“Gigit bibir jelita,
menampar kalkulasi buta
Tatkala adinda tak
sempat kuasai mimpi
Direbus pipimu oleh
sepi
Mampus kau buah jelita
Dirajam api gunung atas
puing kelana,”
Sadur sang pujangga konservatif
Menunggu untuk diredupkan aduhai kelopak mata
Kembali dalam pallet wewarna
Dan wewangi;
Akan seduh jirab-jirab sang jelita
Mengusung niat yang palsunya sehakiki
Hati;
Sungguh damai selubung pagi
Sembah sujud dentum narasi
Detak jantung tabulasi
Nun meletup-letup digoncang tongkat ibu peri
“Bilamana,” sergah
pujangga beringas
“…kau jelita goyah
sendiri
Biar saja aku yang
mati,”
Lanjut pujangga, raba konstruksi diri
Menyublim satu milyar nota-nota harga
Menebus dosa adinda jelita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar