Kamis, 26 Mei 2016

SEPASANG BOLA MATA

            Ada suara bising yang membangunkan aku diantara sepertiga malam. Suara itu berasal dari inti bumi yang mengobrak-abrik lelap tidur. Sementara burung hantu mulai melolong dalam sunyi malam dan bersembunyi di larua hamparan kabut. Aku menghembuskan napas yang tak berirama, seperti terbangun dari mimpi buruk. Ini bukan tentang aku menimang malam, ini tentang sebuah cerita yang ingin aku rebus sendiri; dan waktu memang sebagian dari alam yang brutal. Aku memang tak pernah dibutakan oleh rasa sampai ketika…
            Suatu senja di bulan Maret, aku bertemu sepasang mata indah dari seorang wanita yang menari diantara kontradiksi waktu. Tarian itu menjulur seolah tak rentan akan jarum jam yang bergerak ke kanan. Memutar waktu yang membentang ke belakang. Baru kali ini aku ketakutan. Kedua bola mata itu membius sebagian otak yang tampak mati, mencari seuntai rasa dalam otakku. Dan ini gila, bola mata itu menyusuri tiap gang dikepalaku. Kembali pada ruam pola alam bawah sadar, rasa. Memang menyesakkan pada awalnya. Lalu aku memburu rasa bersama sepasang mata itu, mencari jejak yang tersemat oleh sekat-sekat otak. Ini terasa seperti labirin tak bertepi. Aku tersesat sendiri jadinya.
            Aku marah. Rasa itu sedang bersembunyi dan menyeruak bagai tentara tengah malam dalam perang musim dingin. Aku meronta oleh peluru hitam yang mencekam, menelusur di peraduan sepi-sepi. Kemudian aku tersadar bahwa aku bukan saksi peristiwa, aku adalah lelaki yang terjerumus oleh keindahan mata. Mabuk kepayang ini membuatku terlihat liar, aku terbawa oleh angin. Benar saja, aku telah terkesima.
            Bagaimana bisa suara bising itu bergejolak dalam runtutan waktu yang menjenjang ke belakang? Tapi kali ini terasa berbeda, sepasang bola mata itu seakan membunuhku. Sesaat kubiarkan diriku terlempar ke inti bumi, begitu aku menyebutnya. Sepasang bola mata itu ada disana, menangis bagai domba yang tersesat. Dia menatapku tajam dan menyayat.
            “Semudah itu kau menyerap fajar yang melebam?” Tanya dia. Aku berdehem, mengatur detak jantung yang hampir terdengar.
            “Rasa,”
            “Kau mencari rasa? Disini?” dia setengah menjerit, kembali menangis dalam peraduan. “Kau kira kau hebat; menerjemahkan rasa yang memanggilmu dalam semu. Kau hanya secerca ruang hampa yang menepi sendiri. Dan aku… aku…” dia enggan melanjutkan, tangisannya tambah bising.
            “Aku sudah lupa bagaimana caranya menatapmu lagi,” dia menyelesaikan kalimatnya. Lalu aku menghampirinya lebih dekat, menyusuri pandangan mata yang basah.
            “Jangan menjadi senyawa yang mendidih di bejana rindu, aku mohon. Aku belum selesai membunuh rasa,” bisikku getir.
            “Atau rasa yang akan membunuhmu?” dia bertanya dengan suara terkekeh. Aku melangkah mundur, berhati-hati.
            “Bukan. Aku yang akan membunuhnya,” aku meyakinkan. Amarahku kian meluap, desah napasku memburu dan dadaku terasa sesak.
            “Bukan. Rasa akan membunuhmu. Kau lupa?” matanya membara, aku terpojok. Dia memberikan lantunan bait yang membongkah di sepertiga malam ini.
            “Aku berjaga, barang kali rasa itu membual. Dan secara jantan berpikir akan menyergapku duluan. Biar saja kau berkata kau benar, tapi tidak, bukan, kau hanya bersiul secara harfiah dalam gelagatmu di ambang fatamorgana. Lalu akan ku yakini kau sekali lagi tentang rasa yang membungkam dalam kematian, bukan disebut mati suri, bukan pula diam-diam terjaga bagai anak panah yang melempar batu pualam. Kau hanya tidak mengerti patahannya,” aku setengah teriak dihadapan kedua bola mata itu, dia kembali menangis.
            “Dan segala manipulasimu akan terbangun kala bulan menjadi penuh dan bundar. Kau akan menari ketika senyap menghantui. Hanya ada kau dan otakmu yang beku, meronta dibatas dini hari. Kau tidak akan menjadi sang rupawan yang selalu aku ingat, aku hanya menjelma jadi asap tebal dalam memori yang bukan kau sebut mati suri. Dan rasa yang akhirnya menang, dan kau jungkir balik mempertanyakan eksistensimu, bertanya lagi bermilyar kali, mengapa tidak kau saja yang mati,” kalimatnya mendaur ulang amarahku. Aku geram.
            “Nyatanya bukan kematian yang kau cari, hanya aku,” aku mengingatkan. Dia tertawa, atau menangis. Entahlah.
            “Memang kau mengerti makna kematian? Apakah aku juga mengerti? Yang aku tahu hanyalah aku yang kerap disibukkan olehmu, oleh bayangmu yang datang berkunjung disudut kamarku setiap hari,” ujarnya lirih. Aku menengadahkan kepala, menghirup angin yang berputar disekitar kepala. Namun sesak ini sudah mendarah daging.
            “Kau menyebutnya apa?” aku bertanya. Dia tertawa lagi, atau menangis lagi. Dan sekali lagi; entahlah.
            “Aku menyebutnya cinta. Kau menyebutnya rasa. Keduanya tak bergeming dalam produktifitas otak. Membelah diri, menjadi bakteri, menular,” jawabnya tegas setegas kedua bola matanya yang semakin berbinar.
            “Inikah yang kau sebut tidak waras?” aku menyayat lengannya dengan pisau dapur, dia menjerit dalam kesakitan yang tak bisa aku bayangkan. Namun sekilas aku melihat senyuman diantara kesakitan itu.
            “Aku perlu beradaptasi,” dia bergumam kegirangan.
            “Kau gila!” aku berteriak, meleburkan darah segar yang mengalir ke segala sisi.
            “Kau pikir kau bisa membunuhku, tapi tidak perasaanku,” bulat matanya semakin liar. Detak jantungku meningkat dan terdengar memekik kala bening bola mata itu memanah dada. Aku jadi ingin mengcongkel keluar bola mata itu.
            “Kemudian ada saatnya kau mendekap jasadku. Pada akhirnya kau memerangi kekalahan,” sergahnya terbata. Aku membisu sekarang, benar-benar membisu. Dan seketika suasana menjadi hening, yang tersisa hanya lantunan cacing-cacing merah muda yang menggeliat disarang tanah. Sedangkan sinar bulan diluar sana menyusup ke celah-celah inti bumi yang aku pijak, bersama si wanita yang memiliki sepasang bola mata nan cantik. Aku meresah.
            Bagaimana tidak? Aku bertanya-tanya mengapa aku tak menikmati kesakitannya, sementara semai suara kesakitan merupakan makan siang yang kerap kusantap diatas piring hitam.
            “Aku tidak mencintaimu,” tukasku geram, terdengar meyakini diriku sendiri, sembari menyayat pergelangan kaki. Namun apa ini? Kepalaku terasa mendidih, wajahku memerah seperti sedang menahan tangis. Atau itu memang bukan seperti. Aku memang tengah merajut kesakitanku sendiri. Dadaku semakin sesak.
            “Jika aku mencintaimu, kau bisa apa?” wanita itu berkata setengah berbisik, matanya sayu dan tatapannya redup. Seredup hatiku yang memohon untuk tidak melanjutkan siksanya.
            “Aku bisa membunuhmu,” jeritku mengancam, jeritan yang lembut membelai rupanya. Wanita pemilik bola mata yang indah itu tertawa.
            “Dan aku mulai menikmati kesakitan ini,” tubuhnya melemas sembari jemarinya menyusup diantara celah jemariku. “Sampai jumpa dikehidupan selanjutnya,” lanjutnya getir. Darah yang terus mengalir rupanya menahan detak jantungnya. Kelopak matanya mengatup.
            Ini adalah akhir dari tengah malam. Dia merupakan satu-satunya mangsa yang tak pernah meronta minta dilepaskan tali yang mengikat dipergelangan tangan, tidak pula dia memohon padaku agar dibiarkan hidup. Dia satu-satunya mangsa yang berhasil memojokkan aku, membangunkanku di sepertiga malam dengan tawa dan tangis bisingnya. Berulang kali aku berteriak tidak mencintainya, namun hanya senyap yang menyisa seusai kalimat itu diucapkan.
            Wanita pemilik bola mata yang indah itu benar, aku mendekap jasadnya yang sudah tak bernyawa. Menangis sejadi-jadinya agar dia mendengar; entah disini atau sudah berpindah alam. Aku menjerit pada Tuhan agar dia hidup kembali, agar aku dapat memandang bola matanya lagi. Dan entah Tuhan mendengar atau tidak, sepasrah aku meraba tubuhnya yang menjelma menjadi sunyi.

            Aku adalah pembunuh yang terlanjur jatuh cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar