Di lorong ini;
Menjadi jembatan sunyi kepada sekotak mimpi
Dalam ruas peluh meluruh oleh peluru
Dan kristal sisa bintang kemarin yang mengudara
Tak sampai hati;
Untuk menelusur garis lurus
Menjejal binal suara
Ke palung rupa yang menjingga
Pada akhirnya nona hanya menikmati rembulan
Yang terselip di batas jendela
Menjadi suatu pencapaian akan rindu
Yang tega terjamah waktu
Kembali meranum dalam kuningnya padi
Nun setetes embun melagu
Jadi seru
Oleh tenun keruhnya getir pilu
Bali, 04 Maret 2017
Steiner Café; kembali
dalam liter cappucino.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar