Asap ganja ini seketika melebur ke kubah langit, menjentik angan-angan konsentrat teka-teki. Wanita itu nampak pulas tidurnya, sedang aku asyik menyimak malam. Kuhampar lagi kosakata khutbah yang merenungi sekat nadir, menjumpa senandung alir darah; dituai koneksi otak yang mulai mengkremasi ingatan. Sejenak aku membelai wanita itu kembali, membuat tubuhnya menggeliat tak karuan. Kuusap lagi setiap ruas lekuknya nan membuat terbangun dari mimpi pendek barusan. Dia tersenyum, menyambut sentuhanku. Malam ini kuhabisi dia; kugantung lehernya hingga tercekik kenikmatan. Akal sehatku yang sudah diambang kematian membuatnya binal dalam tarian malam. Dominansi wanita itu menembus kepala bagai peluru, aku kejang.
Dua jam kemudian aku luruh dalam keringat, dalam detik-detik antiklimaks yang kesandung licin tubuhnya. Wanita itu menciumku lagi, mencumbu tulang belulang milik Tuhan. Lalu kusangsikan narasi yang menjadi satu-satunya pintu keluar dari kubah berkarat ini. Tapi aku sudah terbuai oleh semilyar tubuh wanita yang bagiku seperti karya seni. Lekuk indahnya keringkan jalanan basah yang terlanjur keruh oleh hujan, dan dihujani lagi oleh ludah-ludah merah jambu. Bak aurora yang mekar di pematang sungai. Aduhai membuai.
“Aku ingin bertanya sesuatu,” ujar wanita itu setengah berbisik, serak suaranya meliuk di telinga. Kuusap mata, mencoba sadar.
“Boleh,”
“Mengapa kau tidak menanyakan namaku?” wanita itu meredup dalam bingar. Bertanya perihal sebuah nama. Aku menghela napas.
“Sebab… Aku tidak membutuhkan nama. Aku membutuhkan tubuhmu,” sahutku jujur. Beberapa detik kemudian matanya terbelalak, amarahnya sudah terdampar di ubun-ubun. Aku menerka pikirannya, narasi dalam gelak tatapannya. Bibirnya yang begitu sensual nampak kesal oleh ceceran prosa.
“Apa yang telah kita lakukan barusan? Takkah berarti dan bagai larua yang menyinggah? Kau tidak waras!” Gusarnya membuatku geli. Wanita itu terburu oleh engah udara, keseret pilar pagi buta. Kemudian dirinya bergegas, membungkus rapi tubuhnya yang dua jam lalu mudah ditanggalkan.
“Kau gila!” jeritnya menampar telinga. Lalu pergi meninggalkanku dan gulungan ganja yang masih setengah. Mati. Akupun tertawa lagi, menyudahi pagi. Kutimang guling dan lelap dalam lucunya haru. Wanita itu yang gila, bukan aku. Mengapa dia mau disetubuhi oleh koreoku? Siapa suruh dia cantik.
Sudah tiga bulan aku singgah di pulau ini, mahligai syurga yang meninabobokan birahiku. Lalu lintas tubuh para bidadari membelai semampai rangkaian keratin hasrat. Sungguh, panik aku dibuatnya. Mereka memiliki kecantikan yang berbeda, seperti bunga mawar dan rumput liar. Aroma mereka menuai kesehatan bathin. Selebihnya kubayar mereka dengan mata uang, mengingat wanita-wanita kurang edukasi itu hanya gadis pesisir yang tersangsi kedapnya lapar. Lalu haus akan perabot mahal, seperti tikus liar yang memperebutkan keju kelas eksekutif. Padahal perasaannya begitu fiktif dan munafik. Genang amarahnya dikategorikan sebagai tiket kelas bawah yang hanyut dalam rupiah. Tak sudah-sudah.
Hingga suatu malam saat aku menyusuri pesisir, ketika kutanggalkan sandal dan pujian dari dewi-dewi pulau, aku menjumpai sesuatu yang ajaib. Tubuhnya tidak seperti aurora, atau mawar, atau rumput liar. Aromanya menjuntai ranum seperti ombak laut dan istana pasir. Tatapannya bagaikan sebuah misteri, teka-teki, labirin yang tak berkesudahan. Aku dijerat oleh pipinya yang menjingga, cara berjalannya yang seakan-akan bagai gulungan ganja beserta asapnya.
“Berhenti menatapku seolah aku jaring sinar mercusuar,” tiba-tiba dia sudah berada sejengkal di jarak belantara mata. Aku terpana oleh suara. Ombak malampun menggerus metafora laksa birahi.
“Siapa namamu?” tanyaku penasaran. Dia tersenyum ricuh.
“Chamelot,” sahutnya.
“Terbuat dari apakah kau?”
“Batu pualam,”
“Apa yang sedang kau lakukan sendirian di pantai ini, selarut ini?”
“Menjaring perasaan,”
Kemudian beribu pertanyaan begitu saja terlontar. Wanita kelam itu dengan mudah menjawab semua tanpa perisai. Begitu tenang dan bersahaja, begitu rindu oleh bara, begitu terbakar menjorok dingin. Tubuhnyapun angkuh menderaku. Ingin sekali kusetubuhi pikirannya yang membuatku khawatir.
“Akui saja,” ucapnya irit. Membuyar pandanganku. “Akui bahwa kau sudah terdistorsi. Seberapa inginkah kau mencicipi aku?” lanjutnya.
“Berapa?” tanyaku mulai ragu, tarifnya mungkin akan mahal dan sepadan dengan paketan sosoknya.
“Jangan membayarku tunai dengan mata uang, yang kubutuhkan hanya satu, setuntas parameter lunas di jembatan korelasi denganmu,” sergahnya, tentu dengan tenang. Aku semakin penasaran.
“Apa itu? Sebutkan saja,” ucapku menanti.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Arya,” jawabku bergetar. “Tapi mengapa? Mengapa kau bertanya namaku?” aku panik menenun pikirannya.
“Kau menginginkan aku, bersatu dalam peluh. Menerobos sekatku dan dinding pilarku. Akupun ingin mengerang dan menyerang, tapi bagaimana bisa tanpa menyebut namamu? Sebab koneksi ini takkan rumpun tanpa nama, itu adalah inti dari menyatu,” jelasnya. Lagi-lagi Chamelot membuatku terkagum. Nyawanya yang harum menyibak sanubari, dia melata setiap jengkal kontradiksi fluktuatif sebuah gagas. Ide yang tumbang hanya dengan semalam, interpretasi yang kubangun susah payah dengan gepokan mata uang kini lenyap oleh suaranya. Begitu mudahnya dia mengobrak-abrik fraksi dan menjadikanku seperti monster.
Tapi akhirnya kita bergemelut. Chamelot tidak mendominasi, akupun. Kita seimbang bagai arah mata angin. Sesuai dengan hutang yang membara, lalu terbayar lunas. Beberapa kali kudengar erangnya menyebut namaku, seperti jeritku yang berujar namanya. Memang baru kali ini aku merasa pantas oleh tahta kelamnya, aku tenggelam oleh tubuhnya dan juga perasaannya. Batu pualam hidup seperti Chamelot begitu menumbangkan semua kebohongan. Seketika persetubuhan ini menjadi jujur, secerca harap yang melambung. Bukan cuma sekedar icip, bukan pula munafik oleh air mata. Kenikmatannya terlanjur merajam arus nadi, membuatku tersengat berkali-kali.
Sebab ada sesuatu yang merdu kala Chamelot menyebut namaku. Secarik impian yang tidak dimiliki gadis-gadis pulau yang tak perduli dengan namaku. Aku larut, sungguh sekarat. Dalam kemabukanku oleh sosoknya, kami menyudahi persetubuhan ini. Dia merebahkan tubuh telanjangnya di hamparan air laut, menari kesana kemari. Pakaiannya sudah entah kemana, begitu juga pikiranku.
“Aku harus pulang, Arya,” bisiknya, kurasakan desah napas yang terderu di telinga.
“Akankah kita berjumpa lagi?” tanyaku mulai gelisah, tidak ingin ditinggalkan.
“Suatu hari, suatu hari ketika kau merasa kebohongan yang berembun mengoyakmu, dan gagasmu yang membuat dirimu rapuh. Suatu hari, kala kudengar lagi jeritan hatimu yang ingin sekali dicintai, bukan didominasi. Suatu hari, saat kulihat lagi gegap aura kesedihan yang meliuk-liuk di udara, mengendap hingga ke dasar lautan. Suatu hari saat kau ingin pulang saja,” suaranya tiba-tiba lenyap, terssamar oleh ombak. Aku tanpa ganja; melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa jentik kakinya berubah menjadi sisip ikan. Warnanya biru muda, sisiknya seperti batu pualam yang basah oleh air keemasan. Sinarnya disambut oleh laut, rambutnya yang panjang menjuntai dan merasuk langit. Aku terpana dengan Chamelot yang berenang kesana kemari sembari tersenyum sumringah. Disambut asap-asap harapan yang melangit, hingga jatuh ke doa.
Aku tidak perduli bagaimana wujudnya, aku ingin memilikinya. Bukan hanya tubuhnya, tapi semua yang terangkai dalam sosoknya. Namun dia sudah lenyap dilahap laut, membelah air yang membara. Seketika aku sedih, baru kali ini aku merasa kehilangan. Baru kali ini aku merasa patah dan kalah. Aku bertelut dihadapan bibir pantai, berharap semua terulang lagi.
Nyatanya puteri duyung itu tak pernah kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar