wanita di sini, tapi nampaknya ketidaktertarikanmu sudah geming melalui sesap anggur acap malam,” timpal si bartender. Aku tertawa kekeh, mengingat semua masalah hidup yang ingin aku buang begitu saja lewat alir-alir deras air anggur ini, masuk tertenggak ke dalam kerongkongan dan berakhir luruh menjelma urin.
            Teringat lagi sesuatu yang mencekat napasku; pekerjaanku, keluargaku dan diriku. Bilamana orang menganggap kesuksesan ini adalah suatu anugerah, tapi tidak untukku. Puan neraka sudah mengepung, nyatanya memiliki orang tua yang punya segalanya adalah penjara, sedang aku tersangka yang menunggu waktuku habis di ruang pasung. Aku penat bukan kepalang mengingat aku merupakan direktur perusahaan milik orang tuaku sendiri. Bak ditelanjangi oleh puntung-puntung pelangi yang hina, pasrah akan masa depan. Belum lagi perjodohan konyol yang telah diatur seperti drama-drama Korea. Sungguh memuakkan.
            “Kuharap kau terperangah,” suara bartender itu membuyarkan perjalanan lamunku, seiring dengan sorot lampu dan megah tepuk tangan mengambang di udara. Seorang perempuan cantik dengan balutan gaun hitam dan sepatu hak tinggi yang bertengger di kakinya berjalan anggun memasuki arena bertarung. Perempuan itu tersenyum ke semua pengunjung bar. Bibir tebalnya dipoles lipstik merah meriah membuat para lelaki di sini terpana, tak terkecuali aku. Alunan musik mendawai pelan, mengiring semua penat yang muntah di lantai dansa. Perempuan itu menyanyikan lagu pembuka, sebuah lagu favoritku, All The Things You Are. Gerak tubuhnya aduhai menghipnotis mata, suara trumpet menggelegar di seluruh ruangan. Aku melongo, diam-diam memuja penampilannya di atas panggung.
            Satu jam, dua jam, tak henti musik indah itu mengalun. Perlahan getir ini tercecer di ambang malam. Senja, namanya. Senja, sukses meninabobokan semua makhluk di sini, termasuk aku. Anggur merah ini sudah menjelma menjadi aku. Gelaspun bungkam di telan suara emasnya. Hingga lupa, kuncup racun di kelopak mata menyebar ke paru. Aku sekarat oleh keindahannya, mabuk dan tersesat.
            Hingga tak sadar Senja sudah berdiri di sampingku, masih dengan balutan gaun hitam dan sedikit berpeluh. Matanya menelusur jantungku, degup yang tak seimbang dengan ketuk metronom. “Kau,” ucapnya pelan, dan suara itu terbang ke ubun-ubun. Bak partitur yang menjemput telinga. Melahap birahi.
            “Ada apa gerangan?” aku berusaha menenangkan detak jantung liar ini.
            “Senja, namaku,” perempuan itu mengulurkan tangan mungilnya. Aku membalas sekenanya. “Aku tahu,” sahutku.
            “Bagaimana?”
            “Pria penyaji minuman itu yang memberitahu perihal namamu,” aku menimpali. Wajahnya berubah sumringah. Bangga dengan manis eksistensi, peretas malu.
            “Aku Keenan,” ucapku setengah berbisik, berharap dia tidak mendengar. Namun sorot matanya seolah menanggapi. “Keenan!” rupanya girang. Gerak tubuhnya mulai membuai.
            “Keenan, kau ingin mendengar ceritaku?” bias parasnya mendentum lampu-lampu picik, aku bagai tersengat semilyar pujangga petir. Aku mendengus, aku ingin sekali tidak peduli dengannya, tapi jinjit hati ini merengek minta ditorehkan hasrat sembabku.
            “Jika ingin bercerita, berceritalah. Asal jangan perbincangan tentang mimpi, sebab mimpi itu buta. Kabutnya menyesatkanmu, disihir oleh kabut-kabut masa depan,” ucapku. Senja mengangguk pelan, seakan mengerti maksudku.
            “Aku tidak ingin bercerita tentang mimpi, aku hanya ingin bercerita tentang diriku. Betapa menyeramkan aku ini, sesosok wanita yang mencari-cari alasan, mengerucut keingintahuan. Betapa mengerikan diriku, sang penjelajah rahasia. Aku, Senja, tapi pernahkah kau menyadari bahwa aku tak semenarik senja?”
            “Tergantung,” gusarku. “Tergantung pada apa yang menjadi tolak ukurmu. Apa yang menjadi gelora konsekuensimu. Apakah sesuai? Setimpal dengan ombang-ambing kapal yang terjerat di samudera hati? Bukankah hidup sudah mengerikan? Kebahagiaan hancur menaklukan? Kerlip binal sinar kota yang memabukkan? Kemudian suara erang tengah malam lebur menakutkan?” perbincangan ini mulai menggugah selera, kusesap lagi anggur asam si pelipur malam. Raut wajah Senja berubah sayu, memandangi ceceran gelas yang tersungkur oleh kelam.
            “Sesimpul keingintahuan untuk dicintai. Cinta yang berbalas tanpa menyesap konsekuensi,” lamun Senja melambung ke udara, dicerca debu-debu gempita. Sendunya terendus asap warna-warni, meriah oleh luka. Tapi senyum itu sempat terukir di bibirnya.
            “Puan rahasia mana yang menjebak untuk dibongkar, Senja?”
            “Rahasia yang terlalu tua dan bungkam, kemudian mati tak bereinkarnasi,” sesalnya, melalui tumbang tatap yang ranum.
            “Maukah kau berbagi keingintahuanmu?” pintaku, tanpa sadar tanganku sudah menggenggam jemari gentarnya. “Maukah kau menempa jeritmu sejenak untuk kutuai dalam liter anggur ini?” aku menambahkan, wajahnya semakin layu.
            “Pun sampai sekarang aku tak berpengetahuan, aku buta aksara cara mencintai dengan janji, tanpa khawatir dicelakai,” Senja mendongakkan kepala untuk menjemput pandanganku yang terkoneksi matanya, tapi alur tatap itu sudah layu sebelum mekar. “Senja, namaku, tak serona waktu senja. Aku, adalah senja yang meringis di bualan semesta, dituntut jelma hati yang jamak, tak jua henti dalam kurun waktu yang lengah,” genggaman jemarinya semakin mengerat, ia melanjutkan cercanya lagi, “dan kau, Keenan, suamiku, kau tanam rahasiamu di hadapan bola mataku,” gusarku semakin menjalar. Penasaran naskah selanjutnya.
            “Aku menjelajahi waktu untuk menyeimbangi rahasiamu. Rahasia yang menjadi alasan mengapa tak jua kau mencintai aku; perempuan masa depanmu. Kemudian melalui pendapat konyolmu tentang perjodohan kita, menjadikanmu tentara pembenci. Seakan kau adalah mesin yang diatur oleh sistem, menjalankan kehidupan yang membuatmu mati rasa,” kembali perempuan itu larut dalam nanar kelamnya, menjemput gelagat rasio penyeimbang yang terlanjur berantakan. Aku mendengus, kesal, tak mengerti segala imbuhan, namun anehnya jantung ini semakin menyalak seiring kontradiksi luap emosi, terkemas rapi dan tak bisu oleh waktu.
            “Jadi kau istriku dari masa depan, yang mempertanyakan mengapa aku membencimu?” aku membenahi pengetahuanku walau tetap tak paham oleh jalur kenyataan.
            “Gilanya aku ingin kau mempercayaiku kali ini, Keenan. Mempercayai penjelajah sepertiku, yang menyia-nyiakan masa depannya demi bersamamu malam ini. Menciptakan perbincangan hangat yang tak pernah kudapat darimu,” Senja mengimbuhi melalui nadir-nadir racik syahdunya.
            “Akankah semua berubah di masa depan jika kau kembali?” redup mata Senja mengatup, kepada letih ia mengangguk. “Kembalilah, aku di masa depan pasti tengah menunggumu di sudut pintu,” tanganku mengendurkan genggam jemarinya. Diam-diam memuja keberaniannya.
            Lalu Senja pamit dan kami sempat berpelukan sejenak. Beberapa menit kemudian dia menyesap hilang di lini masa, tanpa tertinggal jejak-jejak aromanya. Bar ini seperti kehilangan penyanyi terbaik, para pengunjungpun tertawa seperti sedia kala.
            Jika benar Senja adalah wanita yang akan dijodohkan denganku nanti dan situasi yang membuatku membencinya, setidaknya, perasaan Senja sempat berbalas malam ini. Malam yang menyambungkan dua hati pada kesederhanaan jatuh cinta dalam letih. Akupun sadar bahwa semua tindakan diguncang oleh konsekuensi, seperti si penjelajah waktu yang menelan mentahan takdir dan menyusup ke masa lalu. Resiko itu terlalu berat, bisa saja aku menganggapnya sedang melindur. Nyatanya aku mempercayainya lebih dari kepercayaanku terhadap hidupku sendiri.
            Dua bulan kemudian kami dipertemukan melalui perjodohan yang aku nanti-nantikan semenjak perbincangan yang terjadi di bar malam itu. Yang menjadi perbedaan; aku jatuh cinta padanya, sedang dia tidak.

Minggu, 04 Juni 2017

PADAHAL

Padahal,
Sembab mata merta diukir landas
Oleh tatap yang terjal
Terjungkit puting beliung

Sore itu, padahal
Perihal keragu-raguan
Terliputi;
Masih tidur di semampai pagi
Dijenguk rumpun angkuh yang mengkristal
Oleh lilitan terpal

Padahal,
Kita tercekik hening yang mekar
Memperjuangkan yang sukar
Benci yang merakar
Mengapa bungkam ini yang terpendar?

Padahal kau berujar tentang masa depan
Tentang Venus yang jatuh cinta pada satelitnya
Tentang ranting yang mempertahankan daunnya
Mengapa aku masih terpaut di lingkar masa?

Padahal kita sudah bersusah payah;
Memperbaiki hari-hari yang terlanjur patah

Selasa, 11 April 2017

CHAMELOT

Asap ganja ini seketika melebur ke kubah langit, menjentik angan-angan konsentrat teka-teki. Wanita itu nampak pulas tidurnya, sedang aku asyik menyimak malam. Kuhampar lagi kosakata khutbah yang merenungi sekat nadir, menjumpa senandung alir darah; dituai koneksi otak yang mulai mengkremasi ingatan. Sejenak aku membelai wanita itu kembali, membuat tubuhnya menggeliat tak karuan. Kuusap lagi setiap ruas lekuknya nan membuat terbangun dari mimpi pendek barusan. Dia tersenyum, menyambut sentuhanku. Malam ini kuhabisi dia; kugantung lehernya hingga tercekik kenikmatan. Akal sehatku yang sudah diambang kematian membuatnya binal dalam tarian malam. Dominansi wanita itu menembus kepala bagai peluru, aku kejang.
Dua jam kemudian aku luruh dalam keringat, dalam detik-detik antiklimaks yang kesandung licin tubuhnya. Wanita itu menciumku lagi, mencumbu tulang belulang milik Tuhan. Lalu kusangsikan narasi yang menjadi satu-satunya pintu keluar dari kubah berkarat ini. Tapi aku sudah terbuai oleh semilyar tubuh wanita yang bagiku seperti karya seni. Lekuk indahnya keringkan jalanan basah yang terlanjur keruh oleh hujan, dan dihujani lagi oleh ludah-ludah merah jambu. Bak aurora yang mekar di pematang sungai. Aduhai membuai.
“Aku ingin bertanya sesuatu,” ujar wanita itu setengah berbisik, serak suaranya meliuk di telinga. Kuusap mata, mencoba sadar.
“Boleh,”
“Mengapa kau tidak menanyakan namaku?” wanita itu meredup dalam bingar. Bertanya perihal sebuah nama. Aku menghela napas.
“Sebab… Aku tidak membutuhkan nama. Aku membutuhkan tubuhmu,” sahutku jujur. Beberapa detik kemudian matanya terbelalak, amarahnya sudah terdampar di ubun-ubun. Aku menerka pikirannya, narasi dalam gelak tatapannya. Bibirnya yang begitu sensual nampak kesal oleh ceceran prosa.
“Apa yang telah kita lakukan barusan? Takkah berarti dan bagai larua yang menyinggah? Kau tidak waras!” Gusarnya membuatku geli. Wanita itu terburu oleh engah udara, keseret pilar pagi buta. Kemudian dirinya bergegas, membungkus rapi tubuhnya yang dua jam lalu mudah ditanggalkan.
“Kau gila!” jeritnya menampar telinga. Lalu pergi meninggalkanku dan gulungan ganja yang masih setengah. Mati. Akupun tertawa lagi, menyudahi pagi. Kutimang guling dan lelap dalam lucunya haru. Wanita itu yang gila, bukan aku. Mengapa dia mau disetubuhi oleh koreoku? Siapa suruh dia cantik.
Sudah tiga bulan aku singgah di pulau ini, mahligai syurga yang meninabobokan birahiku. Lalu lintas tubuh para bidadari membelai semampai rangkaian keratin hasrat. Sungguh, panik aku dibuatnya. Mereka memiliki kecantikan yang berbeda, seperti bunga mawar dan rumput liar. Aroma mereka menuai kesehatan bathin. Selebihnya kubayar mereka dengan mata uang, mengingat wanita-wanita kurang edukasi itu hanya gadis pesisir yang tersangsi kedapnya lapar. Lalu haus akan perabot mahal, seperti tikus liar yang memperebutkan keju kelas eksekutif. Padahal perasaannya begitu fiktif dan munafik. Genang amarahnya dikategorikan sebagai tiket kelas bawah yang hanyut dalam rupiah. Tak sudah-sudah.
Hingga suatu malam saat aku menyusuri pesisir, ketika kutanggalkan sandal dan pujian dari dewi-dewi pulau, aku menjumpai sesuatu yang ajaib. Tubuhnya tidak seperti aurora, atau mawar, atau rumput liar. Aromanya menjuntai ranum seperti ombak laut dan istana pasir. Tatapannya bagaikan sebuah misteri, teka-teki, labirin yang tak berkesudahan. Aku dijerat oleh pipinya yang menjingga, cara berjalannya yang seakan-akan bagai gulungan ganja beserta asapnya.
“Berhenti menatapku seolah aku jaring sinar mercusuar,” tiba-tiba dia sudah berada sejengkal di jarak belantara mata. Aku terpana oleh suara. Ombak malampun menggerus metafora laksa birahi.
“Siapa namamu?” tanyaku penasaran. Dia tersenyum ricuh.
“Chamelot,” sahutnya.
“Terbuat dari apakah kau?”
“Batu pualam,”
“Apa yang sedang kau lakukan sendirian di pantai ini, selarut ini?”
“Menjaring perasaan,”
Kemudian beribu pertanyaan begitu saja terlontar. Wanita kelam itu dengan mudah menjawab semua tanpa perisai. Begitu tenang dan bersahaja, begitu rindu oleh bara, begitu terbakar menjorok dingin. Tubuhnyapun angkuh menderaku. Ingin sekali kusetubuhi pikirannya yang membuatku khawatir.
“Akui saja,” ucapnya irit. Membuyar pandanganku. “Akui bahwa kau sudah terdistorsi. Seberapa inginkah kau mencicipi aku?” lanjutnya.
“Berapa?” tanyaku mulai ragu, tarifnya mungkin akan mahal dan sepadan dengan paketan sosoknya.
“Jangan membayarku tunai dengan mata uang, yang kubutuhkan hanya satu, setuntas parameter lunas di jembatan korelasi denganmu,” sergahnya, tentu dengan tenang. Aku semakin penasaran.
“Apa itu? Sebutkan saja,” ucapku menanti.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Arya,” jawabku bergetar. “Tapi mengapa? Mengapa kau bertanya namaku?” aku panik menenun pikirannya.
“Kau menginginkan aku, bersatu dalam peluh. Menerobos sekatku dan dinding pilarku. Akupun ingin mengerang dan menyerang, tapi bagaimana bisa tanpa menyebut namamu? Sebab koneksi ini takkan rumpun tanpa nama, itu adalah inti dari menyatu,” jelasnya. Lagi-lagi Chamelot membuatku terkagum. Nyawanya yang harum menyibak sanubari, dia melata setiap jengkal kontradiksi fluktuatif sebuah gagas. Ide yang tumbang hanya dengan semalam, interpretasi yang kubangun susah payah dengan gepokan mata uang kini lenyap oleh suaranya. Begitu mudahnya dia mengobrak-abrik fraksi dan menjadikanku seperti monster.
Tapi akhirnya kita bergemelut. Chamelot tidak mendominasi, akupun. Kita seimbang bagai arah mata angin. Sesuai dengan hutang yang membara, lalu terbayar lunas. Beberapa kali kudengar erangnya menyebut namaku, seperti jeritku yang berujar namanya. Memang baru kali ini aku merasa pantas oleh tahta kelamnya, aku tenggelam oleh tubuhnya dan juga perasaannya. Batu pualam hidup seperti Chamelot begitu menumbangkan semua kebohongan. Seketika persetubuhan ini menjadi jujur, secerca harap yang melambung. Bukan cuma sekedar icip, bukan pula munafik oleh air mata. Kenikmatannya terlanjur merajam arus nadi, membuatku tersengat berkali-kali.
Sebab ada sesuatu yang merdu kala Chamelot menyebut namaku. Secarik impian yang tidak dimiliki gadis-gadis pulau yang tak perduli dengan namaku. Aku larut, sungguh sekarat. Dalam kemabukanku oleh sosoknya, kami menyudahi persetubuhan ini. Dia merebahkan tubuh telanjangnya di hamparan air laut, menari kesana kemari. Pakaiannya sudah entah kemana, begitu juga pikiranku.
“Aku harus pulang, Arya,” bisiknya, kurasakan desah napas yang terderu di telinga.
“Akankah kita berjumpa lagi?” tanyaku mulai gelisah, tidak ingin ditinggalkan.
“Suatu hari, suatu hari ketika kau merasa kebohongan yang berembun mengoyakmu, dan gagasmu yang membuat dirimu rapuh. Suatu hari, kala kudengar lagi jeritan hatimu yang ingin sekali dicintai, bukan didominasi. Suatu hari, saat kulihat lagi gegap aura kesedihan yang meliuk-liuk di udara, mengendap hingga ke dasar lautan. Suatu hari saat kau ingin pulang saja,” suaranya tiba-tiba lenyap, terssamar oleh ombak. Aku tanpa ganja; melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa jentik kakinya berubah menjadi sisip ikan. Warnanya biru muda, sisiknya seperti batu pualam yang basah oleh air keemasan. Sinarnya disambut oleh laut, rambutnya yang panjang menjuntai dan merasuk langit. Aku terpana dengan Chamelot yang berenang kesana kemari sembari tersenyum sumringah. Disambut asap-asap harapan yang melangit, hingga jatuh ke doa.
Aku tidak perduli bagaimana wujudnya, aku ingin memilikinya. Bukan hanya tubuhnya, tapi semua yang terangkai dalam sosoknya. Namun dia sudah lenyap dilahap laut, membelah air yang membara. Seketika aku sedih, baru kali ini aku merasa kehilangan. Baru kali ini aku merasa patah dan kalah. Aku bertelut dihadapan bibir pantai, berharap semua terulang lagi.

Nyatanya puteri duyung itu tak pernah kembali.

Sabtu, 04 Maret 2017

RANUM

Di lorong ini;
Menjadi jembatan sunyi kepada sekotak mimpi
Dalam ruas peluh meluruh oleh peluru
Dan kristal sisa bintang kemarin yang mengudara

Tak sampai hati;
Untuk menelusur garis lurus
Menjejal binal suara
Ke palung rupa yang menjingga

Pada akhirnya nona hanya menikmati rembulan
Yang terselip di batas jendela
Menjadi suatu pencapaian akan rindu
Yang tega terjamah waktu

Kembali meranum dalam kuningnya padi
Nun setetes embun melagu
Jadi seru
Oleh tenun keruhnya getir pilu

Bali, 04 Maret 2017

Steiner Café; kembali dalam liter cappucino.

Sabtu, 28 Januari 2017

SI TAMPAN DAN SI BURUK RUPA



            “Aku membutuhkan sebuah pelukan,” Sela Ranting sembari menyeruput segelas es coklat, matanya memandang jauh menelusuri langit. Perempuan itu sekilas tersenyum, namun tersirat getir di ujung bibirnya.
            Langit sore ini begitu memukau, namun juga terbersit kekosongan yang membiru di ambang udara. Ranting mencoba mengatur napas yang sedari tadi berantakan. Kelopak matanya seketika tumpah di antara bahari, menjamu sekat-sekat yang mencekik kerongkongan. Secarik undangan pernikahan masih mengambang dalam genggamannya. Daun, laki-laki yang juga teman karib Ranting, tiba-tiba memeluk wanita itu dengan erat, bahkan tak pernah seerat ini. Ranting diam dan menikmati, sesaat matanya terpejam; hanyut dalam pelukan.
            Kecuali masih ada hari baru, Ranting sudah berserah diri pada waktu. Setibanya dia di genangan rindu, gadis itu tersisip oleh rupa yang selalu akrab di memori otaknya. Jujur, perasaan itu menggebu nan tersimpan rapi, tak berantakan juga terkendali. Tetapi kali ini, Ranting hampir saja lupa siapa dirinya, bahkan tak tahu mengapa bumi ini terasa begitu sempit hingga sesak napasnya meraung dalam ruang kedap udara.
            Pelukan Daun pelan-pelan merenggang, jemarinya menyusuri rambut tebal Ranting, seakan mencari dimana letak otak menyinggah di kepala gadis itu. Ada isak tangis yang diam-diam membahana. Ranting bisa merasakan bumi berhenti berputar sementara waktu berlari begitu terpal. Daun ingin menenangkan tangis Ranting yang begitu hampa, namun dibiarkannya air mata itu tumpah, ditempa serpih-serpih kenangan yang mengkristal.
            “Terima kasih telah memelukku,” bisik Ranting kepada Daun, walau sebenarnya pelukan itu tidak mengobati. Namun dirinya hendak mengapresiasi Daun yang bersedia meminjamkan tubuh untuk direbahkan padanya.
            ”Kau akan terkejut hingga jungkir balik dirimu; menemukan kehidupan yang baru setelah ini. Demi Tuhan, Ranting, beranilah pada diri sendiri. Demi Tuhan, lepaskanlah,” sergah Daun yang ternyata tetap terasa sepah di telinga Ranting.
            “Aku membutuhkan lebih banyak pelukan,” ucapnya lirih.

            Ranting tenggelam dalam dunia gelap yang benar-benar baru baginya. Lalu lalang banyaknya jumlah laki-laki yang menyergap tubuhnya, menyerbu mahkotanya. Pelukan dari sekian banyak laki-laki itu belum bisa mengobati luka dan keterpurukan yang begitu mendalam. Berpuluh-puluh malam dilalui oleh peluh-peluh bertabur erangan. Pelukan yang dia maksud, tak dapat ditemukan di antara sederet laki-laki itu. Kemudian Ranting jengah, bukan main kalang kabut oleh kesedihan yang bertubi-tubi menusuknya tiap malam.
            Diraih kembali undangan pernikahan yang tinggal seminggu lagi digelar. Ranting membenarkan dalam hati bahwa waktu begitu larut dalam kecepatan semu. Rupa itu sungguh nyata, sungguh menyesatkan. Ada sepasang nama yang tertulis di undangan itu, nama yang terlalu rumit untuk diucap. Nama yang begitu menyengat pagi dan hari-hari suram; “Bara & Sephia”.
            Seperti namanya, Bara. Laki-laki yang bernama bara itu kerap membakar hangus jantung dan nadi, merobek hingga berapi rongga Ranting. Manakala jiwa Ranting bersenyawa temaram, sedang gigil menyetubuhi tulang rusuk yang beku oleh waktu. Bara adalah satu-satunya orang yang dicintai Ranting, cinta pertama dan kemungkinan terbesar juga cinta terakhir. Hari demi hari dilewati Bara dan Ranting dengan indahnya, seindah burung gereja menyanyikan lelagu untuk senja kepada padi yang kuning meranum. Bahkan, setia itu begitu mudah bagi Ranting, seperti merajut syal musim dingin; berdebar oleh degup yang sama berulang kali.
            Tiba-tiba muncul Sephia, wanita cantik jelmaan bidadari langit dengan aduhai rupanya yang begitu membelai. Jika hari Rabu adalah hari yang biasanya Bara dan Ranting menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan kota, maka kini diganti dengan Bara dan Sephia menghabiskan waktu menonton film di bioskop. Ranting tersingkirkan, tapi dia tetap berani bergumul dengan pemikiran ulung.
            “Mungkin Bara bosan membaca,” ucap Ranting suatu waktu pada Daun yang tengah menghabiskan sore di sebuah kedai kopi pinggir kota, sedang hujan turun tak ada ampun mengguyur semampai jalan.
            “Atau mungkin Bara bosan denganmu,” Daun menimpali. Ranting menggeleng mantap. “Tidak mungkin,” ujarnya.
            “Aku sudah memperlihatkan dunia yang benar-benar berbeda, aku berdiskusi tentang alam semesta beserta segala misterinya. Aku sudah menunjuk satu bintang yang bersinar paling terang di bulan Febuari. Aku sering berceloteh tentang cerita-cerita hewan buas di tengah hutan. Bara tak dapat menyingkirkan bola mata yang menghujam persendianku,” sergah Ranting mulai gusar.
            “Lalu datanglah dewi langit yang menawarkan cerita sesungguhnya, yang bukan hanya sekedar cerita, tapi sesuatu yang benar-benar terlibat di dalamnya,” sahut Daun.
            “Tidak,”
            “Mengapa tidak?”
            “Sebab Sephia tidak tahu betapa indahnya nyanyian mercusuar malam. Sephia tidak pernah mendongeng serba-serbi keajaiban laut, tahu apa dia tentang alam semesta?” getir tersulam dari bibir Ranting, mengeluarkan getar-getar semu dalam nada suaranya. Bara menghela napas.
            “Maka, karena ketidaktahuannya itu, Sephia mengajak Bara untuk terjun langsung, menyesat dalam peristiwa. Tak kah kau lihat itu, Ranting?”
            Sejak perbincangan keji dengan Daun sore itu, Ranting tidak lagi mempertanyakan Bara dan Sephia. Ranting berdiam dalam balutan kata-kata terjeruji di batas lidahnya. Ranting memutuskan untuk lebih banyak melihat, dari pada berbicara. Kini tak ada lagi Bara di hari Rabu menemani Ranting membaca, selorok rak buku terasa kosong melompong oleh hampa yang terhapus begitu saja. Perpustakaan berubah menjadi kastil yang suram dan mencekam. Tak ada lagi dongeng-dongeng tengah malam yang meninabobokan telinga Bara, sudah lenyap dimakan api.
            Ranting menyadari bahwa dirinya adalah si buruk rupa yang mengelabuhi cantiknya imajinasi. Imajinasi yang kerap disuguhkan untuk Bara sebagai penenun senja, kini hanyalah secarik cerita-cerita bohong dan pahit untuk didengar kembali.
           
            Tibalah hari ini yang merupakan hari pernikahan  Bara dan Sephia. Ranting menghadiahkan sebuah buku yang ditulisnya sendiri tentang cerita dekonstruksi dari dongeng Beauty and the Beast, yang sekilas ranum untuk dibaca, sesaat dia percaya bahwa Bara akan bahagia menerima buku cerita itu, namun kenyataannya buku itu sudah berubah menjadi lintah yang mengerak dan menggerogoti paru.
            “Kau masih membutuhkan pelukan?” bubuh Daun di antara kerumun manusia yang menghadiri pesta pernikahan Bara dan Sephia. Kemudian Daun memeluk tubuh Ranting yang berbalut gaun berwarna biru tua. Ranting menyambut pelukan itu dengan riang gembira, tapi lagi-lagi pelukan ini terasa salah.
            Ada sebilah peluru yang menjuntai dan menyerbu dada Ranting ketika dirinya menyalami Sephia. Wanita jelmaan bidadari itu dijamah gaun pengantin berwarna putih dengan mahkota yang bertengger di atas kepalanya. Senyumnya begitu menggebu atas kemenangan yang bertabur di antara megahnya pesta. Alunan mini orchestra yang mengalun lembut seakan membuai para tamu, namun tidak bagi Ranting, baginya alunan itu seperti musik kematian yang menghantarkan ke gerbang neraka.
            Kemudian Ranting menyalami Bara dengan seutas senyum keikhlasan.
            “Sudikah kau kiranya memelukku?” bisik Ranting pada Bara.
            “Tentu saja!” balas pria itu dengan merentangkan kedua tangan, menyerahkan segenap tubuh untuk sebuah pelukan; pelukan untuk Ranting. Ranting sumringah dan berbinar sergap menyerbu tubuh Bara, mendekapnya seerat mungkin.
            Dan kali ini, pelukan itu terasa benar. Terasa bersahaja hingga menggenggam jantung hati. Ranting tenggelam dalam hanyut pelukan Bara, tubuhnya tak lagi menggigil sebab pelukan Bara adalah pelukan yang selama ini dia maksud. Pelukan yang dapat mengobati luka dan segala kepatahan.
           
            Ranting pulang ke apartmentnya yang terasa kosong. Dia merasa sudah menjadi pemberani nomer satu di dunia. Pemberani yang tak pantang kalah di medan perang. Kemudian Ranting menanggalkan gaun biru tua dan melangkah gontai memasuki kamar. Setelahnya dia juga menanggalkan pakaian dalamnya sehingga kini tubuh gadis itu tak disentuh oleh selarik benangpun.

            Lalu Ranting meraih sebilah pisau di meja kerja yang biasa dipakai untuk mengiris buah apel setiap pagi. Ranting memejamkan mata sembari menyayat lehernya. Dalam detik-detik terakhir tarikan napasnya, Ranting merasa sudah berdamai dengan waktu dan masa lalu, juga dengan pelukan erat yang dia maksud. Gadis buruk rupa itu akhirnya terlepas dari kesedihan panjang.

Jumat, 30 Desember 2016

BAIK HATI

"Lengkung vertikal yang tersirat di bibirmu
Menafsirkan sesuatu yang ajaib
Yang seakan ditempa bencana..."
Katamu

Pernah kau gagas rumah yang megah
Dengan balkon kayu emas
Dan ada aku di sana
Pernah pula kau ranggas sore
Bersama secangkir coklat panas
Yang tiba-tiba saja aku tumpahkan ke wajahmu

Tapi, coba pahami; sebaris tanda semesta
Bahwa aku mencintaimu tanpa ampun
Bahwa ada waktu yang sudah berbaik hati
Menunggu rindu di antara relung berkabut

Pun, kosakata yang aku terjemahkan
Berupa prosa pahit yang kau telan mentah-mentah
Apakah aku terlalu keras menikammu?
Hingga hati takluk tak tersurut
Oleh hujan di semampai malam

Kau sampaikan lewat doa; berlutut di hadapan bumi
Adalah namaku yang tersumbat di kerongkongan
Berkali-kali kau jerat rindu
Berkali-kali juga kuhempaskan ke bumi terjauh

Tapi, sayang...
Masih tersimpan rapat-rapat sosokmu di belantara mataku
Ketika ku ikhlaskan sosok itu