…rambutnya lusuh terurai, bernapas disela-sela tirai
Membongkah bagai ruas dandelion
Terbang hingga ke ufuk timur dari satu belahan bumi
Meraba, o’meraba
Teruntuk adinda berambut lusuh, tersemu…
Meja ini terasa kosong, menuai aroma kopi yang sengat
menyeruak ruang kantorku. Sementara waktu mulai berjinjit, menertawakan
kekosongan. Malam menyelinap kedalam otak-otak manusia diluar sana ketika gerimis
mulai membisu, suaranya halus namun memekik. Hari ini kudekatkan hatiku sekali
lagi, hingga siang menyenja; katanya. Kau tahu? Semua terasa abu-abu. Aku merebah
penat yang bergemuruh sejak tadi. Menimang-nimang apakah ini perasaan atau
tidak.
Tidak. Begitu logika menari diatas kepalaku. Seperti merumuskan
peristiwa logaritma menyesatkan. Teori hidup ini terasa… mengganggu nadi. Tersemat
hingga melulu menjadi pecahan kaca. Aku bergeming ditengah keadaan yang
memaksaku untuk keluar. Keluar dari bumi bundar yang menurutku terlihat
mengerucut.
Mengerucut kepada gadis berambut lusuh dan terurai pekat.
Sebab ia adalah isi dari kekosongan. Kini gadis itu tengah mendekap jantungku
yang tak berirama. Harusnya aku sadar sejak itu, seharusnya. Atau entah yang
memuja kerap aku bertemu dengan bulat matanya. Dan bumi ini seperti penjara yang
menyayat kita. Menyapu secuil alam semesta, berbinar kataku.
Aku beranjak dari tempatku, menebak saja kemana kaki ini
melangkah.
“Yang benar saja!” aku bergumam kesal memukul pintu kayu
berwarna hitam yang sedari tadi menyimak kegelisahanku. Mataku redup, aku
menunduk. “…yang benar saja!” ucapku sembari meninggalkan ruang kantorku.
Dalam remang lorong yang mencekam, aku melangkah
hati-hati menuju Saturnus. Planet satu itu selalu menarik perhatianku. Mana ada
planet yang terlalu berwarna seperti Saturnus? Lalu mataku mengintip dibalik
bintang Aldebaran yang menjadi tuas dalam satu gerakan alam semesta. Aku berdecak
kagum.
“Hai manusia,” sapa alien Saturnus yang kusebut sebagai
gadis berambut lusuh, memiringkan kepala sembari tersenyum.
“Perjalanan ruang dan waktu ini terasa menyempit ya,” aku
membuka percakapan. Gadis itu menghampiriku.
“Bukankah menyenangkan untuk perjalanan yang semakin
menyingkat, manusia? Aku menerka, kau bosan dengan bumi rusakmu itu. Iya, ‘kan?”
mata indahnya menerawang, entah apa yang sedang dipikirkan.
“Planetmu, bumi, indah sekali. Ingin rasanya aku
memiliki. Namun alam mengamuk jengah kala kaum manusia merusaknya. Saturnus,
memang tak berimbang dengan bumi. Bertelaga meraung dalam ruang hampa yang
luas. Oksigen disini membirukan darah kami, memusatkan pada serat-serat
perasaan nan terbunuh oleh semesta. Langitku begitu jingga, manusia, kau tahu?”
lanjut si gadis berambut lusuh itu. Aku melesu, linglung. Pandanganku seketika
nanar.
“Apa yang kau cari, manusia?”
“Apakah itu yang kusebut ketenangan? Atau kemenangan?”
hatiku bergetar lalu bertanya-tanya. Apakah yang sedang aku cari?
“Apakah kerumitan?” aku menambahkan. Si gadis alien itu
memicingkan mata, berusaha menerjemahkan maksudku. Aku hanya mengangkat bahu.
“Jangan dipikirkan apa yang kau cari. Kau hanya akan
mengobrak-abrik semesta ditanganmu,” tukasnya. Seketika pikiranku basah oleh
hujan Saturnus yang berwarna merah muda. Wajah si gadis mulai merona.
“Diantara bermilyar manusia yang tersebar menyeruak dan
penuh sesak, kau satu-satunya manusia yang aku suka. Gagasanmu bagai labirin
yang meninabobokan aku. Aduhai sekali, manusia. Hanya saja… aku kerap melihatmu
tersesat. Entah di bumi atau disini,” tangan gadis yang terlihat lemah itu
membelai wajahku. Jarak kami semakin dekat.
“Dan kau mengapa begitu menyenangkan untuk menjadi
tempatku mengadu, alien?” aku menatapnya dalam-dalam. “Pemikiranku yang berliku
ini berjingkat mencekik. Kau adalah bintang atlas yang menuntunku keluar dari
labirin. Kau…” gadis berambut lusuh itu berjinjit, mengecup keningku. Aku menggigit
bibir. Tuaian arogansinya merebah penatku, sungguh.
“Kemudian jangan kau cari apa yang kau cari,” gadis itu
berbisik. Tanganku menelusur setiap bagian tubuhnya yang sekal, napasku
tersengal. Malam di Saturnus begitu indah. Tiap dekapannya melintang jauh, aku
meraba kepastian.
Kulitnya sedingin es, membekukan otakku. Rambutnya yang
panjang terurai dan lusuh menyatu denganku. Aku mencium setiap aroma tubuh yang
menyengat. Harum tuai arogansi merebak hingga ke ubun-ubun. Panas kepalaku
menyinggah, menjadi ruang hampa yang mencekam. Terlihat bintang Aldebaran
semakin memutih, bersinar namun meredup. Memilukan. Dan aku menimang perasaanku
kepada gadis alien berambut lusuh itu, dari planet Saturnus. Apakah aku pecinta
atau penelusur jejak lebamnya yang mengalir dalam darahku? Lalu bagaimana ini?
“Wangi manusia memang menyegarkan,” ucap gadis itu
menikmati. “Namun kau harus pulang, fajar tak akan menunggu pelarianmu,” gadis
itu menyibakkan rambutnya. Aku tersenyum sendu.
“Akankah kau mendengar kerumitanku lagi esok hari?” aku
bertanya.
“Tentu. Akan kusajikan sajak belia dan menua bersama
pemikiranmu, akan kubuatkan seporsi doa untuk kedatanganmu, dan akan kulumat
semua tubuhmu; esok,” gadis itu membelai dadaku, membuat jantung hati
berjingkat mengusir kekosongan. Aku mengecup bibirnya sekali lagi.
“Sampai jumpa esok dengan mimpi-mimpi berbinarmu…” aku
beranjak. “Jangan lupa minum obat,” aku melanjutkan. Gadis alien itu tersemu
dengan rona pipinya yang ranum.
Dingin ini memekat malam, di Saturnus. Aku merebak batas bumi
dan Saturnus yang terlalu tipis. Pintu ajaib yang menjadi pemisah antara
keduanya. Kemudian aku menyesatkan diri keluar dari Saturnus; sebuah ruang
bangsal merah muda rumah sakit jiwa. Aku menelusuri lagi remang lorong yang
menikam akal sehatku.
Kusebut pasien bipolar itu gadis alien berambut lusuh,
dengan dunianya yang tak pernah sempit, dengan alam semesta yang ia ciptakan
sendiri di rawat bangsalnya. Tiba-tiba aku pilu kala menatap jubah putih yang
tengah bertengger dilenganku. Akulah dokter yang terjebak dalam bumi bundar
yang rumit ini, membutuhkan perawatan intensif. Ada apa dengan manusia waras
diluar sana? Ada apa dengan aturan bodoh yang tertulis dalam peristiwa sejarah?
Bagaimana aku bisa mengartikan alam yang begitu rusak selain ruang Saturnus
yang selalu mengirimkan sajak surat cinta untuk kebisingan planet bumi?
Ini gila, dunia ini gila. Bukan si gadis alien berambut
lusuh itu, kecamku bingar.
Naaaeeeesssss banget pik, gue sampe melongo, hahaha
BalasHapuscuma di awal rada absurd,
si gadis diruangan berbeda tapi si dokter bisa melihat dari mejanya, padahal ada lorongnya dulu. rada janggal disitu.
over all, Subghanallah mengena banget
iya yang diawal itu bayang bayang si nona, kayak berasa dihantui gitu makanya si "aku" nya bete heuheu. btw thank you ya kritik sarannya. means alot res
HapusYang gila merasa normal, yg normal bisa jadi gila.
BalasHapushaha truth hurts yaa. tapi yang paling mendekati sih; yang gila terlihat normal, yang normal berperilaku gila. world's goin crazy
Hapusow ceritanya bagus kakak pikachu
BalasHapusgoddamn hermana
Hapusteruslah berkarya kakak cantik
HapusGagasanmu bagai labirin yang meninabobokan aku...
BalasHapusAku orang yang jarang banget terkejut, tapi Twist-nya somehow bisa.
Kewarasan, apa aku butuh itu untuk baca kisah-kisah lainnya?
hmm, emang, definisi waras itu apa ya? hehehe
Hapusanyway thank you, emergency
Yeah, gonna the other stories later...
Hapus