Kamis, 09 Juni 2016

ASAP ROKOK


“Aku baru saja pulang dan mengadu entah bagaimana kepatahan ini menjuntai disebuah ruang imaji. Selaksa rintik hujan membaur bersama aroma puntung rokok, bersuara desir sekali; tak menggema, tak berirama, namun terlalu merdu bagi gemerlap kepak sayap burung gereja. Aku candu,” –Aku kepada setafsir asap rokok

            Ini gila! Aku berlari membelah ruas jalan raya yang diguyur hujan di bulan Maret. Aroma basah ini membiusku, menyangka aku akan kalah malam ini bersama dialog rupa-rupa lembayung. Tidak, tapi iya. Ini gila, membuatku tidak bisa bernapas bersama oksigen yang menyekap kerongkongan. Sekotak rokok didalam tas terdengar berteriak meminta untuk dibakar saja, aku memalingkan wajah dari sekotak rokok barusan. Mungkin air hujan telah memakan kenikmatan tubuhnya. Dan sekali lagi, ini gila.
            Bisa saja aku berhenti berlari untuk kali ini, berujar hujan menyembur cairan mistik merah yang menghipnotisku untuk berhenti. Namun, yang selalu kuingat adalah wanita itu yang tengah menunggu dibatas haluan. Ini bukan tentang aku yang merebak seporsi keegoisan, rupanya keegoisan juga punya hati; walau retak dan terkadang patah begitu saja. Ini tentang dia, si wanita satu almamater biru yang menyeruak bagai musuh dalam kandang, menculikku dan segala puntung-puntung rokok yang sudah kubakar habis.
            Aku sudah terbiasa mendengar suaranya, kuhabiskan malam melumat teriakannya. Bagaimana tidak, wanita itu seperti penyihir yang menjelma jadi puteri raja; setidaknya di istana hati. Bibirnya basah tersiram secangkir harapan, kepada mimpi yang tak jua berontak. Kemudian diambang sadar aku terharu dibuatnya, dibuai jemarinya yang melembah diwajahku dengan sejumput cat kuku berwarna merah tua. Dirinya selalu sejalar dengan penat dan hingar bingar yang merasuki pikiran.
            Terkadang sebuah ilusi romawi mampir sejenak di perjumpaan malam; akankah aku bisa bernapas tanpa mendengar suaranya? Suara yang begitu bersahabat bersama rindu. Terbang hingga ke ufuk barat mengirim pesan kepada rimba-rimba semesta. Tak seperti kali ini…
            “Berceloteh tentang apa saja tentangmu,” dia berbisik kepadaku. Aku mendayu secarik naskah yang tercecer. Melagu.
            “Kuterpa segenap alam dan pepatah Yunani, mengembara disini bersamamu; yang menggumul diambang pintu,” ucapku basah. Wanita itu mendesah pilu, hendak memeluk angan.
            “Gemelut senja mana yang kau bawa pulang kali ini? Bukankah sudah kutitip hati tak bertepi ketika kau pergi?” celotehnya makin pilu. Kudekap tubuhnya dari belakang, pertanda sudah lelah aku mengembara.
            “Cantikmu membisu diperaduan bintang, Adinda. Nakal dirimu kepada senja. Kau sebut senja namun padi tetap menguning dipertengahan fajar. Ingin kubuang saja hati yang kau titip di pesisir malam. Apa daya aku terperangkap didalam rumahmu nan jingga….” Dekapanku semakin erat, bintang bersinar seterang tetes hujan. “…rumahmu yang jingga kerap memanggilku. Sepah menyemat kala berbalik. Aku tak sanggup pergi lagi, berlalu tanpa arah mata angina. Sebab rindu sebagai pembatas… dan suaramu…” jantungku berdegup kencang ketika naskah yang tercecer itu terlihat buram. Mata bulan wanita itu melotot tak tertahan. Hampir saja bersua dalam perjumpaan bathin. Menyajikan satu milyar porsi gelisah yang kusadur dalam jinjit-jinjit malam. Kemudian si wanita meresah.
            “Apa, dan bagaimana suaraku menyepah dikepulanganmu, puan. Mencabik rupanya, aku pilu,” sergah wanita itu dengan mata berkaca. Aku meluap raksa hati yang paling ranum. Memejamkan mata seolah itu sendu walau benar itu sendu.
            “Suaramu yang berceloteh merdu, entah kepada siapa mengadu. Membuai sejuta kali, Adinda. Mengapa aku tersesat sedang suaramu adalah panggilan semesta yang selalu menahu dimana kakiku berpijak. Ini gila!” kataku gelisah. Sejenak kurasakan bermilyar tatap menerobos masuk pikiranku. Mereka menjelma sebagai iblis yang menghujam panah-panah merah. Menyesakkan, menyayat. Namun si wanita menggenggam tanganku; dengan suara yang aduhai melumat khayal.
            “Biar saja semua terasa salah dan kalah. Aku mementingkan dirimu yang terbenam dalam asa, kini berpulang ke palung terdalam. Kita akhirnya berjumpa, menjumpai sanak-sanak ramai bersahaja. Selamat berpulang, rupanya,” suaranya menari diantara hujan. Kalap asap rokok menyeruak seperti pelepah, terjungkir dalam-dalam. Merusak paru-paru.
            “Aku ingat tentang sekotak rokok yang pernah kau selipkan malam itu. Bukankah itu pilu, semerbak asap yang melagu dari batu-batu alam. Kecemasan yang terlanjur terlena, kau naik turunkan irama syahdu kedalam penat. Mungkin itu sahaja, asap rokok yang menjuntai kini. Aku bersedih,” kuujarkan pelantun pilu sembari membakar sepuntung rokok. Lalu ku hirup pelan-pelan dan berhasrat ingin membakar panggung Tuhan dan naskah yang tercecer itu.
            “Hanya saja…” wanita itu membelai wajahku dengan seraut senyum biru. “…Hanya saja kau salah mengartikan bisikan malam. Kau rupanya pujangga bulan permata. Bahkan aku ingin sekali menghirup asap itu bersamamu, melena malam dari dewi-dewi putus asa yang tersesat,” celoteh si wanita bersuara merdu.
            ”Kemudian kujanjikan pelantun paling syahdu yang datang dari timur, meraba asa-asa. Mimpi kita,” aku menggumam ditelinganya.
            “Maka ijinkan aku ikut bersamamu pada seribu kehidupan,” bisikku getir. Lalu kami saling mengecup, diantara asap rokok yang kini sudah menjadi puntung. Kulumat bibirnya yang ranum dalam desah suara yang enggan membuatku berhenti.
            Sorot lampu berdesir seperti pelangi di malam hari. Suara tepuk tangan penonton teater menggema bagai topeng-topeng berselimut iblis. Tirai ditutup bersama panggung megah yang terbenam dibalik lampu sorot.
            Kami masih saling mengecup, lalu si wanita tersadar kalau naskah itu usai. Dia melepas dekapanku, menggertak cemas.
            “Kau! Ubah naskah dengan ide-ide gila! Bagaimana pula kau bakar sebatang rokok itu tanpa gelisah menyerupa, kala dupa-dupa buta!” marah di wanita. Aku bergeming ketika sekelompok penitia beralmamater biru menghampiri.
            “Namun cerita ini menggemaskan, selaksa ideologi-ideologi hitam kepada rumpun penipu. Kalian adalah aksi cermat yang menggambarkan peristiwa semu, selamat saja kuucapkan,” sergah salah satu dari mereka, berbinar walau aku telah salah mengucap dialog yang semestinya. Si wanita melenggang pergi bersama sejuta amarah diwajahnya diikuti sekelompok panitia beralmamater biru yang seperti kawanan serigala merah.
            Aku duduk diantara kursi hitam, berbaur dengan benda mati. Kunyalakan lagi api, dan kubakar lagi sebatang rokok yang tersisa.
            Ini memang benar adanya, ini hanya panggung yang terlunta. Beserta segenap dialog palsu, dekapan palsu, senyum palsu, dan kecupan palsu. Segala yang palsu kecuali suara itu. Suara yang terus diputar didalam kepala. Aku merebah penat. Memang benar rupanya.

            “Aku sudah terbiasa mendengar suaramu,” gumamku mengadu kepada setafsir asap rokok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar