Ada suara bising yang membangunkan aku diantara sepertiga
malam. Suara itu berasal dari inti bumi yang mengobrak-abrik lelap tidur. Sementara
burung hantu mulai melolong dalam sunyi malam dan bersembunyi di larua hamparan
kabut. Aku menghembuskan napas yang tak berirama, seperti terbangun dari mimpi
buruk. Ini bukan tentang aku menimang malam, ini tentang sebuah cerita yang
ingin aku rebus sendiri; dan waktu memang sebagian dari alam yang brutal. Aku memang
tak pernah dibutakan oleh rasa sampai ketika…
Suatu senja di bulan Maret, aku bertemu sepasang mata
indah dari seorang wanita yang menari diantara kontradiksi waktu. Tarian itu
menjulur seolah tak rentan akan jarum jam yang bergerak ke kanan. Memutar waktu
yang membentang ke belakang. Baru kali ini aku ketakutan. Kedua bola mata itu
membius sebagian otak yang tampak mati, mencari seuntai rasa dalam otakku. Dan ini
gila, bola mata itu menyusuri tiap gang dikepalaku. Kembali pada ruam pola alam
bawah sadar, rasa. Memang menyesakkan pada awalnya. Lalu aku memburu rasa
bersama sepasang mata itu, mencari jejak yang tersemat oleh sekat-sekat otak. Ini
terasa seperti labirin tak bertepi. Aku tersesat sendiri jadinya.
Aku marah. Rasa itu sedang bersembunyi dan menyeruak
bagai tentara tengah malam dalam perang musim dingin. Aku meronta oleh peluru
hitam yang mencekam, menelusur di peraduan sepi-sepi. Kemudian aku tersadar
bahwa aku bukan saksi peristiwa, aku adalah lelaki yang terjerumus oleh
keindahan mata. Mabuk kepayang ini membuatku terlihat liar, aku terbawa oleh angin.
Benar saja, aku telah terkesima.
Bagaimana bisa suara bising itu bergejolak dalam runtutan
waktu yang menjenjang ke belakang? Tapi kali ini terasa berbeda, sepasang bola
mata itu seakan membunuhku. Sesaat kubiarkan diriku terlempar ke inti bumi,
begitu aku menyebutnya. Sepasang bola mata itu ada disana, menangis bagai domba
yang tersesat. Dia menatapku tajam dan menyayat.
“Semudah itu kau menyerap fajar yang melebam?” Tanya dia.
Aku berdehem, mengatur detak jantung yang hampir terdengar.
“Rasa,”
“Kau mencari rasa? Disini?” dia setengah menjerit,
kembali menangis dalam peraduan. “Kau kira kau hebat; menerjemahkan rasa yang
memanggilmu dalam semu. Kau hanya secerca ruang hampa yang menepi sendiri. Dan aku…
aku…” dia enggan melanjutkan, tangisannya tambah bising.
“Aku sudah lupa bagaimana caranya menatapmu lagi,” dia
menyelesaikan kalimatnya. Lalu aku menghampirinya lebih dekat, menyusuri
pandangan mata yang basah.
“Jangan menjadi senyawa yang mendidih di bejana rindu,
aku mohon. Aku belum selesai membunuh rasa,” bisikku getir.
“Atau rasa yang akan membunuhmu?” dia bertanya dengan
suara terkekeh. Aku melangkah mundur, berhati-hati.
“Bukan. Aku yang akan membunuhnya,” aku meyakinkan. Amarahku
kian meluap, desah napasku memburu dan dadaku terasa sesak.
“Bukan. Rasa akan membunuhmu. Kau lupa?” matanya membara,
aku terpojok. Dia memberikan lantunan bait yang membongkah di sepertiga malam
ini.
“Aku berjaga, barang kali rasa itu membual. Dan secara
jantan berpikir akan menyergapku duluan.
Biar saja kau berkata kau benar, tapi tidak, bukan, kau hanya bersiul secara
harfiah dalam gelagatmu di ambang fatamorgana. Lalu akan ku yakini kau sekali
lagi tentang rasa yang membungkam dalam kematian, bukan disebut mati suri,
bukan pula diam-diam terjaga bagai anak panah yang melempar batu pualam. Kau hanya
tidak mengerti patahannya,” aku setengah teriak dihadapan kedua bola mata itu,
dia kembali menangis.
“Dan segala manipulasimu akan terbangun kala bulan
menjadi penuh dan bundar. Kau akan menari ketika senyap menghantui. Hanya ada
kau dan otakmu yang beku, meronta dibatas dini hari. Kau tidak akan menjadi
sang rupawan yang selalu aku ingat, aku hanya menjelma jadi asap tebal dalam
memori yang bukan kau sebut mati suri. Dan rasa yang akhirnya menang, dan kau
jungkir balik mempertanyakan eksistensimu, bertanya lagi bermilyar kali,
mengapa tidak kau saja yang mati,” kalimatnya mendaur ulang amarahku. Aku geram.
“Nyatanya bukan kematian yang kau cari, hanya aku,” aku
mengingatkan. Dia tertawa, atau menangis. Entahlah.
“Memang kau mengerti makna kematian? Apakah aku juga
mengerti? Yang aku tahu hanyalah aku yang kerap disibukkan olehmu, oleh
bayangmu yang datang berkunjung disudut kamarku setiap hari,” ujarnya lirih. Aku
menengadahkan kepala, menghirup angin yang berputar disekitar kepala. Namun sesak
ini sudah mendarah daging.
“Kau menyebutnya apa?” aku bertanya. Dia tertawa lagi,
atau menangis lagi. Dan sekali lagi; entahlah.
“Aku menyebutnya cinta. Kau menyebutnya rasa. Keduanya tak
bergeming dalam produktifitas otak. Membelah diri, menjadi bakteri, menular,”
jawabnya tegas setegas kedua bola matanya yang semakin berbinar.
“Inikah yang kau sebut tidak waras?” aku menyayat
lengannya dengan pisau dapur, dia menjerit dalam kesakitan yang tak bisa aku
bayangkan. Namun sekilas aku melihat senyuman diantara kesakitan itu.
“Aku perlu beradaptasi,” dia bergumam kegirangan.
“Kau gila!” aku berteriak, meleburkan darah segar yang
mengalir ke segala sisi.
“Kau pikir kau bisa membunuhku, tapi tidak perasaanku,”
bulat matanya semakin liar. Detak jantungku meningkat dan terdengar memekik
kala bening bola mata itu memanah dada. Aku jadi ingin mengcongkel keluar bola
mata itu.
“Kemudian ada saatnya kau mendekap jasadku. Pada akhirnya
kau memerangi kekalahan,” sergahnya terbata. Aku membisu sekarang, benar-benar
membisu. Dan seketika suasana menjadi hening, yang tersisa hanya lantunan cacing-cacing
merah muda yang menggeliat disarang tanah. Sedangkan sinar bulan diluar sana
menyusup ke celah-celah inti bumi yang aku pijak, bersama si wanita yang
memiliki sepasang bola mata nan cantik. Aku meresah.
Bagaimana tidak? Aku bertanya-tanya mengapa aku tak
menikmati kesakitannya, sementara semai suara kesakitan merupakan makan siang
yang kerap kusantap diatas piring hitam.
“Aku tidak mencintaimu,” tukasku geram, terdengar meyakini
diriku sendiri, sembari menyayat pergelangan kaki. Namun apa ini? Kepalaku terasa
mendidih, wajahku memerah seperti sedang menahan tangis. Atau itu memang bukan
seperti. Aku memang tengah merajut kesakitanku sendiri. Dadaku semakin sesak.
“Jika aku mencintaimu, kau bisa apa?” wanita itu berkata
setengah berbisik, matanya sayu dan tatapannya redup. Seredup hatiku yang memohon
untuk tidak melanjutkan siksanya.
“Aku bisa membunuhmu,” jeritku mengancam, jeritan yang
lembut membelai rupanya. Wanita pemilik bola mata yang indah itu tertawa.
“Dan aku mulai menikmati kesakitan ini,” tubuhnya melemas
sembari jemarinya menyusup diantara celah jemariku. “Sampai jumpa dikehidupan
selanjutnya,” lanjutnya getir. Darah yang terus mengalir rupanya menahan detak
jantungnya. Kelopak matanya mengatup.
Ini adalah akhir dari tengah malam. Dia merupakan
satu-satunya mangsa yang tak pernah meronta minta dilepaskan tali yang mengikat
dipergelangan tangan, tidak pula dia memohon padaku agar dibiarkan hidup. Dia
satu-satunya mangsa yang berhasil memojokkan aku, membangunkanku di sepertiga
malam dengan tawa dan tangis bisingnya. Berulang kali aku berteriak tidak
mencintainya, namun hanya senyap yang menyisa seusai kalimat itu diucapkan.
Wanita pemilik bola mata yang indah itu benar, aku
mendekap jasadnya yang sudah tak bernyawa. Menangis sejadi-jadinya agar dia
mendengar; entah disini atau sudah berpindah alam. Aku menjerit pada Tuhan agar
dia hidup kembali, agar aku dapat memandang bola matanya lagi. Dan entah Tuhan
mendengar atau tidak, sepasrah aku meraba tubuhnya yang menjelma menjadi sunyi.
Aku adalah pembunuh yang terlanjur jatuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar