Senin, 05 Desember 2016

ROTI MENTEGA

           
            Bukankah cara dia mengoles mentega diatas roti dan menuang secangkir teh hangat begitu mengagumkan? Terhipnotis aku selama 48 tahun olehnya. Oleh sejumput harap yang terbang mengarungi bianglala, oleh sesendok mimpi yang tertenun di setiap petang, terbasuh kepak burung gereja; yang terkadang hinggap sejenak di ambang tali jemuran. Bukankah hidup ini indah oleh tawa dan tangis yang kami tulis sendiri di dinding rumah?
            Lalu ketika musim gugur tiba, tepat saat usia pernikahan kami menginjak tahun ketiga, kuurungkan niatku untuk berperang. Masih sesegar ingatanku dengan wajah yang merona kala itu, katanya, “majulah, sayang. Bendera memanggilmu untuk hidup yang angkuh termakan debu-debu gurun, menyeretmu untuk menyiksa dan tersiksa,” ucapnya sembari mengoles mentega di lembar roti pertama. Kalang kabut aku dibuatnya, disanggahnya rok berpola tsunami yang menggelepar harumnya bagai daun yang baru saja terjangkit embun. Stoking berjaring yang meredupkan hari, hari Selasa saat itu, tenggelam di peraduan rumah kayu bercat putih ini. Sekali lagi, aku menolak pergi ke medan perang, memilih untuk berperang dengannya. Perang dunia kesatu membuatku gentar, gemetar tangan dan kakiku, sesekali mencibir didepan cermin setengah retak. Tubuh ini setipis kotak pos, aku bergumam.
            Pada musim dingin tahun kelima pernikahanku, aku melihatnya menangis sembari menjemur pakaian kami. Malamnya, kami bertikai. Bukan, bukan karena aku tak ikut perang, bukan juga karena jumlah pakaian yang begitu menggunung, ataupun karena matahari bersembunyi sepanjang hari. Ini karena kedua orang tua kami mendambakan seorang anak yang tak bisa kudapatkan darinya. Bola mata yang membiru dan basah oleh sendu menusuk jantungku, menyusupi paru-paru dan menggoyahkan seluruh organ tubuhku. Dan lagi, sembari mengoleskan mentega pada lembar roti pertama, dia berbisik, “kau takkan bisa membuahiku, Rahim yang terlanjur hancur dalam sekat-sekat pasir hitam di tanah ini. Rahim yang membuat mataku memerah dan lebam. Untuk apa semua ini kau pertahankan?” dia menangis lagi, tersedu sangat mencincang bathinku. Aku meraih tangannya, mengusap wajahnya, menatapnya dengan sisa-sisa harapan yang diam-diam mencuri rindu lewat bilik rumah kami. “Kau tahu mengapa pohon begitu sepah oleh rembab hujan? Lengket itu, sayang, menelusur dalam serat pohon hingga ke akar. Getah itu takkan sekejap hilang, tak jua membebaskan diri dari tanah walau basah menjerat malam,” genggaman tanganku semakin erat, aku hampir memeluknya, namun kusimpan dulu sampai terang bulan nanti. “Sayang, percayalah, aku tak bisa menebang pohon itu hanya karena sebaris getah, aku tak bisa membiarkan pohon itu mati. Percayalah,” kini bibirnya yang lembab berhamburan menghantam wajahku, berkali-kali. Ada sekejap senyum yang tersungging di ruang bibirnya, tapi aku bisa merasakan hangatnya kepedihan yang tertinggal menepi. Wanita itu mengoles mentega diatas roti lagi.
            Tahun kedua belas pernikahan kami, rumah kayu ini masih berwarna putih dan mulai rapuh. Salju menumpuk di lintang gerbang bahagia kami. Wanita cantik itu mendesah berjuta kali, memaki dirinya didepan cermin, menyumpahi sesuatu. Katanya, “bagaimana keriput bisa secepat ini menggapai garis mataku? Lalu warna kulit wajah yang kusam termakan waktu, begitu menjerat amarahku,” aku menarik tubuhnya yang masih mungil, mengecup sudut matanya. Demi Tuhan, keriput itu terlihat jelas, dan kecantikan itu semakin nyata. Aku memandangi garis keriput itu dengan seksama. “Bagaimana bisa keriput ini begitu ajaibnya membuatku jatuh cinta kepadamu lagi?” ucapku setengah berbisik. Wanita itu tersipu, lalu berjingkrak mendekapku, menghujamiku dengan kecupan-kecupan hangat dimalam Natal kali ini. Aku berdiri memutar sebuah lagu kenangan kami berdua, dahulu, kali pertama kami bertemu di pesta pernikahan sahabat kami. Piringan hitam itu berdecik, mengalunkan suara renyah dari tuts piano. Dimalam Natal dengan semilyar butir salju yang menggertak atap rumah lusuh kami, kami berdansa. Roti mentega itu dibiarkan dingin, menjadi saksi.
            Dan 48 tahun pernikahan kami diisi oleh suara-suara riang darinya, dari kesederhanaannya yang membuatku jatuh hati kesejuta kali. 48 tahun kami hidup bersama tanpa buah hati, tidak menjadikanku membencinya, malah membuatku semakin ingin menelusuri lagi tahun-tahun berikutnya. Wanita itu tak pernah sekalipun mengeluh tentang santapan roti mentega setiap malam selama 48 tahun. Kagum aku dibuatnya. Kami berbagi usia dalam dimensi ruang dan kenyamanan kami, melewati beberapa fase waktu yang membuat kami keriput bersama.
            Namun tua tetaplah tua, sisa waktu yang semakin terkikis. Aku jatuh sakit berkali-kali. Wanita itu selalu menjagaku, menyeduh secangkir teh hangat setiap pagi dan malam, mengoles mentega tanpa mengeluh, mengusap rambutku ketika malam menjelang, menggenggam tanganku dimalam Natal, memutar lagu kenangan kami, menjemur pakaian tanpa menangis. Wanita itu setegar batu karang, tak perduli betapa jelasnya beribu lubang membekas dihatinya, dia tak pernah menjemu.
            Aku meninggalkannya tepat 48 tahun usia pernikahan kami, sayup kudengar rintih tangisnya dibalik jendela. Suaranya semakin menjauh, lubang itu terlihat lebih nyata, menganga. Aku tak sempat mengucapkan selamat tinggal, bahkan berkata aku mencintainya terasa sangat mencekik di kerongkongan. Aku meninggalkan dunia dimana telah menjadi rumah tempat dia bernapas.
            “Kau akan menembus langit ketujuh, berevolusi, menjelma, dan terlahir kembali dikehidupan selanjutnya,” sergah sesosok malaikat berkulit biru padaku. “Kau akan bereinkarnasi kembali, memulai kehidupan fana yang kekal dari awal dengan wajah, ingatan, cerita, dan periode waktu yang berbeda. Anggukan kepalamu jika kau mengerti,” lanjut malaikat itu. Aku mengangguk, namun ada sebaris kalimat yang tertahan di tenggorokan, mencekik otakku.
            “Tunggu,” sanggahku.
            “Kau telah menganggukan kepalamu,”
            “Tunggu dulu, siapapun namamu. Aku ingin mengajukan satu permohonan walaupun aku tahu ini terdengar gila,” ucapku gersang. “Aku mohon, jangan kau hilangkan satu ingatan tentang isteriku dikehidupanku selanjutnya. Satu ingatan saja, bersediakah kau?” kataku menggebu. Malaikat itu memalingkan wajahnya, suram. Sayapnya melebar dan menghempasku jauh, terjerat dimensi alam yang tak dapat lagi aku jelaskan.
            Aku membuka mata. Tubuhku yang mungil ditempa oleh tangan yang begitu hangat dan sederhana. Nampak seorang wanita dewasa memandangiku sembari tersenyum, kemudian dia mengecup keningku.
            “Anakku, jangan risau. Kau akan tumbuh dewasa dan mengerti betapa mahalnya robot itu. Ibu berjanji akan membelikanmu robot itu pada Natal tahun depan. Ok?” erat sekali genggaman tangannya, menyapu seluruh perhatianku pada deretan mainan di supermarket yang ramai. Namun pandanganku teralihkan kearah keranjang belanja yang berada disatu tangannya lagi.
            “Ibu,”
            “Hmm?”
            “Ini apa?” aku menunjuk kotak plastik kuning muda yang sedari tadi diam di keranjang itu.
            “Oh… itu roti mentega, sayang,” jelas ibu sembari berlalu.
            

          Entah mengapa, ada sekelebat rasa sakit yang terbersit dan menyinggah sejenak dihatiku kala aku memandang benda yang ibu sebut sebagai roti mentega itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar