“Aku membutuhkan sebuah pelukan,” Sela Ranting sembari
menyeruput segelas es coklat, matanya memandang jauh menelusuri langit. Perempuan itu
sekilas tersenyum, namun tersirat getir di ujung bibirnya.
Langit sore ini begitu memukau, namun juga terbersit
kekosongan yang membiru di ambang udara. Ranting mencoba mengatur napas yang
sedari tadi berantakan. Kelopak matanya seketika tumpah di antara bahari,
menjamu sekat-sekat yang mencekik kerongkongan. Secarik undangan pernikahan masih
mengambang dalam genggamannya. Daun, laki-laki yang juga teman karib Ranting, tiba-tiba
memeluk wanita itu dengan erat, bahkan tak pernah seerat ini. Ranting diam dan
menikmati, sesaat matanya terpejam; hanyut dalam pelukan.
Kecuali masih ada hari baru, Ranting sudah berserah diri
pada waktu. Setibanya dia di genangan rindu, gadis itu tersisip oleh rupa yang
selalu akrab di memori otaknya. Jujur, perasaan itu menggebu nan tersimpan
rapi, tak berantakan juga terkendali. Tetapi kali ini, Ranting hampir saja lupa
siapa dirinya, bahkan tak tahu mengapa bumi ini terasa begitu sempit hingga sesak napasnya
meraung dalam ruang kedap udara.
Pelukan Daun pelan-pelan merenggang, jemarinya menyusuri
rambut tebal Ranting, seakan mencari dimana letak otak menyinggah di kepala
gadis itu. Ada isak tangis yang diam-diam membahana. Ranting bisa merasakan
bumi berhenti berputar sementara waktu berlari begitu terpal. Daun ingin
menenangkan tangis Ranting yang begitu hampa, namun dibiarkannya air mata itu
tumpah, ditempa serpih-serpih kenangan yang mengkristal.
“Terima kasih telah memelukku,” bisik Ranting kepada
Daun, walau sebenarnya pelukan itu tidak mengobati. Namun dirinya hendak
mengapresiasi Daun yang bersedia meminjamkan tubuh untuk direbahkan padanya.
”Kau akan terkejut hingga jungkir balik dirimu; menemukan
kehidupan yang baru setelah ini. Demi Tuhan, Ranting, beranilah pada diri
sendiri. Demi Tuhan, lepaskanlah,” sergah Daun yang ternyata tetap terasa sepah
di telinga Ranting.
“Aku membutuhkan lebih banyak pelukan,” ucapnya lirih.
Ranting tenggelam dalam dunia gelap yang benar-benar baru
baginya. Lalu lalang banyaknya jumlah laki-laki yang menyergap tubuhnya,
menyerbu mahkotanya. Pelukan dari sekian banyak laki-laki itu belum bisa
mengobati luka dan keterpurukan yang begitu mendalam. Berpuluh-puluh malam
dilalui oleh peluh-peluh bertabur erangan. Pelukan yang dia maksud, tak dapat
ditemukan di antara sederet laki-laki itu. Kemudian Ranting jengah, bukan main
kalang kabut oleh kesedihan yang bertubi-tubi menusuknya tiap malam.
Diraih kembali undangan pernikahan yang tinggal seminggu
lagi digelar. Ranting membenarkan dalam hati bahwa waktu begitu larut dalam
kecepatan semu. Rupa itu sungguh nyata, sungguh menyesatkan. Ada sepasang nama
yang tertulis di undangan itu, nama yang terlalu rumit untuk diucap. Nama yang
begitu menyengat pagi dan hari-hari suram; “Bara
& Sephia”.
Seperti namanya, Bara. Laki-laki yang bernama bara itu
kerap membakar hangus jantung dan nadi, merobek hingga berapi rongga Ranting. Manakala
jiwa Ranting bersenyawa temaram, sedang gigil menyetubuhi tulang rusuk yang
beku oleh waktu. Bara adalah satu-satunya orang yang dicintai Ranting, cinta
pertama dan kemungkinan terbesar juga cinta terakhir. Hari demi hari dilewati
Bara dan Ranting dengan indahnya, seindah burung gereja menyanyikan lelagu
untuk senja kepada padi yang kuning meranum. Bahkan, setia itu begitu mudah bagi
Ranting, seperti merajut syal musim dingin; berdebar oleh degup yang sama berulang
kali.
Tiba-tiba muncul Sephia, wanita cantik jelmaan bidadari
langit dengan aduhai rupanya yang begitu membelai. Jika hari Rabu adalah hari yang
biasanya Bara dan Ranting menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan
kota, maka kini diganti dengan Bara dan Sephia menghabiskan waktu menonton film
di bioskop. Ranting tersingkirkan, tapi dia tetap berani bergumul dengan
pemikiran ulung.
“Mungkin Bara bosan membaca,” ucap Ranting suatu waktu pada
Daun yang tengah menghabiskan sore di sebuah kedai kopi pinggir kota, sedang hujan turun tak ada ampun mengguyur semampai jalan.
“Atau mungkin Bara bosan denganmu,” Daun menimpali. Ranting
menggeleng mantap. “Tidak mungkin,” ujarnya.
“Aku sudah memperlihatkan dunia yang benar-benar berbeda,
aku berdiskusi tentang alam semesta beserta segala misterinya. Aku sudah
menunjuk satu bintang yang bersinar paling terang di bulan Febuari. Aku sering
berceloteh tentang cerita-cerita hewan buas di tengah hutan. Bara tak dapat
menyingkirkan bola mata yang menghujam persendianku,” sergah Ranting mulai
gusar.
“Lalu datanglah dewi langit yang menawarkan cerita
sesungguhnya, yang bukan hanya sekedar cerita, tapi sesuatu yang benar-benar
terlibat di dalamnya,” sahut Daun.
“Tidak,”
“Mengapa tidak?”
“Sebab Sephia tidak tahu betapa indahnya nyanyian
mercusuar malam. Sephia tidak pernah mendongeng serba-serbi keajaiban laut,
tahu apa dia tentang alam semesta?” getir tersulam dari bibir Ranting,
mengeluarkan getar-getar semu dalam nada suaranya. Bara menghela napas.
“Maka, karena ketidaktahuannya itu, Sephia mengajak Bara
untuk terjun langsung, menyesat dalam peristiwa. Tak kah kau lihat itu,
Ranting?”
Sejak perbincangan keji dengan Daun sore itu, Ranting
tidak lagi mempertanyakan Bara dan Sephia. Ranting berdiam dalam balutan
kata-kata terjeruji di batas lidahnya. Ranting memutuskan untuk lebih banyak
melihat, dari pada berbicara. Kini tak ada lagi Bara di hari Rabu menemani
Ranting membaca, selorok rak buku terasa kosong melompong oleh hampa yang
terhapus begitu saja. Perpustakaan berubah menjadi kastil yang suram dan mencekam. Tak ada lagi
dongeng-dongeng tengah malam yang meninabobokan telinga Bara, sudah lenyap
dimakan api.
Ranting menyadari bahwa dirinya adalah si buruk rupa yang
mengelabuhi cantiknya imajinasi. Imajinasi yang kerap disuguhkan untuk Bara
sebagai penenun senja, kini hanyalah secarik cerita-cerita bohong dan pahit
untuk didengar kembali.
Tibalah hari ini yang merupakan hari pernikahan Bara dan Sephia. Ranting menghadiahkan sebuah
buku yang ditulisnya sendiri tentang cerita dekonstruksi dari dongeng Beauty and the Beast, yang sekilas ranum untuk
dibaca, sesaat dia percaya bahwa Bara akan bahagia menerima buku cerita itu,
namun kenyataannya buku itu sudah berubah menjadi lintah yang mengerak dan
menggerogoti paru.
“Kau masih membutuhkan pelukan?” bubuh Daun di antara
kerumun manusia yang menghadiri pesta pernikahan Bara dan Sephia. Kemudian Daun
memeluk tubuh Ranting yang berbalut gaun berwarna biru tua. Ranting menyambut
pelukan itu dengan riang gembira, tapi lagi-lagi pelukan ini terasa salah.
Ada sebilah peluru yang menjuntai dan menyerbu dada
Ranting ketika dirinya menyalami Sephia. Wanita jelmaan bidadari itu dijamah
gaun pengantin berwarna putih dengan mahkota yang bertengger di atas kepalanya.
Senyumnya begitu menggebu atas kemenangan yang bertabur di antara megahnya
pesta. Alunan mini orchestra yang mengalun lembut seakan membuai para tamu,
namun tidak bagi Ranting, baginya alunan itu seperti musik kematian yang
menghantarkan ke gerbang neraka.
Kemudian Ranting menyalami Bara dengan seutas senyum
keikhlasan.
“Sudikah kau kiranya memelukku?” bisik Ranting pada Bara.
“Tentu saja!” balas pria itu dengan merentangkan kedua
tangan, menyerahkan segenap tubuh untuk sebuah pelukan; pelukan untuk Ranting. Ranting
sumringah dan berbinar sergap menyerbu tubuh Bara, mendekapnya seerat mungkin.
Dan kali ini, pelukan itu terasa benar. Terasa bersahaja
hingga menggenggam jantung hati. Ranting tenggelam dalam hanyut pelukan Bara,
tubuhnya tak lagi menggigil sebab pelukan Bara adalah pelukan yang selama ini
dia maksud. Pelukan yang dapat mengobati luka dan segala kepatahan.
Ranting pulang ke apartmentnya yang terasa kosong. Dia merasa
sudah menjadi pemberani nomer satu di dunia. Pemberani yang tak pantang kalah
di medan perang. Kemudian Ranting menanggalkan gaun biru tua dan melangkah
gontai memasuki kamar. Setelahnya dia juga menanggalkan pakaian dalamnya
sehingga kini tubuh gadis itu tak disentuh oleh selarik benangpun.
Lalu Ranting meraih sebilah pisau di meja kerja yang
biasa dipakai untuk mengiris buah apel setiap pagi. Ranting memejamkan mata
sembari menyayat lehernya. Dalam detik-detik terakhir tarikan napasnya, Ranting
merasa sudah berdamai dengan waktu dan masa lalu, juga dengan pelukan erat yang
dia maksud. Gadis buruk rupa itu akhirnya terlepas dari kesedihan panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar