Minggu, 22 Mei 2016

GADIS PENYAMPAI CERITA

            Senjaku mulai menepi, nampak kibaran bara api yang menjilat setengah kaki langit tapi sang langit malah menelan panas dari matahari. Bagaimana ini, Tuhan… Dia tenggelam sampai pucuk horizon yang menjingga. Senjaku sudah pergi, terganti oleh malam mencekam yang kerap merobek palung terdalam. Aku mereda, menarik napas yang terdengar menyesak. Suara manusia yang ricuh diluar menyatu dalam memoriku, terekam jelas.
            Ada seorang ibu yang menangisi anaknya yang sakit. Ada seorang suami yang terdengar patah oleh bias-bias angin yang terhempas dalam pengkhianatan sang isteri. Ada pula seorang anak yang meronta ingin dibacakan cerita Gadis Korek Api. Ketika ada yang menyerta memasuki ruang kepalaku, suara sanubari seorang lelaki dengan tuas kegelapan yang menggebu. Dia tengah melampiaskan kekosongan pada malam. Tak ada siapapun disisinya, hanya dia yang mengadu bagai anak kecil terseret buaian bara api matahari barusan. Aku mengikuti suara kontradiksi dalam frekuensi gelombang yang beranak pinak dan melelehkan sepertiga bagian otak kanan, kekosongan suara sanubari si lelaki itu menerkam ambang visual memori yang terlihat flutuatif. Nyata namun tersudahi oleh diksi-diksi yang fiktif.
            Suara si lelaki yang membilur itu mengecam gerak kaki dalam lolongan langkah-langkah serdadu. Aku menyusuri setiap bagian tempat tak bernuansa, menarik dari zona ekspedisi tuas menjelang malam. Seperti elegi bintang jatuh yang tidak akan indah, karena tersengat oleh jutaan rumpun-rumpun terjal yang mengoyak sisi. Dan sampailah aku pada dirinya yang terlihat baru.
            “Aku… mendengar jeritmu,” aku mengayun nada suara yang setengah membisik. Lelaki itu terlihat bingung.
            “Baiklah. Dan kau?” Tanya si lelaki gusar.
            “Panorama bias dari saklar yang terjepit oleh ambang malam. Aku adalah itu,” tukasku sembari menggenggam tangannya.
            “Ijinkan aku memperlihatkan eksotika alam baru, jangan mengernyit, tuan. Akan kusuguhkan semilyar cerita pilu malam ini. Jangan pula bersembunyi, kita tidak sedang dikejar sesuatu seperti waktu,” bujuk rayuku menghampar sebaris senyum diwajahnya.
            “Tunggu, kau belum tahu namaku,” ucap lelaki itu terlihat gusar.
            “Aku tak ingin tahu namamu, tuan. Aku tak terbiasa dengan nama. Aku hanya terbiasa dengan tarian milik malam, tak mengapa buatmu? Kalau-kalau kau marah kupanggil tuan,” lelaki itu menghela napas sekejap yang membuat dunia terasa berat untuk berotasi. Aku meniadakan tawa, seperti setengah mati dalam hidup yang menjelajar. Kecam biru berat setengah kilo, kilau asap yang terlihat seperti fatamorgana sepi.
            Baiklah, sampai mana tadi? Oh ya… Tuan. Kini kupanggil dia tuan, bukan lelaki. Setidaknya itu menarik perhatianku, setidaknya.
            “Dan kau?” Tanya si tuan.
            “Aku gadis penyampai cerita, tuan,” jawabku bersiul.
            “Gadis penyampai cerita?” kemudian suara beratnya terbahak seperti gelegar petir pada tengah malam.
            “Tertawa?” jeritku ngawur.
            “Sebentar. Bukan. Namun gadis penyampai cerita? Membuaiku sekali, ranum dalam dua cabang otak; namamu mengembala binal dan merindu, tahu,” kemudian kami berdua tertawa dalam sergap rona udara yang membual dibawah sinar bulan. Kami tetap bergandengan tangan, menelusur.
            Langkah kami terhenti pada sebuah rumah Tuhan; teduhnya berkencan dengan naskah kisah pilu. Memang harus bagaimana lagi? Semua rumah Tuhan adalah pelarian manusia menuang secangkir cerita sedih, mengembara dalam tiap sisi yang terasa menjemukan. Bagi mereka, yang datang berkunjung, terintimidasi dalam kelam barat daya. Tuhan dijadikan alas untuk menutupi kekurangan. Begitu nampaknya. Pernahkah ada yang berbahagia, melompat dan menari didepan Tuhan? Mungkin ada. Itu hanya segelintir manusia waras yang merajut benang merah muda sebagai pembatas rindu. Dan para pendosa? Air mata yang luruh jatuh ke tanah, bertameng penyesalan tak berkesudahan. Lelah aku; sungguh, mencerna apa yang tengah dibicarakan oleh para pendosa.
            “Lihat,” bisikku getir kepada si tuan. “Seorang ibu yang tengah menangisi anaknya yang sakit. Ah, menjemukan sekali dia,” lanjutku.
            “Air matanya nampak terbang ke ubun-ubun. Mengapa bersedih sedangkan sakit adalah bagian dari bernapas?” sahut si tuan ikutan pilu.
            “Bagaimana kau mencerna kisahnya?” tanyaku lalu. Si tuan keras berpikir.
            “Kisahnya dirajut dalam tuas bilangan biner yang terekam oleh dua simbol; kosong dan isi. Anaknya yang tengah sakit dijadikan konversi oktal hijau sebagai laju dalam jalur heksadesimal yang berjalan beriringan dipematang temaram. Mendamba sajak-sajak bahagia, mengharap seporsi kisah terang dalam tungkai labirin. Tidakkah air matanya begitu palsu?” jawab si tuan geram. Wajahku merona tak bertepi.
            “Kau peretas duka, tuan. Aku menikmati jelajahmu,” ucapku tetap merona. “Sang ibu gusar, tahu. Bermuram durja kepada Tuhan, protes dalam hirarki hati; mengapa anaknya harus melewati kesakitan itu sementara sang ibu tetap bebas bernapas dalam naungan langit. Benar katamu, bilangan biner itu terasa menyatu. Kekosongan yang mengisi. Larua apa yang menjelma dalam terik malam?” lanjutku hampir terisak dalam kepalan tangan yang membiru.
            “Lihat,” pekik si tuan. Pandanganku teralihkan kepada sang suami yang tengah menangis jua.
            “Lagi-lagi dia!” kecamku resah. “Seorang suami yang pelana tak berhati,” desahku menjelaskan.
            “Ya. Nampak pilu rupanya,” timpal si tuan geram.
            “Diantara banyak pendosa, dia adalah seserahan yang menggemparkan burung kenari. Kau tahu mengapa dawai pengkhianatan sang isteri meluluhlantakkan hidupnya?” tanyaku sembari menimbang perasaan.
            “Sebab pengkhianatan adalah lalu lintas hati yang bercabang bagai segelas susu yang tumpah di awal pagi?” tukasnya penasaran. Aku mengangguk seru.
            “Merdu analisamu, tuan. Pengkhianatan adalah kisah pilu yang terperi. Sang isteri menelaah kelam palung hati, terpental dalam rajutan-rajutan tangis tengah malam. Begitu mencekam, tuan, kala itu ciuman dibawah hujan membawanya untuk jatuh cinta kembali kepada yang terdalam. Bukankah hati memang untuk diperjualbelikan? Tapi tidak dengan perasaan. Sang isteri juga melalui benih-benih kepedihan yang terasa menelusur kedua bening bola mata. Indah yang bersisik, kerutan yang meracik,” bibirku bergetar dalam frekuensi yang tidak diketahui; berjinjit diantara poros kalimat demi kalimat. Si tuan tambah erat menggenggam tanganku, meresah kami dalam rumah Tuhan.
            “Sang suami menganggap dirinya paling mengerti; sementara mengerti itu maknanya adalah penerimaan yang teduh,” ujar si tuan dengan tatapan sayu. Kemudian kami hening beberapa saat sampai sebuah suara kecil menghentak kesunyian yang menari-nari sejak tadi.
            “Tuhan, mengapa ayah dan ibu tak pernah membacakan aku cerita Gadis Korek Api?” isak si kecil, seorang anak perempuan berambut jingga kuncir dua. Aku dan si tuan saling bertatapan. Sedetik kemudian kami terkekeh.
            “Bodoh!” sergahku.
            “Sangat,” sahut si tuan membenarkan. “Ayolah, aku menunggu jeritanmu pada kenyataan,” seru si tuan, aku berdehem.
            “Bagaimana kalau orang tua si anak kecil itu buta huruf? Atau memang buta yang sesungguhnya? Iya. Merasa tidak adil terasa mencekik memang, tahu apa dia?” ucapku. Si tuan berubah pilu; lagi.
            “Butir air matanya terasa menyentuh pipiku. Anak kecil itu tetap merengek minta dibacakan cerita, kali ini kepada Tuhan dia mengadu segala keluh kesah,” si tuan memaknai air mata.
            “Namun, perasaan merindu dari si anak itu adalah perasaan termurni sedang yang lain hanya menuai getaran biru tua. Aku suka anak ini, suatu saat ia akan tumbuh dewasa dan belajar membaca. Sebab membaca merupakan ruang yang menyeruak dalam irama waltz, alih-alih memperhatikan yang sunyi. Membaca adalah tumpuan dalam alas hidup, terkesima aku. Manusia memang harusnya diajarkan membaca, bukan berbicara,” aku menimpali. Mata si tuan terpejam. Aku juga ikut memejamkan mata sampai waktu lonceng berdentang lima kali, kutengadahkan sejuntai pandangan yang mengerucut bagai bangsawan tersimak.
            “Sudah saatnya kau pergi, tuan,” aku berbisik, dan pilu.
            “Terima kasih, gadis penyampai cerita; yang sudah menyuguhkan tiga kisah dalam satu atap,” matanya berbinar kemudian dia memelukku seerat genggamannya.
            Sekejap si tuan menghilang sebelum sempat aku mengucapkan selamat tinggal. Arwahnya menginap semalaman di rumah Tuhan nan sejuk sebelum berpulang ke genggamanNya. Aku mengerti sesaat yang sempat menelusur dalam matanya yang cokelat; bahwa ketika dia hidup, dia mengalami pengkhianatan sang isteri yang tersemai kala anaknya yang sakit merengek minta dibacakan cerita. Aku meratap sayu kepada malam, kepada Tuhan yang sedang tertawa diatas sana. Bagaimanapun aku bukan manusia, bukan malaikat, bukan pula iblis, hanya penyampai cerita yang mengkisahkan semua sisi kehidupan arwah-arwah yang baru terbangun dari kematian. Mencerna, menjentik serta meraba kiasan bait pada lara yang menyekap ruang kedap udara. Aku membantu ruh-ruh untuk mengingat lagi apa yang sudah dicapai untuk sebuah permulaan.
            Tiba-tiba aku ikutan pilu.
            “Tuhan, aku juga ingin punya kisah sendiri,” pintaku terisak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar