“Aku
baru saja pulang dan mengadu entah bagaimana kepatahan ini menjuntai disebuah
ruang imaji. Selaksa rintik hujan membaur bersama aroma puntung rokok, bersuara
desir sekali; tak menggema, tak berirama, namun terlalu merdu bagi gemerlap kepak
sayap burung gereja. Aku candu,” –Aku kepada setafsir
asap rokok
Ini gila! Aku berlari membelah ruas jalan raya yang diguyur
hujan di bulan Maret. Aroma basah ini membiusku, menyangka aku akan kalah malam
ini bersama dialog rupa-rupa lembayung. Tidak, tapi iya. Ini gila, membuatku
tidak bisa bernapas bersama oksigen yang menyekap kerongkongan. Sekotak rokok
didalam tas terdengar berteriak meminta untuk dibakar saja, aku memalingkan
wajah dari sekotak rokok barusan. Mungkin air hujan telah memakan kenikmatan
tubuhnya. Dan sekali lagi, ini gila.
Bisa saja aku berhenti berlari untuk kali ini, berujar
hujan menyembur cairan mistik merah yang menghipnotisku untuk berhenti. Namun,
yang selalu kuingat adalah wanita itu yang tengah menunggu dibatas haluan. Ini
bukan tentang aku yang merebak seporsi keegoisan, rupanya keegoisan juga punya
hati; walau retak dan terkadang patah begitu saja. Ini tentang dia, si wanita
satu almamater biru yang menyeruak bagai musuh dalam kandang, menculikku dan
segala puntung-puntung rokok yang sudah kubakar habis.
Aku sudah terbiasa mendengar suaranya, kuhabiskan malam
melumat teriakannya. Bagaimana tidak, wanita itu seperti penyihir yang menjelma
jadi puteri raja; setidaknya di istana hati. Bibirnya basah tersiram secangkir
harapan, kepada mimpi yang tak jua berontak. Kemudian diambang sadar aku
terharu dibuatnya, dibuai jemarinya yang melembah diwajahku dengan sejumput cat
kuku berwarna merah tua. Dirinya selalu sejalar dengan penat dan hingar bingar
yang merasuki pikiran.
Terkadang sebuah ilusi romawi mampir sejenak di
perjumpaan malam; akankah aku bisa bernapas tanpa mendengar suaranya? Suara
yang begitu bersahabat bersama rindu. Terbang hingga ke ufuk barat mengirim
pesan kepada rimba-rimba semesta. Tak seperti kali ini…
“Berceloteh tentang apa saja tentangmu,” dia berbisik
kepadaku. Aku mendayu secarik naskah yang tercecer. Melagu.
“Kuterpa segenap alam dan pepatah Yunani, mengembara
disini bersamamu; yang menggumul diambang pintu,” ucapku basah. Wanita itu
mendesah pilu, hendak memeluk angan.
“Gemelut senja mana yang kau bawa pulang kali ini?
Bukankah sudah kutitip hati tak bertepi ketika kau pergi?” celotehnya makin
pilu. Kudekap tubuhnya dari belakang, pertanda sudah lelah aku mengembara.
“Cantikmu membisu diperaduan bintang, Adinda. Nakal
dirimu kepada senja. Kau sebut senja namun padi tetap menguning dipertengahan
fajar. Ingin kubuang saja hati yang kau titip di pesisir malam. Apa daya aku
terperangkap didalam rumahmu nan jingga….” Dekapanku semakin erat, bintang bersinar
seterang tetes hujan. “…rumahmu yang jingga kerap memanggilku. Sepah menyemat
kala berbalik. Aku tak sanggup pergi lagi, berlalu tanpa arah mata angina.
Sebab rindu sebagai pembatas… dan suaramu…” jantungku berdegup kencang ketika
naskah yang tercecer itu terlihat buram. Mata bulan wanita itu melotot tak
tertahan. Hampir saja bersua dalam perjumpaan bathin. Menyajikan satu milyar
porsi gelisah yang kusadur dalam jinjit-jinjit malam. Kemudian si wanita
meresah.
“Apa, dan bagaimana suaraku menyepah dikepulanganmu,
puan. Mencabik rupanya, aku pilu,” sergah wanita itu dengan mata berkaca. Aku
meluap raksa hati yang paling ranum. Memejamkan mata seolah itu sendu walau
benar itu sendu.
“Suaramu yang berceloteh merdu, entah kepada siapa
mengadu. Membuai sejuta kali, Adinda. Mengapa aku tersesat sedang suaramu
adalah panggilan semesta yang selalu menahu dimana kakiku berpijak. Ini gila!”
kataku gelisah. Sejenak kurasakan bermilyar tatap menerobos masuk pikiranku.
Mereka menjelma sebagai iblis yang menghujam panah-panah merah. Menyesakkan,
menyayat. Namun si wanita menggenggam tanganku; dengan suara yang aduhai
melumat khayal.
“Biar saja semua terasa salah dan kalah. Aku mementingkan
dirimu yang terbenam dalam asa, kini berpulang ke palung terdalam. Kita akhirnya
berjumpa, menjumpai sanak-sanak ramai bersahaja. Selamat berpulang, rupanya,”
suaranya menari diantara hujan. Kalap asap rokok menyeruak seperti pelepah,
terjungkir dalam-dalam. Merusak paru-paru.
“Aku ingat tentang sekotak rokok yang pernah kau selipkan
malam itu. Bukankah itu pilu, semerbak asap yang melagu dari batu-batu alam.
Kecemasan yang terlanjur terlena, kau naik turunkan irama syahdu kedalam penat.
Mungkin itu sahaja, asap rokok yang menjuntai kini. Aku bersedih,” kuujarkan
pelantun pilu sembari membakar sepuntung rokok. Lalu ku hirup pelan-pelan dan
berhasrat ingin membakar panggung Tuhan dan naskah yang tercecer itu.
“Hanya saja…” wanita itu membelai wajahku dengan seraut
senyum biru. “…Hanya saja kau salah mengartikan bisikan malam. Kau rupanya
pujangga bulan permata. Bahkan aku ingin sekali menghirup asap itu bersamamu,
melena malam dari dewi-dewi putus asa yang tersesat,” celoteh si wanita
bersuara merdu.
”Kemudian kujanjikan pelantun paling syahdu yang datang
dari timur, meraba asa-asa. Mimpi kita,” aku menggumam ditelinganya.
“Maka ijinkan aku ikut bersamamu pada seribu kehidupan,”
bisikku getir. Lalu kami saling mengecup, diantara asap rokok yang kini sudah
menjadi puntung. Kulumat bibirnya yang ranum dalam desah suara yang enggan membuatku
berhenti.
Sorot lampu berdesir seperti pelangi di malam hari. Suara
tepuk tangan penonton teater menggema bagai topeng-topeng berselimut iblis.
Tirai ditutup bersama panggung megah yang terbenam dibalik lampu sorot.
Kami masih saling mengecup, lalu si wanita tersadar kalau
naskah itu usai. Dia melepas dekapanku, menggertak cemas.
“Kau! Ubah naskah dengan ide-ide gila! Bagaimana pula kau
bakar sebatang rokok itu tanpa gelisah menyerupa, kala dupa-dupa buta!” marah
di wanita. Aku bergeming ketika sekelompok penitia beralmamater biru
menghampiri.
“Namun cerita ini menggemaskan, selaksa ideologi-ideologi
hitam kepada rumpun penipu. Kalian adalah aksi cermat yang menggambarkan
peristiwa semu, selamat saja kuucapkan,” sergah salah satu dari mereka, berbinar
walau aku telah salah mengucap dialog yang semestinya. Si wanita melenggang
pergi bersama sejuta amarah diwajahnya diikuti sekelompok panitia beralmamater
biru yang seperti kawanan serigala merah.
Aku duduk diantara kursi hitam, berbaur dengan benda
mati. Kunyalakan lagi api, dan kubakar lagi sebatang rokok yang tersisa.
Ini memang benar adanya, ini hanya panggung yang
terlunta. Beserta segenap dialog palsu, dekapan palsu, senyum palsu, dan kecupan
palsu. Segala yang palsu kecuali suara itu. Suara yang terus diputar didalam
kepala. Aku merebah penat. Memang benar rupanya.
“Aku sudah terbiasa mendengar suaramu,” gumamku mengadu
kepada setafsir asap rokok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar