Senin, 17 Juli 2017

SENJA, NAMANYA



            Aku membanting jas kerjaku, menghampar berlembar-lembar kertas di atas meja bar. Segala kelu dan hingar bingar kalkulasi mulai meluruh lewat alunan musik, menyalak, membakar rongga; hingga kalut sempat tersamar, hingga kenyamanan melilit tubuh dan pikiran.
            Seorang bartender menghampiri, mencungkil bingkai senyum yang entah. Aku memesan satu gelas red wine Chille tahun 2009. Berharap asam anggur itu membuatku lupa diri. Namun entah bagaimana, pikiranku diurut kerontang kubah lampu bar. Kelaparan hati ini, terjambak sesuatu yang gegap.
            “Malam ini kami kedatangan penyanyi Jazz baru, masih kolot dengan pesta pora,” sergah si bartender sembari mengusap gelas yang sudah kinclong dari sananya. Aku melenguh, tidak perduli. “Namanya Senja,” lanjutnya lagi. Pandanganku yang temaram oleh asap rokok melambung hingga ke langit. “Bagus namanya,” ucapku seadanya. Bartender itu masih penasaran dengan gusarku.
            “Aku bisa mengenalkan kau dengan banyak wanita di sini, tapi nampaknya ketidaktertarikanmu sudah geming melalui sesap anggur acap malam,” timpal si bartender. Aku tertawa kekeh, mengingat semua masalah hidup yang ingin aku buang begitu saja lewat alir-alir deras air anggur ini, masuk tertenggak ke dalam kerongkongan dan berakhir luruh menjelma urin.
            Teringat lagi sesuatu yang mencekat napasku; pekerjaanku, keluargaku dan diriku. Bilamana orang menganggap kesuksesan ini adalah suatu anugerah, tapi tidak untukku. Puan neraka sudah mengepung, nyatanya memiliki orang tua yang punya segalanya adalah penjara, sedang aku tersangka yang menunggu waktuku habis di ruang pasung. Aku penat bukan kepalang mengingat aku merupakan direktur perusahaan milik orang tuaku sendiri. Bak ditelanjangi oleh puntung-puntung pelangi yang hina, pasrah akan masa depan. Belum lagi perjodohan konyol yang telah diatur seperti drama-drama Korea. Sungguh memuakkan.
            “Kuharap kau terperangah,” suara bartender itu membuyarkan perjalanan lamunku, seiring dengan sorot lampu dan megah tepuk tangan mengambang di udara. Seorang perempuan cantik dengan balutan gaun hitam dan sepatu hak tinggi yang bertengger di kakinya berjalan anggun memasuki arena bertarung. Perempuan itu tersenyum ke semua pengunjung bar. Bibir tebalnya dipoles lipstik merah meriah membuat para lelaki di sini terpana, tak terkecuali aku. Alunan musik mendawai pelan, mengiring semua penat yang muntah di lantai dansa. Perempuan itu menyanyikan lagu pembuka, sebuah lagu favoritku, All The Things You Are. Gerak tubuhnya aduhai menghipnotis mata, suara trumpet menggelegar di seluruh ruangan. Aku melongo, diam-diam memuja penampilannya di atas panggung.
            Satu jam, dua jam, tak henti musik indah itu mengalun. Perlahan getir ini tercecer di ambang malam. Senja, namanya. Senja, sukses meninabobokan semua makhluk di sini, termasuk aku. Anggur merah ini sudah menjelma menjadi aku. Gelaspun bungkam di telan suara emasnya. Hingga lupa, kuncup racun di kelopak mata menyebar ke paru. Aku sekarat oleh keindahannya, mabuk dan tersesat.
            Hingga tak sadar Senja sudah berdiri di sampingku, masih dengan balutan gaun hitam dan sedikit berpeluh. Matanya menelusur jantungku, degup yang tak seimbang dengan ketuk metronom. “Kau,” ucapnya pelan, dan suara itu terbang ke ubun-ubun. Bak partitur yang menjemput telinga. Melahap birahi.
            “Ada apa gerangan?” aku berusaha menenangkan detak jantung liar ini.
            “Senja, namaku,” perempuan itu mengulurkan tangan mungilnya. Aku membalas sekenanya. “Aku tahu,” sahutku.
            “Bagaimana?”
            “Pria penyaji minuman itu yang memberitahu perihal namamu,” aku menimpali. Wajahnya berubah sumringah. Bangga dengan manis eksistensi, peretas malu.
            “Aku Keenan,” ucapku setengah berbisik, berharap dia tidak mendengar. Namun sorot matanya seolah menanggapi. “Keenan!” rupanya girang. Gerak tubuhnya mulai membuai.
            “Keenan, kau ingin mendengar ceritaku?” bias parasnya mendentum lampu-lampu picik, aku bagai tersengat semilyar pujangga petir. Aku mendengus, aku ingin sekali tidak peduli dengannya, tapi jinjit hati ini merengek minta ditorehkan hasrat sembabku.
            “Jika ingin bercerita, berceritalah. Asal jangan perbincangan tentang mimpi, sebab mimpi itu buta. Kabutnya menyesatkanmu, disihir oleh kabut-kabut masa depan,” ucapku. Senja mengangguk pelan, seakan mengerti maksudku.
            “Aku tidak ingin bercerita tentang mimpi, aku hanya ingin bercerita tentang diriku. Betapa menyeramkan aku ini, sesosok wanita yang mencari-cari alasan, mengerucut keingintahuan. Betapa mengerikan diriku, sang penjelajah rahasia. Aku, Senja, tapi pernahkah kau menyadari bahwa aku tak semenarik senja?”
            “Tergantung,” gusarku. “Tergantung pada apa yang menjadi tolak ukurmu. Apa yang menjadi gelora konsekuensimu. Apakah sesuai? Setimpal dengan ombang-ambing kapal yang terjerat di samudera hati? Bukankah hidup sudah mengerikan? Kebahagiaan hancur menaklukan? Kerlip binal sinar kota yang memabukkan? Kemudian suara erang tengah malam lebur menakutkan?” perbincangan ini mulai menggugah selera, kusesap lagi anggur asam si pelipur malam. Raut wajah Senja berubah sayu, memandangi ceceran gelas yang tersungkur oleh kelam.
            “Sesimpul keingintahuan untuk dicintai. Cinta yang berbalas tanpa menyesap konsekuensi,” lamun Senja melambung ke udara, dicerca debu-debu gempita. Sendunya terendus asap warna-warni, meriah oleh luka. Tapi senyum itu sempat terukir di bibirnya.
            “Puan rahasia mana yang menjebak untuk dibongkar, Senja?”
            “Rahasia yang terlalu tua dan bungkam, kemudian mati tak bereinkarnasi,” sesalnya, melalui tumbang tatap yang ranum.
            “Maukah kau berbagi keingintahuanmu?” pintaku, tanpa sadar tanganku sudah menggenggam jemari gentarnya. “Maukah kau menempa jeritmu sejenak untuk kutuai dalam liter anggur ini?” aku menambahkan, wajahnya semakin layu.
            “Pun sampai sekarang aku tak berpengetahuan, aku buta aksara cara mencintai dengan janji, tanpa khawatir dicelakai,” Senja mendongakkan kepala untuk menjemput pandanganku yang terkoneksi matanya, tapi alur tatap itu sudah layu sebelum mekar. “Senja, namaku, tak serona waktu senja. Aku, adalah senja yang meringis di bualan semesta, dituntut jelma hati yang jamak, tak jua henti dalam kurun waktu yang lengah,” genggaman jemarinya semakin mengerat, ia melanjutkan cercanya lagi, “dan kau, Keenan, suamiku, kau tanam rahasiamu di hadapan bola mataku,” gusarku semakin menjalar. Penasaran naskah selanjutnya.
            “Aku menjelajahi waktu untuk menyeimbangi rahasiamu. Rahasia yang menjadi alasan mengapa tak jua kau mencintai aku; perempuan masa depanmu. Kemudian melalui pendapat konyolmu tentang perjodohan kita, menjadikanmu tentara pembenci. Seakan kau adalah mesin yang diatur oleh sistem, menjalankan kehidupan yang membuatmu mati rasa,” kembali perempuan itu larut dalam nanar kelamnya, menjemput gelagat rasio penyeimbang yang terlanjur berantakan. Aku mendengus, kesal, tak mengerti segala imbuhan, namun anehnya jantung ini semakin menyalak seiring kontradiksi luap emosi, terkemas rapi dan tak bisu oleh waktu.
            “Jadi kau istriku dari masa depan, yang mempertanyakan mengapa aku membencimu?” aku membenahi pengetahuanku walau tetap tak paham oleh jalur kenyataan.
            “Gilanya aku ingin kau mempercayaiku kali ini, Keenan. Mempercayai penjelajah sepertiku, yang menyia-nyiakan masa depannya demi bersamamu malam ini. Menciptakan perbincangan hangat yang tak pernah kudapat darimu,” Senja mengimbuhi melalui nadir-nadir racik syahdunya.
            “Akankah semua berubah di masa depan jika kau kembali?” redup mata Senja mengatup, kepada letih ia mengangguk. “Kembalilah, aku di masa depan pasti tengah menunggumu di sudut pintu,” tanganku mengendurkan genggam jemarinya. Diam-diam memuja keberaniannya.
            Lalu Senja pamit dan kami sempat berpelukan sejenak. Beberapa menit kemudian dia menyesap hilang di lini masa, tanpa tertinggal jejak-jejak aromanya. Bar ini seperti kehilangan penyanyi terbaik, para pengunjungpun tertawa seperti sedia kala.
            Jika benar Senja adalah wanita yang akan dijodohkan denganku nanti dan situasi yang membuatku membencinya, setidaknya, perasaan Senja sempat berbalas malam ini. Malam yang menyambungkan dua hati pada kesederhanaan jatuh cinta dalam letih. Akupun sadar bahwa semua tindakan diguncang oleh konsekuensi, seperti si penjelajah waktu yang menelan mentahan takdir dan menyusup ke masa lalu. Resiko itu terlalu berat, bisa saja aku menganggapnya sedang melindur. Nyatanya aku mempercayainya lebih dari kepercayaanku terhadap hidupku sendiri.
            Dua bulan kemudian kami dipertemukan melalui perjodohan yang aku nanti-nantikan semenjak perbincangan yang terjadi di bar malam itu. Yang menjadi perbedaan; aku jatuh cinta padanya, sedang dia tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar