Kamis, 28 April 2016

NONA MANIS


Bagiku, jatuh cinta tak pernah semudah ini. Jatuh cinta membutuhkan waktu dan tenaga, serta pemikiran abstrak. Kadang tertuang oleh imaji kala sendiri, kadang tersimpan rapi saat aku lelah berlari. Namun bagiku, jatuh cinta kali ini terasa berbeda. Tajam, berduri, nuansa merah muda. Suatu waktu aku pernah melihat kerlip bintang di matanya, namun di lain waktu kelabu menghantui parasnya. Ketika dua fenomena itu terjadi secara bersamaan, begitu indah. Aku tetap cinta.
            Jadi aku terlena; sepasang bias matanya yang melumpuhkan akal sehatku. Gemilang lekuk tubuhnya mencengkeram hasratku. Apalagi saat pias semu wajahnya merona seakan berkata, “mari sini kita suguhkan berlapis cerita kepada pagi,” begitu. Ah… ingin sekali aku bawa pulang untuk teman menyapa bintang. Kemudian, jatuh cintaku menjadi perekat lubang dalam otak. Bagai peluru yang menembus cepat dan cekatan, aku terbius! Sekitar sepertiga detik aku tak bergeming saat dia berhadapan denganku. Inilah yang kusebut kita, iya, kita. Seperti itu definisi sekat-sekat jarak antara aku dan dia. Biar lebih manis.
            Sehingga kupanggil dia nona manis, layak tubuh dan jiwanya. Jiwa? Aku hampir gila ini. Bagaimana bisa aku mengucap kata jiwa begitu seringai sedang aku tengah menenun jiwaku sendiri? Dan ternyata deru jiwa yang kusebut barusan melulu mengayun di kaki sungai; meraksa bulir estetika pada selaksa wangi bulan biru. Memang semanis itu jiwa si nona manis jika dibandingkan dengan jiwaku. Manis. Manis. Manis. Mudah saja kulumat semua jemarinya yang nampak bisu, terhisap udara yang terkadang bersimpuh pada angin. Mencapai tahta alam sangat lebam. Sekali lagi aku terlena.
            “Nona manis, aku mengagumimu,” ucapku berbisik, hampir terdera jantungku. Nona manis terdiam dengan sejuta makna terselubung.
            “Ijinkan aku menghampar lekukmu, bolehkah?” aku bertanya. Dia tetap membisu. Lalu aku keluarkan perlengkapan melukisku yang sudah usang. Aku memejamkan mata, membayangkan bakal seperti apa rupanya nanti dalam bingkai tuahku. Namun tiba-tiba saja aku tersesat saat membuka mata. Wajah nona manis itu… terasa mengusap pualam semu. Bingung aku jadinya. Otakku tercekat, hiruk pikuk menjelajah gagasanku. Aku memang jatuh cinta, tapi rupanya aku tak pernah memahami nona manis ini. Apa dia sedang bahagia? Atau sedang bersedih? Atau merana dalam kelaparan? Aku tak mengerti.
            “Bagaimana bisa aku mengayunkan jemariku, cantik? Kau kini seperti binatang! Kau merayu seribu bahasa yang tak bisa kupahami. Beritahu aku apa itu rupamu,” aku mendesaknya untuk berbicara. Dia terlihat pilu.
            “Baiklah, sayang. Jangan menangis. Aku tak tahan melihatmu terluka,” kemudian aku memohon kala nona itu mulai tersedu.
            Aku mulai menggores sketsa puringan. Menyeringai. Terkesan jahat namun tetap saja aku gemetar. Sore mulai menunjukkan pukul 5. Matahari menyelinap dibatas tirai rumah langit. Aku sangat menikmati peranku dihadapannya, linglung terkadang. Tetapi nona manis menenangkan gelisah yang kerap kali datang dan pergi kala menggores wajahnya. Aku memang tidak mengerti dirinya, demi Tuhan dan sangkakala, namun dia amat mengerti aku. Makin cinta aku padanya, sumpah serapah menyerta.
            “Rupanya aku lelaki gentar, nona. Parasmu mencabik-cabik goresan senyawa ini. Aduh… kau terlalu bersahaja, seperti senja. Terbata aku mengeja semilir tubuhmu. Mata yang terlalu berkaca itu; memanahku, tahu. Kupasang penawar rindu, nih. Kalau-kalau kau memintaku mencerca ratusan kilau hatimu. Mana kuat aku, nona,” ucapanku menjaring semua perhatiannya. Ini gila, si nona manis tak bergeming.
            “Kau tahu, apa yang lebih sepah dari rindu?” gagasku seraya sibuk mencorat-coret kertas lusuhku. Si nona menatapku dengan wajah penasaran. Aku mengangkat bahu, memutar bola mata.
            “Tak apa jika rindu tak terbalas, tak apa-apa. Namun ketika sepah itu mulai menyebar hingga ke rongga, membuatmu sulit bernapas. Yakni ketika sepah menjadi sepi, memohon sang raga untuk tak menghampirimu. Pahit, nona,” aku membubuhi.
            “Ya sudahlah. Lagi pula biru kinanti sudah menyepah rindu sejak lama; tatkala membungkam bayangmu,” aku menyudahi goresanku yang terakhir.
            “Ini dia rupamu,” aku memperlihatkan lukisanku padanya.
            “Mungkin kau terlalu lama diam hingga lupa paras manismu,” tukasku sembari membereskan peralatan “tempur”ku.
            Waktu senja hampir usai, cakrawala menutup hari dengan kedatangan malam. Lembayung berubah menjadi kelabu, jangkrik ikut-ikutan berbising. Seketika lonceng hati berdenting. Aku menghela napas panjang, saatnya berpisah dengan si nona manis. Aku beranjak dari tempatku, tersenyum sekali lagi. “Besok siang aku akan singgah kesini lagi, nona, kesisimu,” ucapku lirih.
            Bergegas seorang penjaga galeri menghampiriku dengan wajah sumringah.
            “Tugas sekolah lagi, mas Arya?” tanyanya seraya menghampiriku.
            “Iya nih,” aku setengah tertawa ketika mendengar kata “sekolah”. Mungkin penjaga itu masih kesulitan membedakan sekolah dengan kampus. Baginya sama saja, sama-sama gedung, ada muridnya, ada gurunya, ada pelajaran, dan ada tugas.
            “Besok mau mampir lagi, mas? Sekarang mah lebih ketat peraturannya. Maghrib sudah tutupan,” sergah penjaga itu dengan nada betawi kentalnya. “…Ngomong-ngomong patung perempuan ini paling laris dinikmati semua pengunjung. Mas Arya gambar patung ini lagi? Kan kemarin sudah, mas,” Aku mengangguk dan mendesah, kemudian melangkah pergi sambil mengucap salam. Hingga sampai di depan pintu galeri aku baru sadar bahwa gerimis mengguyur kota ini. Rintiknya terlihat jelas dilumat lampu tiang. Rintik air menjadi warna jingga, aku terpesona. Sama seperti aku terpesona pada si nona manis itu.
            Tunggu. Apa tadi si penjaga bilang? Nona manis itu adalah patung? Dia saja yang buta dan bodoh tak dapat membedakan mana jiwa dan mana patung. Walaupun… seandainya… nona manis adalah patung, aku tidak perduli. Aku sudah terlanjur tersesat dan jatuh cinta.
            Kali ini rindu sepahku luruh diantara gerimis oranye. Aku melangkah menembus malam, membelah titian gerimis yang telah menjadi hujan.

            “Nona manis, tunggu aku esok,” bisikku pelan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar