"Lengkung vertikal yang tersirat di bibirmu
Menafsirkan sesuatu yang ajaib
Yang seakan ditempa bencana..."
Katamu
Pernah kau gagas rumah yang megah
Dengan balkon kayu emas
Dan ada aku di sana
Pernah pula kau ranggas sore
Bersama secangkir coklat panas
Yang tiba-tiba saja aku tumpahkan ke wajahmu
Tapi, coba pahami; sebaris tanda semesta
Bahwa aku mencintaimu tanpa ampun
Bahwa ada waktu yang sudah berbaik hati
Menunggu rindu di antara relung berkabut
Pun, kosakata yang aku terjemahkan
Berupa prosa pahit yang kau telan mentah-mentah
Apakah aku terlalu keras menikammu?
Hingga hati takluk tak tersurut
Oleh hujan di semampai malam
Kau sampaikan lewat doa; berlutut di hadapan bumi
Adalah namaku yang tersumbat di kerongkongan
Berkali-kali kau jerat rindu
Berkali-kali juga kuhempaskan ke bumi terjauh
Tapi, sayang...
Masih tersimpan rapat-rapat sosokmu di belantara mataku
Ketika ku ikhlaskan sosok itu
Menafsirkan sesuatu yang ajaib
Yang seakan ditempa bencana..."
Katamu
Pernah kau gagas rumah yang megah
Dengan balkon kayu emas
Dan ada aku di sana
Pernah pula kau ranggas sore
Bersama secangkir coklat panas
Yang tiba-tiba saja aku tumpahkan ke wajahmu
Tapi, coba pahami; sebaris tanda semesta
Bahwa aku mencintaimu tanpa ampun
Bahwa ada waktu yang sudah berbaik hati
Menunggu rindu di antara relung berkabut
Pun, kosakata yang aku terjemahkan
Berupa prosa pahit yang kau telan mentah-mentah
Apakah aku terlalu keras menikammu?
Hingga hati takluk tak tersurut
Oleh hujan di semampai malam
Kau sampaikan lewat doa; berlutut di hadapan bumi
Adalah namaku yang tersumbat di kerongkongan
Berkali-kali kau jerat rindu
Berkali-kali juga kuhempaskan ke bumi terjauh
Tapi, sayang...
Masih tersimpan rapat-rapat sosokmu di belantara mataku
Ketika ku ikhlaskan sosok itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar