Senin, 07 November 2016

MALABIRU

Jika aku dapat terlahir kembali, aku ingin meranggas seperti kapas. Aku ingin menjangkiti akar pohon yang berumur setengah abad, sejalar dengan rongga batang yang begitu kokoh. Aku ingin bernapas seperti seekor burung pincang, mencabik cacing keluar dari dalam tanah. Aku hanya ingin seperti itu.
            Seperempat jam berlalu, aku mencumbui ketertarikan pikiran malabiruku sendiri. Terjebak aku hingga mencekik kerongkongan. Memikirkan sesuatu hal yang entah; aku nikmati sendiri. Kemudian datang menghampiri seorang manusia berbalut pakaian hitam, memanah tatapan yang enggan kuhindari. Tatapan itu semerbak seperti pengganti makan siang yang hampir terlambat datang. Diam-diam aku mencicipi telusur bola mata, kutarik bayang sosokku dari dalam pupilnya. Aku mendesah gusar, segusar pemikiranku barusan.
            Kemudian aku mengerucut, mencibir diriku bak pecundang dalam kardus lusuh dihamparan jalan kota Amsterdam. Aku mengelabui kekalahan yang kucipta sendiri, bertanya; mata milik siapa yang menelusur dercik bianglala ini? Tetapi aku sudah terlanjur menyerah.
            Pemilik mata itu datang menghampiriku dengan sejumput karikatur rasa penasaran yang mengharu biru. Tersenyum; ramah sekali. Ada gerakan hampa maya yang tersambar petir dari setiap gerak-geriknya.
            “Gerangan apa tuan yang memusnahkan kecibiran dari dua penggal suku kata sedari tadi, yang enggan ku sebut sebagai rasa?” ucapnya bergemerisik. Aku memutar bola mata, merendahkan tatapanku yang berujung semu.
            “Jua kunanti rasa yang menggelegar dalam bingkai ini. Menarik diriku untuk berniscaya, kemudian aku terkejut kau sebagian dari dirinya,” sergahku.
            “Bingkai ini?” sahutnya menunjuk sebuah lukisan berwarna coklat tua.
            “Harum menyongsong tiap bait coretan, membuatku tertegun berkali-kali. Apakah kau kirana itu?” aku memanahnya dengan rupa-rupa Tanya, membuatnya juga bertanya-tanya.
            “Ketahuilah, tuan, ini hasil coretanku yang kumaknai sebagai pohon tumbang. Pohon yang sudah melewati beberapa lapisan, meruang dalam sekerumun manusia yang hidup dan mati. Pohon yang akhirnya ditebas keperkasaannya, digagas harum nyawanya sampai ke akar. Aku bisa apa selain bersedih? Kecuali dari yang terkecuali; menerka jadi apa nanti. Ternyata melukis pohon itu semudah mencabik otakku sendiri,” cerita pemilik mata itu yang setengah berbisik sembari menelusur jati dirinya yang terbingkai dan membungkam disudut ruangan. Aku menyalakan sebatang rokok untuk kemudian kuhempas asap kearah bingkai itu. Lukisan itu. Mengagumi secerca inspirasi palsu yang terombak direnggut dari mercusuar hati.
            “Ini yang kusebut seni. Bertanya kepada sang pemilik apa makna kala tersungkur dalam penasaran yang ala kadarnya. Apa yang kulihat kali ini, seperti sebuah perkamen usang yang dibiarkan pergi, menelan beberapa kehidupan. Akankah kau sebut ini nyata?” ucapku sambil menghembuskan asap rokok sekali lagi. Kali ini dia tampak berdecak, ada resah dalam hembusan napasnya.
            “Adakah peristiwa yang kau sebut nyata itu benar-benar nyata? Atau yang kau suarakan fiksi benar-benar fiksi?” keragu-raguan dalam suaranya membuatku menyesak.
            “Sebab, coretan ini membuatku jatuh cinta. Jatuh kedalam lorong-lorong semu dan bercinta pada akar. Bagiku mudah sekali mendeskripsi nyata atau fiksi. Jatuh cinta seperti ruang nyata dalam batas ilusi diriku. Berputar dia seperti gelembung limbah champagne yang terkurung dalam gelas kaca berkaki kuda,” ucapku sedikit lantang, dan menyadari puntung rokok itu jatuh tercecer di lantai yang mengkilap. Lantai yang seakan ingin mencengkeram kakiku. Aku gusar sekali lagi. Sang pemilik mata terkekeh sedikit, menertawakan kegusaranku.
            “Aku menciptakan maha karya ini agar aku dapat memiliki sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang akan kugagas dalam birunya langit sempit, membius ruh-ruh liar yang memukau dengan labirin otak mereka. Sesuatu yang ajaib dan tersesat dalam hampanya bumi. Tidakkah kau pikir ini menabjukkan?” ucapnya setengah berlalu, meninggalkanku diantara ketidakberdayaan yang merenggut akal sehatku. Suara derap langkahnya menggema diseluruh penjuru ruangan. Mengobrak-abrik panas terikku.
            Lalu, kujalani hidupku dengan rasa penasaran yang menggebu. Bertahun-tahun berlalu, kubersungkur diantara bayang-bayang lukisan tersebut seperti hari kemarin. Sampai pada akhirnya kuhembuskan napas terakhir tatkala merangkai abstraksi kesimpulan itu. Aku tak pernah tahu, tidak benar-benar tahu sampai aku terjebak didalamnya. Didalam lukisan itu yang menarik masuk ruh; menjelma jadi setangkai ranting. Menggeliat diantara rentang waktu yang panjang. Meratapi bergilir manusia yang terkesima.
            Akulah makna yang tertancap dalam coretan bingkai itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar