Dalam
nanarnya pandanganku; aku melihat bongkah-bongkah kristal, bak aurora senja
termanis dalam secarik bait-bait doa. Bagaimana rindu ini begitu terasa ranum,
terasa menggumpal di antara bisu dan semak-semak jantung. Kala wajahmu membaur
oleh syahdunya petang, dan sehamparan tawa yang terdengar familiar olehku,
belum lagi sekelebat ceritamu yang mekar dalam semalam. Candu aku.
Tapi
kesendirian ini terlalu memuakkan, menyeruak hingga ke akar paru-paru; seolah
membelenggu menjadi benalu yang memeluk pusat jantung. Seketika aku mengingat
dahulu kau menyentakku, kaget aku dibuatnya. Rupamu begitu mengerikan dengan
sejumput amarah yang berada diujung lidahmu dan menelanku mentah-mentah. Lalu
kau suguhkan teorimu yang memaksaku untuk masuk akal… tentang mimpi. Tentang
mimpi. Tentang mimpi… Mimpi yang kerap mengalahkan aku dengan semua
teka-tekimu, serta sebalut labirin yang menguras otakku. Aku berpikir sepanjang
waktu kala itu, dimana kau letakkan puing-puing tawamu? Apa kau sembunyikan
diantara gelap malam atau angin yang membawanya pergi keatas langit, disimpan
rapi didalam kotak oleh dewa dewi.
Hatimu
bagaikan puzzle dengan warna yang
tengah luntur oleh hujan. Berserakan puzzle
itu dibelantara mataku yang berair, kemudian kau tak menjawab langkah mana yang
harus aku ambil; menyeka air yang melembab dimataku atau memungut puzzle yang mustahil untuk aku satukan.
Semua ini hanya tanda tanya, merebak dibagian timur jendela kamarku. Terkadang
aku menoleh sejenak kearah itu, memastikan apa kau sedang berada jauh di bulan
menertawai keparauanku atau malah kau sembunyikan bulan itu yang satu-satunya
menjadi tempat jawabanku. Kau manusia paling aneh yang sempat aku miliki, namun
kau juga wanita termanis di alam semesta yang tak bertepi.
Aku
ingat kala kau bersemayam dalam gerahmu yang mengumpat, kau bilang kau ingin
lari saja. Yang menjadi masalah, bagaimana kau bisa berlari sedangkan kau
sendiri yang mengikat kakimu ditiang depan timur jendelaku? Kau meraung,
berteriak, menggelisahkan diri tengah malam dengan balutan jilbab hitam
menyelimuti tubuhmu, seakan-akan kau malaikat kesepian yang mencari pujangga
untuk terlena dihadapanmu. Benar, aku memang terlena. Kau menyekap ragaku,
membolak-balikkan otakku dan menggenggam ruhku terlalu erat hingga aku sulit
untuk menyelaraskan semua itu.
Kemudian,
belum puas dengan semua elegi pemikiranmu, kau sadurkan secerca bibir tipis
yang berada diantara misteri. Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang kau
rangkum dibibirmu yang komat-kamit. Apakah itu gerangan sedihmu yang menjemu
atau kau sedang kutuk aku oleh runtutan ceritamu yang hendak kau suarakan? Aku
hanya bisa menafsirkan, tafsiran sebuah misteri yang tak jua terpecahkan, entah
oleh waktu.
Maka
saat bulan Juni tiba, kau hantam berkali-kali ruang pemikiranmu yang gila.
Berteriak lagi tentang mimpi-mimpi sebagai media untuk menyerka akal sehatku.
Kau gali kubur kesabaranku, kau obrak-abrik pandanganku, kau naik turunkan
patahan hatiku. Dan entah, bisu ini telah membuatmu pergi. Tak ada ragu kau
lepas ikatan rantai ditiang sebelah timur jendela, kau lilitkan rantai itu
dileherku, membuatku kerap bertanya-tanya; bagaimana kau bisa seberantakan ini
dimataku?
Sebab
kini, aku merindukan erangan tengah malammu. Aku merindukan desahan tangismu
yang tiba-tiba saja menyeruak tanpa sebab. Aku merindukan amarahmu yang kadang
terlihat dan kadang tidak. Aku merindukan pemikiran teka-tekimu yang memaksaku
untuk berjalan sesuai dengan kenyataan gila. Aku merindukan ranumnya ceritamu
yang setiap pagi kau tuang dalam secangkir kopi hitamku. Aku merindukan
patahnya kau dalam hujan serta membaur dalam aroma tanah yang basah. Aku tidak
perduli dengan tawamu, itu satu paket dengan tarian misteri yang menari diujung
bibir basahmu serta bergumul disela jilbab hitammu. Sebab bahagiamu, telah
kusimpan rapi disini, dirumpun jemariku. Jaga-jaga bila hatimu rusak lagi, akan
kutebar bahagia itu.
Namun
kau tak pernah kembali. Tak ada lagi teka-teki tentangmu. Dan dalam
keputusasaanku yang berteriak pada Tuhan, ternyata Tuhan mengirimkan sesosok
makhluk yang siap membantuku. Dia pendek, tubuhnya tersamar bersama aurora
senja. Wanginya bagaikan Dandelion sehingga aku bisa mengendus arus perjalanan
yang begitu panjang. Dia terbang mengitariku, mengepakkan sayap kecilnya yang
tampak rapuh.
“Ada apa gerangan yang membuatmu pilu dan air kristalmu
yang membangunkan aku diantara waktu hibernasi seperempat abad ini, tuan?”
ujarnya bertanya dengan suara imut seekor ngengat.
“Aku ingin menghapus belantara memori otak yang kerap
mengingatkan aku pada wanita berjilbab hitam itu, bersediakah kau mengabulkan
permohonanku, peri kecil?” sergahku gusar. Makhluk itu tersenyum.
“Tentu saja, tuan. Ingatan adalah makananku, begitulah
Tuhan menciptakanku sebagai malaikat pencabut ingatan. Ini tak lebih buruk dari
malaikat pencabut nyawa bukan?” tukasnya berbinar.
“Ya, gunakan kekuatan itu untuk merembab dalam semesta
pikiranku. Wanita itu masih membelenggu, masih menikam nadi berkali-kali. Dan
aku beruntung Tuhan mempertemukanku denganmu dari pada malaikat pencabut nyawa
sebab aku belum siap mati, peri kecil,” ucapku bersungut.
“Benar, tuan! Aku mendengar kisah dari selatan yang kerap
dibicarakan oleh malaikat hujan dan penjaga malam yakni sesosok malaikat
pencabut nyawa yang terlanjur jatuh cinta pada manusia yang akan mati digenggamannya.
Kemudian malaikat itu tak pernah bersuara lagi pada Tuhan, hanya patuh mencabut
nyawa dengan ganasnya. Wih! Jadi bergidik bulu kudukku. Kabarnya, matanya merah
dengan sayap hitam yang menggelegar dilangit. Mengepak begitu gagah namun melukai
malaikat hujan sehingga ia menangis dalam pedihnya. Kau tahu? Badai hujan
menyapu seluruh kota selama berhari-hari. Akibat siapa coba? Si malaikat
pencabut nyawa! Siapa sangka sayapnya melukai malaikat hujan,” ujar peri kecil
itu terkekeh. Aku membisu dan terpana oleh kicauan mungilnya. Dia berhedem dua
kali, melanjutkan ucapannya. “Namun, tuan, ingatlah bahwa memori itu tak dapat
kubawakan kembali untukmu. Kau tahu para orang tua yang sudah uzur termakan
usia? Tuhan memerintahkan aku untuk mencabut ingatannya, sedikit demi sedikit,
secuil dan secuil. Iya, Tuhan memang baik, agar kelak jika malaikat pencabut
nyawa datang untuk merenggut ruhnya, manusia tua itu akan baik-baik saja untuk
meninggalkan bumi beserta orang-orang yang dicintai,” peri kecil menjelaskan
dengan sumringah.
“Aku tak mengapa, sungguh. Jadi tolong enyahkan ingatan
ini, enyahkan saja. Sudah muak aku merindukannya,” ucapku pilu. Peri kecil itu
meraba wajahku dengan tangan mungilnya disela senyuman nan cantik rupawan. Aku
tenggelam dalam ilusi.
Tiba-tiba aku bangun dan aku menemukan diriku terhampar
diatas tempat tidur bangsal rumah sakit dengan luka disekujur tubuhku. Nampak
wanita asing dengan balutan jilbab berwarna hitam tersedu diambang pilu,
mereka-reka bangunnya aku.
Kau tahu cerita drama televisi tak masuk akal tentang
amnesia? Begitulah diriku saat ini; setengah terbungkam dengan teka-teki baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar