Jika
aku dapat terlahir kembali, aku ingin meranggas seperti kapas. Aku ingin
menjangkiti akar pohon yang berumur setengah abad, sejalar dengan rongga batang
yang begitu kokoh. Aku ingin bernapas seperti seekor burung pincang, mencabik
cacing keluar dari dalam tanah. Aku hanya ingin seperti itu.
Seperempat jam berlalu, aku mencumbui ketertarikan
pikiran malabiruku sendiri. Terjebak aku hingga mencekik kerongkongan. Memikirkan
sesuatu hal yang entah; aku nikmati sendiri. Kemudian datang menghampiri
seorang manusia berbalut pakaian hitam, memanah tatapan yang enggan kuhindari. Tatapan
itu semerbak seperti pengganti makan siang yang hampir terlambat datang. Diam-diam
aku mencicipi telusur bola mata, kutarik bayang sosokku dari dalam pupilnya. Aku
mendesah gusar, segusar pemikiranku barusan.
Kemudian aku mengerucut, mencibir diriku bak pecundang
dalam kardus lusuh dihamparan jalan kota Amsterdam. Aku mengelabui kekalahan
yang kucipta sendiri, bertanya; mata milik siapa yang menelusur dercik
bianglala ini? Tetapi aku sudah terlanjur menyerah.
Pemilik mata itu datang menghampiriku dengan sejumput
karikatur rasa penasaran yang mengharu biru. Tersenyum; ramah sekali. Ada gerakan
hampa maya yang tersambar petir dari setiap gerak-geriknya.
“Gerangan apa tuan yang memusnahkan kecibiran dari dua
penggal suku kata sedari tadi, yang enggan ku sebut sebagai rasa?” ucapnya
bergemerisik. Aku memutar bola mata, merendahkan tatapanku yang berujung semu.
“Jua kunanti rasa yang menggelegar dalam bingkai ini. Menarik
diriku untuk berniscaya, kemudian aku terkejut kau sebagian dari dirinya,”
sergahku.
“Bingkai ini?” sahutnya menunjuk sebuah lukisan berwarna
coklat tua.
“Harum menyongsong tiap bait coretan, membuatku tertegun
berkali-kali. Apakah kau kirana itu?” aku memanahnya dengan rupa-rupa Tanya,
membuatnya juga bertanya-tanya.
“Ketahuilah, tuan, ini hasil coretanku yang kumaknai
sebagai pohon tumbang. Pohon yang sudah melewati beberapa lapisan, meruang
dalam sekerumun manusia yang hidup dan mati. Pohon yang akhirnya ditebas
keperkasaannya, digagas harum nyawanya sampai ke akar. Aku bisa apa selain
bersedih? Kecuali dari yang terkecuali; menerka jadi apa nanti. Ternyata melukis
pohon itu semudah mencabik otakku sendiri,” cerita pemilik mata itu yang
setengah berbisik sembari menelusur jati dirinya yang terbingkai dan membungkam
disudut ruangan. Aku menyalakan sebatang rokok untuk kemudian kuhempas asap
kearah bingkai itu. Lukisan itu. Mengagumi secerca inspirasi palsu yang
terombak direnggut dari mercusuar hati.
“Ini yang kusebut seni. Bertanya kepada sang pemilik apa
makna kala tersungkur dalam penasaran yang ala kadarnya. Apa yang kulihat kali
ini, seperti sebuah perkamen usang yang dibiarkan pergi, menelan beberapa
kehidupan. Akankah kau sebut ini nyata?” ucapku sambil menghembuskan asap rokok
sekali lagi. Kali ini dia tampak berdecak, ada resah dalam hembusan napasnya.
“Adakah peristiwa yang kau sebut nyata itu benar-benar
nyata? Atau yang kau suarakan fiksi benar-benar fiksi?” keragu-raguan dalam
suaranya membuatku menyesak.
“Sebab, coretan ini membuatku jatuh cinta. Jatuh kedalam
lorong-lorong semu dan bercinta pada akar. Bagiku mudah sekali mendeskripsi
nyata atau fiksi. Jatuh cinta seperti ruang nyata dalam batas ilusi diriku. Berputar
dia seperti gelembung limbah champagne yang terkurung dalam gelas kaca berkaki
kuda,” ucapku sedikit lantang, dan menyadari puntung rokok itu jatuh tercecer
di lantai yang mengkilap. Lantai yang seakan ingin mencengkeram kakiku. Aku gusar
sekali lagi. Sang pemilik mata terkekeh sedikit, menertawakan kegusaranku.
“Aku menciptakan maha karya ini agar aku dapat memiliki
sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang akan kugagas dalam birunya langit sempit,
membius ruh-ruh liar yang memukau dengan labirin otak mereka. Sesuatu yang
ajaib dan tersesat dalam hampanya bumi. Tidakkah kau pikir ini menabjukkan?”
ucapnya setengah berlalu, meninggalkanku diantara ketidakberdayaan yang
merenggut akal sehatku. Suara derap langkahnya menggema diseluruh penjuru
ruangan. Mengobrak-abrik panas terikku.
Lalu, kujalani hidupku dengan rasa penasaran yang menggebu.
Bertahun-tahun berlalu, kubersungkur diantara bayang-bayang lukisan tersebut
seperti hari kemarin. Sampai pada akhirnya kuhembuskan napas terakhir tatkala
merangkai abstraksi kesimpulan itu. Aku tak pernah tahu, tidak benar-benar tahu
sampai aku terjebak didalamnya. Didalam lukisan itu yang menarik masuk ruh;
menjelma jadi setangkai ranting. Menggeliat diantara rentang waktu yang
panjang. Meratapi bergilir manusia yang terkesima.
Akulah makna yang tertancap dalam coretan bingkai itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar