Aku berusia 8 tahun kala itu; ketika pertama kali aku
melihat satu sosok yang kerap membelenggu palung terdalam. Teduh matanya
menghujani sepertiga detik malamku. Berkata wanita itu kepadaku dengan jubah
merah yang selalu ia kenakan, “jangan mau dimainkan oleh mimpi,” sembari
mengusap kepalaku. Aku terbuai oleh tutur katanya, terbius oleh sosoknya yang
rupawan. Dan entah… yang terlalu sering kuhitung, entah yakni dalam jarak waktu
yang terasa merentang panjang, mengelukan jiwa; cepatlah beranjak dewasa.
Begitu kata hati berisyarat.
Waktu berjalan alangkah lambat, begitu mengikatku yang
ingin berlari ke masa depan. Ataukah peristiwa itu hanya mengobrak-abrik
perasaan kecilku yang naïf? Wanita itu tak khayal membius pusat jantung yang
tersemu, membuatku mengiba kepadanya. Aku terhipnotis oleh petuah kristalnya
yang selalu membias sinar bagai jingga matahari yang mencari celah untuk
menerangi bumi. Aku tak berdaya, aku candu.
Kemudian sekali lagi bayangnya menari diantara kiblat
hujan, seperti detik jarum jam pada menara lonceng; tak pernah berhenti. Jubah
merahnya itu selalu membias mataku yang sendu. Tubuhnya yang tinggi langsing
dan rambutnya yang ikal panjang terurai berwarna pirang emas mengibahkan
sepertiga detak nadi. Apalagi matanya yang biru, ah… membuai sekali.
Wanita itu seorang janda berusia 30, usia yang terlalu
dini untuk ditangguhkan. Sedang aku hanya laki-laki yang menimba kehidupan
dalam jalur sephia; singgah dalam istana yang kusebut panti asuhan. Aku selalu
menanti sosoknya saat akhir pekan tiba, di pekarangan luar yang luas dan
mencekik.
Suatu ketika pada bulan Desember yang bersalju; aku
melihat tubuhnya yang terhempas oleh ringkihnya cuaca. Berjalan dengan anggun
menuju pintu depan tetap pada jubah merah yang seragam dengan warna bibirnya.
Wanita itu menyunggingkan sebuah senyum, melengkung seperti bulan sabit. Tahi
lalat yang hampir menyatu dengan punggung bibir menghias wajahnya, membanting
hasrat untuk mendekapnya.
“Hai, Andy,” dia menyapaku samar saat melewatiku, aku
setengah tertegun dengan aroma kayu manis yang seolah telah mendarah daging
dengan tubuhnya. Wanita itu menjentik ujung kepalaku dengan jemarinya yang
terlihat seperti kumpulan partitur berdansa.
“Hai, Ann,” balasku gagap, mengikuti langkahnya. “…apa
kau ingin bermain piano denganku?” tanyaku berlanjut sembari menggapai sisi
ujung jubah merahnya.
“Baik, tapi setelah aku berbincang dengan nyonya
Adeline,” sahutnya.
Nyonya Adeline adalah wanita paruh baya yang memiliki
kulit seperti batu pualam berbias pucat. Beliau yang menjaga seluruh panti
asuhan ini beserta penghuninya. Wanita tua yang lebih cocok disebut nenek sihir
itu memang akrab dengan wanita jubah merahku. Entah mengapa, wanita jubah merah
kerap meluangkan waktu dengan si nenek sihir. Nampak nyaman berlama-lama
berbincang dengannya, membuatku bertanya; apa perihal gerangan yang tengah
dibicarakan mereka. Apakah tentang masa depan?
Aku mengalihkan pandanganku pada sebuah ruangan tertutup
yang bertuliskan “kantor”. Si wanita jubah merah memasuki ruangan itu, bertemu
dengan nyonya Adeline. Ruangan itu Nampak seperti penjara dimataku, penjara
yang terlalu mencolok; menyilaukan mata. Segala sudut ruang terlihat tua dan
berdebu, bersisik. Aku melangkah menyisip tanpa suara tapak kaki. Pintu itu
sudah tertutup rapat, seperti sebuah ruang rahasia yang telah ada selama ribuan
tahun. Penasaran aku, kemudian aku kerucutkan tajam pendengaran dari ambang
pintu. Entah apa yang terjadi, aku mendengan suara.
Terlalu bising dan menggelisahkan; suara yang terdengar
didalam. Bagai puan neraka yang menyimak jeritan jiwa-jiwa sepi. Aku
membungkukkan badan, mencoba menyusuri. Aku menangkap sebuah isak tangis, entah
wanita jubah merah, atau si nenek sihir. Entah, aku hanya bisa menerka.
Badai salju bulan Desember ikut bergemuruh, membekukan
seluruh bangunan tua ini. Aku bergidik. Masih misteri untuk laki-laki kecil
sepertiku. Jemari kakiku meringkuk; ingin mencengkram gelaga badai salju
diluar. Keingintahuan dalam otakku rupanya menjadi pucuk-pucuk birama di detak
jantung. Bikin ngilu.
Satu setengah jam berlalu membuatku menggigil, dan pintu
terbuka. Tubuh wanita jubah merah langsung menyergapku, mendekapku rapat-rapat
sembari terisak. Tanganku menggenggam sejumput rambut yang tergerai
dipunggungnya. Isakan wanita ini membuatku juga ingin menangis.
“Piano?” tawar wanita jubah merah itu terbata. Sesekali
menghapus jejak air mata. Aku mengangguk tanpa bersuara, kemudian mengikuti
langkah gontainya menuju ruang piano.
“Kau tahu, mengapa tuts piano berwarna hitam dan putih?”
tanyanya pelan, aku menengadahkan kepala untuk menelusur jawaban diwajahnya.
“Tidak,” sahutku. Jemarinya yang lentik menyentuh setiap bagian dari tuts piano
dari ujung ke ujung, bibirnya bergetar dan matanya sayu.
“Manusia mempunyai dua sisi, gelap dan terang. Kau tidak
bisa memainkan piano hanya dengan satu warna. Yang kau jumpai nanti hanya
kekosongan, nada yang semu,” tukasnya pelan. “aku tidak mengerti, Ann,” aku
menyahut.
“Kau masih terlalu muda untuk mengerti. Piano bagaikan
manusia, Andy. Kedua sisi gelap dan terang itu adalah bagian dari manusia,
merentang, mengeluarkan nada-nada yang entah nanti akan memilukan atau tidak.
Namun, hitam dan putih menyatu dalam serdadu kenaifan,” wanita jubah merah
menjelaskan.
“Lalu mengapa tuts piano tidak dijadikan abu-abu saja?”
aku penasaran. Dia terkekeh.
“Abu-abu adalah bilur yang memaparkan ketidakpastian.
Lalu mengapa ada laki-laki dan perempuan? Iblis dan malaikat? Buruk dan baik? Utara
dan selatan? Bulan dan matahari? Gunung dan lautan?” jemari lentik wanita itu
mulai memainkan satu lagu kesukaannya; Sonata no. 8 Pathetique.
Kemudian lagu itu adalah lagu terakhir yang dia mainkan.
Hari terakhir dimana dia datang berkunjung di pertengahan bulan Desember yang
bersalju. Aku merenggut, seketika kehampaan menuas dalam biru, membungkam
sanubari. Piano itu tak pernah kusentuh lagi, memandanginyapun aku enggan.
Berulang kali aku kerap bertanya tentang wanita berjubah merah pada nyonya
Adeline, si nenek sihir dari negeri selatan; begitu kata teman-teman, namun tak
ada satu jawaban yang terlontar. Aku tersesat diambang kabut malam, yang
meneriaki semua kecacatan peristiwa.
Seiring dengan ketiadaan wanita jubah merah, waktu seakan
berlari kencang. Menghempas kedewasaanku yang sepanjang usia menggali kubur
keberadaannya. Saat usiaku menginjak 32 tahun, aku tetap pada jalur
kesendirian. Bahkan ketika hujan mengguyur kota dan tak sengaja aku melihat
sesosok berjubah merah memayungi rambut emasnya, ku hempaskan kaki berlari
mengejar diantara kerumunan manusia. Benar, aku mengejar ketiadaan, mengejar
bayangan.
Melulu
mengibahkan sejuta bulir tirani yang mengkristal, pecah dalam kekosongan malam.
Aku tak ingin menyerah untuk mencari wanita jubah merah itu. Kerap aku mengiba
dihamparan Katedral, sembari mengepakkan hati yang patah. Aku jatuh
berkali-kali.
Kemudian pada suatu pagi di musim panas, aku menerima
panggilan telepon dari kenalan yang ahli dalam mencari keberadaan seseorang.
“Aku menemukannya,” sergahnya setengah berteriak. Seketika kupacu tubuhku menuju
si wanita berjubah merah berpijak, menuju keberadaan yang mungkin menghilangkan
akal sehatku. Sebuah tempat antah berantah dalam negeri angina yang selalu
kuimpikan setiap malam. Tempat yang begitu asing ditelinga, melewati semilyar
jalan setapak yang membara oleh terik matahari. Tempat yang berpayung biru tak
berkesudahan.
Wanita berjubah merah itu terbaring diatas tempat tidur
tua, matanya sendu tertutup oleh keriput. Di sebuah rumah yang teduh, aku
menemukannya.
“Hai, Ann,” ucapku pelan terselimuti getaran frekuensi
suara yang terdengar menyesak. Mataku menyusuri sekeliling dan berhenti pada
sudut ruang yang menggantung jubah merah lusuh, yang dulu terlihat tidak lusuh.
Aku menggenggam tangan wanita itu. Dia memejamkan mata, nampak membuang muka dan
tertidur.
“Kau tidak akan mendengarnya bicara. Dia memilih bisu
sejak…” seorang wanita lain yang lebih muda menghampiri kami. Dia menggigit
bibir, ragu untuk melanjutkan. Aku mengernyitkan dahi
“…sejak dia bebas,” lanjutnya pilu.
“Bebas?” tanyaku.
“Satu tahun yang lalu,” jawabnya meresah.
“Apa yang terjadi?” lanjutku bertanya. Ingin segera
mendengar kisahnya.
“24 tahun yang lalu, nyonya Ann membunuh seorang klien.
Tidak, mungkin lebih cocok untuk memanggilnya pelanggan. Seorang pria tua yang
acap kali melakukan kekerasan padanya. Kemudian keadilan tak berpihak padanya.
Nyonya Ann dijatuhi hukuman 22 tahun,” raut wajahku berubah geram. Sungguh, ini
menyiksaku.
“Pelanggan?” aku bertanya lagi.
“Beliau menjual tubuhnya, dulu,” sahut si wanita muda itu.
“Dan aku adalah hasil dari pekerjaannya,” dia melanjutkan. Tubuhku melemas,
pandanganku nanar.
“Lalu, apa arti panti asuhan…”
“Panti asuhan Moldova? Bagaimana kau tahu tempat itu? Ibu
berasal dari sana, Moldova adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki,” jelas
wanita muda sembari menyelimuti ibunda yang tengah tertidur.
Aku menundukkan kepala, menahan air mata. Mengutuk Tuhan
dalam hati. Perasaanku berkecamuk seolah memecah kaca jendela yang berubah
memekat. Menyalahkan diri sendiri berulang kali. Hanya jubah merah itu yang
membias, menyilaukan perdebatan hati.
Aku memang menemukannya, namun aku tak menemukan jati
dirinya. Aku memang mengenalnya, namun ternyata aku hanya mengenal jubah
merahnya. Aku tahu warna matanya, namun aku tak tahu ceritanya.
As usual.. Alurnya bisa ditebak tapi bikin penasaran. 😉
BalasHapusKnapa jubahnya merah?? Mungkin ada maknanya kah??
karna aku suka warna merah wkwk
HapusAbu-abu adalah bilur yang memaparkan ketidakpastian. Lalu mengapa ada laki-laki dan perempuan? Iblis dan malaikat? Buruk dan baik?
BalasHapusYang pertama disebutin yang jelek dulu?
Laki-laki, iblis, buruk.
Yang kedua, yang bagus?
Perempuan, malaikat, baik.
Sepertinya bukan kebetulan.
:)