Sabtu, 28 Januari 2017

SI TAMPAN DAN SI BURUK RUPA



            “Aku membutuhkan sebuah pelukan,” Sela Ranting sembari menyeruput segelas es coklat, matanya memandang jauh menelusuri langit. Perempuan itu sekilas tersenyum, namun tersirat getir di ujung bibirnya.
            Langit sore ini begitu memukau, namun juga terbersit kekosongan yang membiru di ambang udara. Ranting mencoba mengatur napas yang sedari tadi berantakan. Kelopak matanya seketika tumpah di antara bahari, menjamu sekat-sekat yang mencekik kerongkongan. Secarik undangan pernikahan masih mengambang dalam genggamannya. Daun, laki-laki yang juga teman karib Ranting, tiba-tiba memeluk wanita itu dengan erat, bahkan tak pernah seerat ini. Ranting diam dan menikmati, sesaat matanya terpejam; hanyut dalam pelukan.
            Kecuali masih ada hari baru, Ranting sudah berserah diri pada waktu. Setibanya dia di genangan rindu, gadis itu tersisip oleh rupa yang selalu akrab di memori otaknya. Jujur, perasaan itu menggebu nan tersimpan rapi, tak berantakan juga terkendali. Tetapi kali ini, Ranting hampir saja lupa siapa dirinya, bahkan tak tahu mengapa bumi ini terasa begitu sempit hingga sesak napasnya meraung dalam ruang kedap udara.
            Pelukan Daun pelan-pelan merenggang, jemarinya menyusuri rambut tebal Ranting, seakan mencari dimana letak otak menyinggah di kepala gadis itu. Ada isak tangis yang diam-diam membahana. Ranting bisa merasakan bumi berhenti berputar sementara waktu berlari begitu terpal. Daun ingin menenangkan tangis Ranting yang begitu hampa, namun dibiarkannya air mata itu tumpah, ditempa serpih-serpih kenangan yang mengkristal.
            “Terima kasih telah memelukku,” bisik Ranting kepada Daun, walau sebenarnya pelukan itu tidak mengobati. Namun dirinya hendak mengapresiasi Daun yang bersedia meminjamkan tubuh untuk direbahkan padanya.
            ”Kau akan terkejut hingga jungkir balik dirimu; menemukan kehidupan yang baru setelah ini. Demi Tuhan, Ranting, beranilah pada diri sendiri. Demi Tuhan, lepaskanlah,” sergah Daun yang ternyata tetap terasa sepah di telinga Ranting.
            “Aku membutuhkan lebih banyak pelukan,” ucapnya lirih.

            Ranting tenggelam dalam dunia gelap yang benar-benar baru baginya. Lalu lalang banyaknya jumlah laki-laki yang menyergap tubuhnya, menyerbu mahkotanya. Pelukan dari sekian banyak laki-laki itu belum bisa mengobati luka dan keterpurukan yang begitu mendalam. Berpuluh-puluh malam dilalui oleh peluh-peluh bertabur erangan. Pelukan yang dia maksud, tak dapat ditemukan di antara sederet laki-laki itu. Kemudian Ranting jengah, bukan main kalang kabut oleh kesedihan yang bertubi-tubi menusuknya tiap malam.
            Diraih kembali undangan pernikahan yang tinggal seminggu lagi digelar. Ranting membenarkan dalam hati bahwa waktu begitu larut dalam kecepatan semu. Rupa itu sungguh nyata, sungguh menyesatkan. Ada sepasang nama yang tertulis di undangan itu, nama yang terlalu rumit untuk diucap. Nama yang begitu menyengat pagi dan hari-hari suram; “Bara & Sephia”.
            Seperti namanya, Bara. Laki-laki yang bernama bara itu kerap membakar hangus jantung dan nadi, merobek hingga berapi rongga Ranting. Manakala jiwa Ranting bersenyawa temaram, sedang gigil menyetubuhi tulang rusuk yang beku oleh waktu. Bara adalah satu-satunya orang yang dicintai Ranting, cinta pertama dan kemungkinan terbesar juga cinta terakhir. Hari demi hari dilewati Bara dan Ranting dengan indahnya, seindah burung gereja menyanyikan lelagu untuk senja kepada padi yang kuning meranum. Bahkan, setia itu begitu mudah bagi Ranting, seperti merajut syal musim dingin; berdebar oleh degup yang sama berulang kali.
            Tiba-tiba muncul Sephia, wanita cantik jelmaan bidadari langit dengan aduhai rupanya yang begitu membelai. Jika hari Rabu adalah hari yang biasanya Bara dan Ranting menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan kota, maka kini diganti dengan Bara dan Sephia menghabiskan waktu menonton film di bioskop. Ranting tersingkirkan, tapi dia tetap berani bergumul dengan pemikiran ulung.
            “Mungkin Bara bosan membaca,” ucap Ranting suatu waktu pada Daun yang tengah menghabiskan sore di sebuah kedai kopi pinggir kota, sedang hujan turun tak ada ampun mengguyur semampai jalan.
            “Atau mungkin Bara bosan denganmu,” Daun menimpali. Ranting menggeleng mantap. “Tidak mungkin,” ujarnya.
            “Aku sudah memperlihatkan dunia yang benar-benar berbeda, aku berdiskusi tentang alam semesta beserta segala misterinya. Aku sudah menunjuk satu bintang yang bersinar paling terang di bulan Febuari. Aku sering berceloteh tentang cerita-cerita hewan buas di tengah hutan. Bara tak dapat menyingkirkan bola mata yang menghujam persendianku,” sergah Ranting mulai gusar.
            “Lalu datanglah dewi langit yang menawarkan cerita sesungguhnya, yang bukan hanya sekedar cerita, tapi sesuatu yang benar-benar terlibat di dalamnya,” sahut Daun.
            “Tidak,”
            “Mengapa tidak?”
            “Sebab Sephia tidak tahu betapa indahnya nyanyian mercusuar malam. Sephia tidak pernah mendongeng serba-serbi keajaiban laut, tahu apa dia tentang alam semesta?” getir tersulam dari bibir Ranting, mengeluarkan getar-getar semu dalam nada suaranya. Bara menghela napas.
            “Maka, karena ketidaktahuannya itu, Sephia mengajak Bara untuk terjun langsung, menyesat dalam peristiwa. Tak kah kau lihat itu, Ranting?”
            Sejak perbincangan keji dengan Daun sore itu, Ranting tidak lagi mempertanyakan Bara dan Sephia. Ranting berdiam dalam balutan kata-kata terjeruji di batas lidahnya. Ranting memutuskan untuk lebih banyak melihat, dari pada berbicara. Kini tak ada lagi Bara di hari Rabu menemani Ranting membaca, selorok rak buku terasa kosong melompong oleh hampa yang terhapus begitu saja. Perpustakaan berubah menjadi kastil yang suram dan mencekam. Tak ada lagi dongeng-dongeng tengah malam yang meninabobokan telinga Bara, sudah lenyap dimakan api.
            Ranting menyadari bahwa dirinya adalah si buruk rupa yang mengelabuhi cantiknya imajinasi. Imajinasi yang kerap disuguhkan untuk Bara sebagai penenun senja, kini hanyalah secarik cerita-cerita bohong dan pahit untuk didengar kembali.
           
            Tibalah hari ini yang merupakan hari pernikahan  Bara dan Sephia. Ranting menghadiahkan sebuah buku yang ditulisnya sendiri tentang cerita dekonstruksi dari dongeng Beauty and the Beast, yang sekilas ranum untuk dibaca, sesaat dia percaya bahwa Bara akan bahagia menerima buku cerita itu, namun kenyataannya buku itu sudah berubah menjadi lintah yang mengerak dan menggerogoti paru.
            “Kau masih membutuhkan pelukan?” bubuh Daun di antara kerumun manusia yang menghadiri pesta pernikahan Bara dan Sephia. Kemudian Daun memeluk tubuh Ranting yang berbalut gaun berwarna biru tua. Ranting menyambut pelukan itu dengan riang gembira, tapi lagi-lagi pelukan ini terasa salah.
            Ada sebilah peluru yang menjuntai dan menyerbu dada Ranting ketika dirinya menyalami Sephia. Wanita jelmaan bidadari itu dijamah gaun pengantin berwarna putih dengan mahkota yang bertengger di atas kepalanya. Senyumnya begitu menggebu atas kemenangan yang bertabur di antara megahnya pesta. Alunan mini orchestra yang mengalun lembut seakan membuai para tamu, namun tidak bagi Ranting, baginya alunan itu seperti musik kematian yang menghantarkan ke gerbang neraka.
            Kemudian Ranting menyalami Bara dengan seutas senyum keikhlasan.
            “Sudikah kau kiranya memelukku?” bisik Ranting pada Bara.
            “Tentu saja!” balas pria itu dengan merentangkan kedua tangan, menyerahkan segenap tubuh untuk sebuah pelukan; pelukan untuk Ranting. Ranting sumringah dan berbinar sergap menyerbu tubuh Bara, mendekapnya seerat mungkin.
            Dan kali ini, pelukan itu terasa benar. Terasa bersahaja hingga menggenggam jantung hati. Ranting tenggelam dalam hanyut pelukan Bara, tubuhnya tak lagi menggigil sebab pelukan Bara adalah pelukan yang selama ini dia maksud. Pelukan yang dapat mengobati luka dan segala kepatahan.
           
            Ranting pulang ke apartmentnya yang terasa kosong. Dia merasa sudah menjadi pemberani nomer satu di dunia. Pemberani yang tak pantang kalah di medan perang. Kemudian Ranting menanggalkan gaun biru tua dan melangkah gontai memasuki kamar. Setelahnya dia juga menanggalkan pakaian dalamnya sehingga kini tubuh gadis itu tak disentuh oleh selarik benangpun.

            Lalu Ranting meraih sebilah pisau di meja kerja yang biasa dipakai untuk mengiris buah apel setiap pagi. Ranting memejamkan mata sembari menyayat lehernya. Dalam detik-detik terakhir tarikan napasnya, Ranting merasa sudah berdamai dengan waktu dan masa lalu, juga dengan pelukan erat yang dia maksud. Gadis buruk rupa itu akhirnya terlepas dari kesedihan panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar