Selasa, 10 Mei 2016

SAJAK CINTA DARI SATURNUS

…rambutnya lusuh terurai, bernapas disela-sela tirai
Membongkah bagai ruas dandelion
Terbang hingga ke ufuk timur dari satu belahan bumi
Meraba, o’meraba
Teruntuk adinda berambut lusuh, tersemu…

            Meja ini terasa kosong, menuai aroma kopi yang sengat menyeruak ruang kantorku. Sementara waktu mulai berjinjit, menertawakan kekosongan. Malam menyelinap kedalam otak-otak manusia diluar sana ketika gerimis mulai membisu, suaranya halus namun memekik. Hari ini kudekatkan hatiku sekali lagi, hingga siang menyenja; katanya. Kau tahu? Semua terasa abu-abu. Aku merebah penat yang bergemuruh sejak tadi. Menimang-nimang apakah ini perasaan atau tidak.
            Tidak. Begitu logika menari diatas kepalaku. Seperti merumuskan peristiwa logaritma menyesatkan. Teori hidup ini terasa… mengganggu nadi. Tersemat hingga melulu menjadi pecahan kaca. Aku bergeming ditengah keadaan yang memaksaku untuk keluar. Keluar dari bumi bundar yang menurutku terlihat mengerucut.
            Mengerucut kepada gadis berambut lusuh dan terurai pekat. Sebab ia adalah isi dari kekosongan. Kini gadis itu tengah mendekap jantungku yang tak berirama. Harusnya aku sadar sejak itu, seharusnya. Atau entah yang memuja kerap aku bertemu dengan bulat matanya. Dan bumi ini seperti penjara yang menyayat kita. Menyapu secuil alam semesta, berbinar kataku.
            Aku beranjak dari tempatku, menebak saja kemana kaki ini melangkah.
            “Yang benar saja!” aku bergumam kesal memukul pintu kayu berwarna hitam yang sedari tadi menyimak kegelisahanku. Mataku redup, aku menunduk. “…yang benar saja!” ucapku sembari meninggalkan ruang kantorku.
            Dalam remang lorong yang mencekam, aku melangkah hati-hati menuju Saturnus. Planet satu itu selalu menarik perhatianku. Mana ada planet yang terlalu berwarna seperti Saturnus? Lalu mataku mengintip dibalik bintang Aldebaran yang menjadi tuas dalam satu gerakan alam semesta. Aku berdecak kagum.
            “Hai manusia,” sapa alien Saturnus yang kusebut sebagai gadis berambut lusuh, memiringkan kepala sembari tersenyum.
            “Perjalanan ruang dan waktu ini terasa menyempit ya,” aku membuka percakapan. Gadis itu menghampiriku.
            “Bukankah menyenangkan untuk perjalanan yang semakin menyingkat, manusia? Aku menerka, kau bosan dengan bumi rusakmu itu. Iya, ‘kan?” mata indahnya menerawang, entah apa yang sedang dipikirkan.
            “Planetmu, bumi, indah sekali. Ingin rasanya aku memiliki. Namun alam mengamuk jengah kala kaum manusia merusaknya. Saturnus, memang tak berimbang dengan bumi. Bertelaga meraung dalam ruang hampa yang luas. Oksigen disini membirukan darah kami, memusatkan pada serat-serat perasaan nan terbunuh oleh semesta. Langitku begitu jingga, manusia, kau tahu?” lanjut si gadis berambut lusuh itu. Aku melesu, linglung. Pandanganku seketika nanar.
            “Apa yang kau cari, manusia?”
            “Apakah itu yang kusebut ketenangan? Atau kemenangan?” hatiku bergetar lalu bertanya-tanya. Apakah yang sedang aku cari?
            “Apakah kerumitan?” aku menambahkan. Si gadis alien itu memicingkan mata, berusaha menerjemahkan maksudku. Aku hanya mengangkat bahu.
            “Jangan dipikirkan apa yang kau cari. Kau hanya akan mengobrak-abrik semesta ditanganmu,” tukasnya. Seketika pikiranku basah oleh hujan Saturnus yang berwarna merah muda. Wajah si gadis mulai merona.
            “Diantara bermilyar manusia yang tersebar menyeruak dan penuh sesak, kau satu-satunya manusia yang aku suka. Gagasanmu bagai labirin yang meninabobokan aku. Aduhai sekali, manusia. Hanya saja… aku kerap melihatmu tersesat. Entah di bumi atau disini,” tangan gadis yang terlihat lemah itu membelai wajahku. Jarak kami semakin dekat.
            “Dan kau mengapa begitu menyenangkan untuk menjadi tempatku mengadu, alien?” aku menatapnya dalam-dalam. “Pemikiranku yang berliku ini berjingkat mencekik. Kau adalah bintang atlas yang menuntunku keluar dari labirin. Kau…” gadis berambut lusuh itu berjinjit, mengecup keningku. Aku menggigit bibir. Tuaian arogansinya merebah penatku, sungguh.
            “Kemudian jangan kau cari apa yang kau cari,” gadis itu berbisik. Tanganku menelusur setiap bagian tubuhnya yang sekal, napasku tersengal. Malam di Saturnus begitu indah. Tiap dekapannya melintang jauh, aku meraba kepastian.
            Kulitnya sedingin es, membekukan otakku. Rambutnya yang panjang terurai dan lusuh menyatu denganku. Aku mencium setiap aroma tubuh yang menyengat. Harum tuai arogansi merebak hingga ke ubun-ubun. Panas kepalaku menyinggah, menjadi ruang hampa yang mencekam. Terlihat bintang Aldebaran semakin memutih, bersinar namun meredup. Memilukan. Dan aku menimang perasaanku kepada gadis alien berambut lusuh itu, dari planet Saturnus. Apakah aku pecinta atau penelusur jejak lebamnya yang mengalir dalam darahku? Lalu bagaimana ini?
            “Wangi manusia memang menyegarkan,” ucap gadis itu menikmati. “Namun kau harus pulang, fajar tak akan menunggu pelarianmu,” gadis itu menyibakkan rambutnya. Aku tersenyum sendu.
            “Akankah kau mendengar kerumitanku lagi esok hari?” aku bertanya.
            “Tentu. Akan kusajikan sajak belia dan menua bersama pemikiranmu, akan kubuatkan seporsi doa untuk kedatanganmu, dan akan kulumat semua tubuhmu; esok,” gadis itu membelai dadaku, membuat jantung hati berjingkat mengusir kekosongan. Aku mengecup bibirnya sekali lagi.
            “Sampai jumpa esok dengan mimpi-mimpi berbinarmu…” aku beranjak. “Jangan lupa minum obat,” aku melanjutkan. Gadis alien itu tersemu dengan rona pipinya yang ranum.
            Dingin ini memekat malam, di Saturnus. Aku merebak batas bumi dan Saturnus yang terlalu tipis. Pintu ajaib yang menjadi pemisah antara keduanya. Kemudian aku menyesatkan diri keluar dari Saturnus; sebuah ruang bangsal merah muda rumah sakit jiwa. Aku menelusuri lagi remang lorong yang menikam akal sehatku.
            Kusebut pasien bipolar itu gadis alien berambut lusuh, dengan dunianya yang tak pernah sempit, dengan alam semesta yang ia ciptakan sendiri di rawat bangsalnya. Tiba-tiba aku pilu kala menatap jubah putih yang tengah bertengger dilenganku. Akulah dokter yang terjebak dalam bumi bundar yang rumit ini, membutuhkan perawatan intensif. Ada apa dengan manusia waras diluar sana? Ada apa dengan aturan bodoh yang tertulis dalam peristiwa sejarah? Bagaimana aku bisa mengartikan alam yang begitu rusak selain ruang Saturnus yang selalu mengirimkan sajak surat cinta untuk kebisingan planet bumi?

            Ini gila, dunia ini gila. Bukan si gadis alien berambut lusuh itu, kecamku bingar.

10 komentar:

  1. Naaaeeeesssss banget pik, gue sampe melongo, hahaha
    cuma di awal rada absurd,
    si gadis diruangan berbeda tapi si dokter bisa melihat dari mejanya, padahal ada lorongnya dulu. rada janggal disitu.
    over all, Subghanallah mengena banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya yang diawal itu bayang bayang si nona, kayak berasa dihantui gitu makanya si "aku" nya bete heuheu. btw thank you ya kritik sarannya. means alot res

      Hapus
  2. Yang gila merasa normal, yg normal bisa jadi gila.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha truth hurts yaa. tapi yang paling mendekati sih; yang gila terlihat normal, yang normal berperilaku gila. world's goin crazy

      Hapus
  3. ow ceritanya bagus kakak pikachu

    BalasHapus
  4. Gagasanmu bagai labirin yang meninabobokan aku...
    Aku orang yang jarang banget terkejut, tapi Twist-nya somehow bisa.
    Kewarasan, apa aku butuh itu untuk baca kisah-kisah lainnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm, emang, definisi waras itu apa ya? hehehe
      anyway thank you, emergency

      Hapus
    2. Yeah, gonna the other stories later...

      Hapus