Bukankah cara dia mengoles mentega diatas roti dan menuang
secangkir teh hangat begitu mengagumkan? Terhipnotis aku selama 48 tahun
olehnya. Oleh sejumput harap yang terbang mengarungi bianglala, oleh sesendok
mimpi yang tertenun di setiap petang, terbasuh kepak burung gereja; yang
terkadang hinggap sejenak di ambang tali jemuran. Bukankah hidup ini indah oleh
tawa dan tangis yang kami tulis sendiri di dinding rumah?
Lalu ketika musim gugur tiba, tepat saat usia pernikahan
kami menginjak tahun ketiga, kuurungkan niatku untuk berperang. Masih sesegar
ingatanku dengan wajah yang merona kala itu, katanya, “majulah, sayang. Bendera
memanggilmu untuk hidup yang angkuh termakan debu-debu gurun, menyeretmu untuk
menyiksa dan tersiksa,” ucapnya sembari mengoles mentega di lembar roti
pertama. Kalang kabut aku dibuatnya, disanggahnya rok berpola tsunami yang
menggelepar harumnya bagai daun yang baru saja terjangkit embun. Stoking berjaring
yang meredupkan hari, hari Selasa saat itu, tenggelam di peraduan rumah kayu
bercat putih ini. Sekali lagi, aku menolak pergi ke medan perang,
memilih untuk berperang dengannya. Perang dunia kesatu membuatku gentar,
gemetar tangan dan kakiku, sesekali mencibir didepan cermin setengah retak. Tubuh
ini setipis kotak pos, aku bergumam.
Pada musim dingin tahun kelima pernikahanku, aku
melihatnya menangis sembari menjemur pakaian kami. Malamnya, kami bertikai. Bukan,
bukan karena aku tak ikut perang, bukan juga karena jumlah pakaian yang begitu
menggunung, ataupun karena matahari bersembunyi sepanjang hari. Ini karena
kedua orang tua kami mendambakan seorang anak yang tak bisa kudapatkan darinya.
Bola mata yang membiru dan basah oleh sendu menusuk jantungku, menyusupi
paru-paru dan menggoyahkan seluruh organ tubuhku. Dan lagi, sembari mengoleskan
mentega pada lembar roti pertama, dia berbisik, “kau takkan bisa membuahiku, Rahim
yang terlanjur hancur dalam sekat-sekat pasir hitam di tanah ini. Rahim yang
membuat mataku memerah dan lebam. Untuk apa semua ini kau pertahankan?” dia
menangis lagi, tersedu sangat mencincang bathinku. Aku meraih tangannya,
mengusap wajahnya, menatapnya dengan sisa-sisa harapan yang diam-diam mencuri
rindu lewat bilik rumah kami. “Kau tahu mengapa pohon begitu sepah oleh rembab
hujan? Lengket itu, sayang, menelusur dalam serat pohon hingga ke akar. Getah
itu takkan sekejap hilang, tak jua membebaskan diri dari tanah walau basah
menjerat malam,” genggaman tanganku semakin erat, aku hampir memeluknya, namun
kusimpan dulu sampai terang bulan nanti. “Sayang, percayalah, aku tak bisa
menebang pohon itu hanya karena sebaris getah, aku tak bisa membiarkan pohon
itu mati. Percayalah,” kini bibirnya yang lembab berhamburan menghantam wajahku,
berkali-kali. Ada sekejap senyum yang tersungging di ruang bibirnya, tapi aku
bisa merasakan hangatnya kepedihan yang tertinggal menepi. Wanita itu mengoles
mentega diatas roti lagi.
Tahun kedua belas pernikahan kami, rumah kayu ini masih
berwarna putih dan mulai rapuh. Salju menumpuk di lintang gerbang bahagia kami.
Wanita cantik itu mendesah berjuta kali, memaki dirinya didepan cermin,
menyumpahi sesuatu. Katanya, “bagaimana keriput bisa secepat ini menggapai
garis mataku? Lalu warna kulit wajah yang kusam termakan waktu, begitu menjerat
amarahku,” aku menarik tubuhnya yang masih mungil, mengecup sudut matanya. Demi
Tuhan, keriput itu terlihat jelas, dan kecantikan itu semakin nyata. Aku memandangi
garis keriput itu dengan seksama. “Bagaimana bisa keriput ini begitu ajaibnya
membuatku jatuh cinta kepadamu lagi?” ucapku setengah berbisik. Wanita itu
tersipu, lalu berjingkrak mendekapku, menghujamiku dengan kecupan-kecupan
hangat dimalam Natal kali ini. Aku berdiri memutar sebuah lagu kenangan kami
berdua, dahulu, kali pertama kami bertemu di pesta pernikahan sahabat kami. Piringan
hitam itu berdecik, mengalunkan suara renyah dari tuts piano. Dimalam Natal
dengan semilyar butir salju yang menggertak atap rumah lusuh kami, kami
berdansa. Roti mentega itu dibiarkan dingin, menjadi saksi.
Dan 48 tahun pernikahan kami diisi oleh suara-suara riang
darinya, dari kesederhanaannya yang membuatku jatuh hati kesejuta kali. 48
tahun kami hidup bersama tanpa buah hati, tidak menjadikanku membencinya, malah
membuatku semakin ingin menelusuri lagi tahun-tahun berikutnya. Wanita itu tak
pernah sekalipun mengeluh tentang santapan roti mentega setiap malam selama 48
tahun. Kagum aku dibuatnya. Kami berbagi usia dalam dimensi ruang dan
kenyamanan kami, melewati beberapa fase waktu yang membuat kami keriput
bersama.
Namun tua tetaplah tua, sisa waktu yang semakin terkikis.
Aku jatuh sakit berkali-kali. Wanita itu selalu menjagaku, menyeduh secangkir teh
hangat setiap pagi dan malam, mengoles mentega tanpa mengeluh, mengusap rambutku
ketika malam menjelang, menggenggam tanganku dimalam Natal, memutar lagu
kenangan kami, menjemur pakaian tanpa menangis. Wanita itu setegar batu karang,
tak perduli betapa jelasnya beribu lubang membekas dihatinya, dia tak pernah
menjemu.
Aku meninggalkannya tepat 48 tahun usia pernikahan kami, sayup
kudengar rintih tangisnya dibalik jendela. Suaranya semakin menjauh, lubang itu
terlihat lebih nyata, menganga. Aku tak sempat mengucapkan selamat tinggal,
bahkan berkata aku mencintainya terasa sangat mencekik di kerongkongan. Aku meninggalkan
dunia dimana telah menjadi rumah tempat dia bernapas.
“Kau akan menembus langit ketujuh, berevolusi, menjelma,
dan terlahir kembali dikehidupan selanjutnya,” sergah sesosok malaikat berkulit
biru padaku. “Kau akan bereinkarnasi kembali, memulai kehidupan fana yang kekal
dari awal dengan wajah, ingatan, cerita, dan periode waktu yang berbeda. Anggukan
kepalamu jika kau mengerti,” lanjut malaikat itu. Aku mengangguk, namun ada
sebaris kalimat yang tertahan di tenggorokan, mencekik otakku.
“Tunggu,” sanggahku.
“Kau telah menganggukan kepalamu,”
“Tunggu dulu, siapapun namamu. Aku ingin mengajukan satu
permohonan walaupun aku tahu ini terdengar gila,” ucapku gersang. “Aku mohon,
jangan kau hilangkan satu ingatan tentang isteriku dikehidupanku selanjutnya. Satu
ingatan saja, bersediakah kau?” kataku menggebu. Malaikat itu memalingkan
wajahnya, suram. Sayapnya melebar dan menghempasku jauh, terjerat dimensi alam
yang tak dapat lagi aku jelaskan.
Aku membuka mata. Tubuhku yang mungil ditempa oleh tangan
yang begitu hangat dan sederhana. Nampak seorang wanita dewasa memandangiku
sembari tersenyum, kemudian dia mengecup keningku.
“Anakku, jangan risau. Kau akan tumbuh dewasa dan mengerti
betapa mahalnya robot itu. Ibu berjanji akan membelikanmu robot itu pada Natal
tahun depan. Ok?” erat sekali genggaman tangannya, menyapu seluruh perhatianku
pada deretan mainan di supermarket yang ramai. Namun pandanganku teralihkan kearah
keranjang belanja yang berada disatu tangannya lagi.
“Ibu,”
“Hmm?”
“Ini apa?” aku menunjuk kotak plastik kuning muda yang sedari tadi diam di
keranjang itu.
“Oh… itu roti mentega, sayang,” jelas ibu sembari
berlalu.
Entah mengapa, ada sekelebat rasa sakit yang terbersit
dan menyinggah sejenak dihatiku kala aku memandang benda yang ibu sebut sebagai
roti mentega itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar