Rabu, 22 Juni 2016

TEKA-TEKI

Dalam nanarnya pandanganku; aku melihat bongkah-bongkah kristal, bak aurora senja termanis dalam secarik bait-bait doa. Bagaimana rindu ini begitu terasa ranum, terasa menggumpal di antara bisu dan semak-semak jantung. Kala wajahmu membaur oleh syahdunya petang, dan sehamparan tawa yang terdengar familiar olehku, belum lagi sekelebat ceritamu yang mekar dalam semalam. Candu aku.
Tapi kesendirian ini terlalu memuakkan, menyeruak hingga ke akar paru-paru; seolah membelenggu menjadi benalu yang memeluk pusat jantung. Seketika aku mengingat dahulu kau menyentakku, kaget aku dibuatnya. Rupamu begitu mengerikan dengan sejumput amarah yang berada diujung lidahmu dan menelanku mentah-mentah. Lalu kau suguhkan teorimu yang memaksaku untuk masuk akal… tentang mimpi. Tentang mimpi. Tentang mimpi… Mimpi yang kerap mengalahkan aku dengan semua teka-tekimu, serta sebalut labirin yang menguras otakku. Aku berpikir sepanjang waktu kala itu, dimana kau letakkan puing-puing tawamu? Apa kau sembunyikan diantara gelap malam atau angin yang membawanya pergi keatas langit, disimpan rapi didalam kotak oleh dewa dewi.
Hatimu bagaikan puzzle dengan warna yang tengah luntur oleh hujan. Berserakan puzzle itu dibelantara mataku yang berair, kemudian kau tak menjawab langkah mana yang harus aku ambil; menyeka air yang melembab dimataku atau memungut puzzle yang mustahil untuk aku satukan. Semua ini hanya tanda tanya, merebak dibagian timur jendela kamarku. Terkadang aku menoleh sejenak kearah itu, memastikan apa kau sedang berada jauh di bulan menertawai keparauanku atau malah kau sembunyikan bulan itu yang satu-satunya menjadi tempat jawabanku. Kau manusia paling aneh yang sempat aku miliki, namun kau juga wanita termanis di alam semesta yang tak bertepi.
Aku ingat kala kau bersemayam dalam gerahmu yang mengumpat, kau bilang kau ingin lari saja. Yang menjadi masalah, bagaimana kau bisa berlari sedangkan kau sendiri yang mengikat kakimu ditiang depan timur jendelaku? Kau meraung, berteriak, menggelisahkan diri tengah malam dengan balutan jilbab hitam menyelimuti tubuhmu, seakan-akan kau malaikat kesepian yang mencari pujangga untuk terlena dihadapanmu. Benar, aku memang terlena. Kau menyekap ragaku, membolak-balikkan otakku dan menggenggam ruhku terlalu erat hingga aku sulit untuk menyelaraskan semua itu.
Kemudian, belum puas dengan semua elegi pemikiranmu, kau sadurkan secerca bibir tipis yang berada diantara misteri. Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang kau rangkum dibibirmu yang komat-kamit. Apakah itu gerangan sedihmu yang menjemu atau kau sedang kutuk aku oleh runtutan ceritamu yang hendak kau suarakan? Aku hanya bisa menafsirkan, tafsiran sebuah misteri yang tak jua terpecahkan, entah oleh waktu.
Maka saat bulan Juni tiba, kau hantam berkali-kali ruang pemikiranmu yang gila. Berteriak lagi tentang mimpi-mimpi sebagai media untuk menyerka akal sehatku. Kau gali kubur kesabaranku, kau obrak-abrik pandanganku, kau naik turunkan patahan hatiku. Dan entah, bisu ini telah membuatmu pergi. Tak ada ragu kau lepas ikatan rantai ditiang sebelah timur jendela, kau lilitkan rantai itu dileherku, membuatku kerap bertanya-tanya; bagaimana kau bisa seberantakan ini dimataku?
Sebab kini, aku merindukan erangan tengah malammu. Aku merindukan desahan tangismu yang tiba-tiba saja menyeruak tanpa sebab. Aku merindukan amarahmu yang kadang terlihat dan kadang tidak. Aku merindukan pemikiran teka-tekimu yang memaksaku untuk berjalan sesuai dengan kenyataan gila. Aku merindukan ranumnya ceritamu yang setiap pagi kau tuang dalam secangkir kopi hitamku. Aku merindukan patahnya kau dalam hujan serta membaur dalam aroma tanah yang basah. Aku tidak perduli dengan tawamu, itu satu paket dengan tarian misteri yang menari diujung bibir basahmu serta bergumul disela jilbab hitammu. Sebab bahagiamu, telah kusimpan rapi disini, dirumpun jemariku. Jaga-jaga bila hatimu rusak lagi, akan kutebar bahagia itu.
Namun kau tak pernah kembali. Tak ada lagi teka-teki tentangmu. Dan dalam keputusasaanku yang berteriak pada Tuhan, ternyata Tuhan mengirimkan sesosok makhluk yang siap membantuku. Dia pendek, tubuhnya tersamar bersama aurora senja. Wanginya bagaikan Dandelion sehingga aku bisa mengendus arus perjalanan yang begitu panjang. Dia terbang mengitariku, mengepakkan sayap kecilnya yang tampak rapuh.
            “Ada apa gerangan yang membuatmu pilu dan air kristalmu yang membangunkan aku diantara waktu hibernasi seperempat abad ini, tuan?” ujarnya bertanya dengan suara imut seekor ngengat.
            “Aku ingin menghapus belantara memori otak yang kerap mengingatkan aku pada wanita berjilbab hitam itu, bersediakah kau mengabulkan permohonanku, peri kecil?” sergahku gusar. Makhluk itu tersenyum.
            “Tentu saja, tuan. Ingatan adalah makananku, begitulah Tuhan menciptakanku sebagai malaikat pencabut ingatan. Ini tak lebih buruk dari malaikat pencabut nyawa bukan?” tukasnya berbinar.
            “Ya, gunakan kekuatan itu untuk merembab dalam semesta pikiranku. Wanita itu masih membelenggu, masih menikam nadi berkali-kali. Dan aku beruntung Tuhan mempertemukanku denganmu dari pada malaikat pencabut nyawa sebab aku belum siap mati, peri kecil,” ucapku bersungut.
            “Benar, tuan! Aku mendengar kisah dari selatan yang kerap dibicarakan oleh malaikat hujan dan penjaga malam yakni sesosok malaikat pencabut nyawa yang terlanjur jatuh cinta pada manusia yang akan mati digenggamannya. Kemudian malaikat itu tak pernah bersuara lagi pada Tuhan, hanya patuh mencabut nyawa dengan ganasnya. Wih! Jadi bergidik bulu kudukku. Kabarnya, matanya merah dengan sayap hitam yang menggelegar dilangit. Mengepak begitu gagah namun melukai malaikat hujan sehingga ia menangis dalam pedihnya. Kau tahu? Badai hujan menyapu seluruh kota selama berhari-hari. Akibat siapa coba? Si malaikat pencabut nyawa! Siapa sangka sayapnya melukai malaikat hujan,” ujar peri kecil itu terkekeh. Aku membisu dan terpana oleh kicauan mungilnya. Dia berhedem dua kali, melanjutkan ucapannya. “Namun, tuan, ingatlah bahwa memori itu tak dapat kubawakan kembali untukmu. Kau tahu para orang tua yang sudah uzur termakan usia? Tuhan memerintahkan aku untuk mencabut ingatannya, sedikit demi sedikit, secuil dan secuil. Iya, Tuhan memang baik, agar kelak jika malaikat pencabut nyawa datang untuk merenggut ruhnya, manusia tua itu akan baik-baik saja untuk meninggalkan bumi beserta orang-orang yang dicintai,” peri kecil menjelaskan dengan sumringah.
            “Aku tak mengapa, sungguh. Jadi tolong enyahkan ingatan ini, enyahkan saja. Sudah muak aku merindukannya,” ucapku pilu. Peri kecil itu meraba wajahku dengan tangan mungilnya disela senyuman nan cantik rupawan. Aku tenggelam dalam ilusi.
            Tiba-tiba aku bangun dan aku menemukan diriku terhampar diatas tempat tidur bangsal rumah sakit dengan luka disekujur tubuhku. Nampak wanita asing dengan balutan jilbab berwarna hitam tersedu diambang pilu, mereka-reka bangunnya aku.

            Kau tahu cerita drama televisi tak masuk akal tentang amnesia? Begitulah diriku saat ini; setengah terbungkam dengan teka-teki baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar