Bagiku,
jatuh cinta tak pernah semudah ini. Jatuh cinta membutuhkan waktu dan tenaga,
serta pemikiran abstrak. Kadang tertuang oleh imaji kala sendiri, kadang
tersimpan rapi saat aku lelah berlari. Namun bagiku, jatuh cinta kali ini
terasa berbeda. Tajam, berduri, nuansa merah muda. Suatu waktu aku pernah
melihat kerlip bintang di matanya, namun di lain waktu kelabu menghantui
parasnya. Ketika dua fenomena itu terjadi secara bersamaan, begitu indah. Aku
tetap cinta.
Jadi aku terlena; sepasang bias matanya yang melumpuhkan
akal sehatku. Gemilang lekuk tubuhnya mencengkeram hasratku. Apalagi saat pias
semu wajahnya merona seakan berkata, “mari sini kita suguhkan berlapis cerita
kepada pagi,” begitu. Ah… ingin sekali aku bawa pulang untuk teman menyapa
bintang. Kemudian, jatuh cintaku menjadi perekat lubang dalam otak. Bagai peluru
yang menembus cepat dan cekatan, aku terbius! Sekitar sepertiga detik aku tak
bergeming saat dia berhadapan denganku. Inilah yang kusebut kita, iya, kita. Seperti
itu definisi sekat-sekat jarak antara aku dan dia. Biar lebih manis.
Sehingga kupanggil dia nona manis, layak tubuh dan
jiwanya. Jiwa? Aku hampir gila ini. Bagaimana bisa aku mengucap kata jiwa
begitu seringai sedang aku tengah menenun jiwaku sendiri? Dan ternyata deru
jiwa yang kusebut barusan melulu mengayun di kaki sungai; meraksa bulir
estetika pada selaksa wangi bulan biru. Memang semanis itu jiwa si nona manis
jika dibandingkan dengan jiwaku. Manis. Manis. Manis. Mudah saja kulumat semua
jemarinya yang nampak bisu, terhisap udara yang terkadang bersimpuh pada angin.
Mencapai tahta alam sangat lebam. Sekali lagi aku terlena.
“Nona manis, aku mengagumimu,” ucapku berbisik, hampir
terdera jantungku. Nona manis terdiam dengan sejuta makna terselubung.
“Ijinkan aku menghampar lekukmu, bolehkah?” aku bertanya.
Dia tetap membisu. Lalu aku keluarkan perlengkapan melukisku yang sudah usang. Aku
memejamkan mata, membayangkan bakal seperti apa rupanya nanti dalam bingkai
tuahku. Namun tiba-tiba saja aku tersesat saat membuka mata. Wajah nona manis
itu… terasa mengusap pualam semu. Bingung aku jadinya. Otakku tercekat, hiruk
pikuk menjelajah gagasanku. Aku memang jatuh cinta, tapi rupanya aku tak pernah
memahami nona manis ini. Apa dia sedang bahagia? Atau sedang bersedih? Atau merana
dalam kelaparan? Aku tak mengerti.
“Bagaimana bisa aku mengayunkan jemariku, cantik? Kau kini
seperti binatang! Kau merayu seribu bahasa yang tak bisa kupahami. Beritahu aku
apa itu rupamu,” aku mendesaknya untuk berbicara. Dia terlihat pilu.
“Baiklah, sayang. Jangan menangis. Aku tak tahan
melihatmu terluka,” kemudian aku memohon kala nona itu mulai tersedu.
Aku mulai menggores sketsa puringan. Menyeringai. Terkesan
jahat namun tetap saja aku gemetar. Sore mulai menunjukkan pukul 5. Matahari menyelinap
dibatas tirai rumah langit. Aku sangat menikmati peranku dihadapannya, linglung
terkadang. Tetapi nona manis menenangkan gelisah yang kerap kali datang dan
pergi kala menggores wajahnya. Aku memang tidak mengerti dirinya, demi Tuhan
dan sangkakala, namun dia amat mengerti aku. Makin cinta aku padanya, sumpah
serapah menyerta.
“Rupanya aku lelaki gentar, nona. Parasmu mencabik-cabik goresan
senyawa ini. Aduh… kau terlalu bersahaja, seperti senja. Terbata aku mengeja
semilir tubuhmu. Mata yang terlalu berkaca itu; memanahku, tahu. Kupasang
penawar rindu, nih. Kalau-kalau kau memintaku mencerca ratusan kilau hatimu. Mana
kuat aku, nona,” ucapanku menjaring semua perhatiannya. Ini gila, si nona manis
tak bergeming.
“Kau tahu, apa yang lebih sepah dari rindu?” gagasku
seraya sibuk mencorat-coret kertas lusuhku. Si nona menatapku dengan wajah
penasaran. Aku mengangkat bahu, memutar bola mata.
“Tak apa jika rindu tak terbalas, tak apa-apa. Namun ketika
sepah itu mulai menyebar hingga ke rongga, membuatmu sulit bernapas. Yakni ketika
sepah menjadi sepi, memohon sang raga untuk tak menghampirimu. Pahit, nona,”
aku membubuhi.
“Ya sudahlah. Lagi pula biru kinanti sudah menyepah rindu
sejak lama; tatkala membungkam bayangmu,” aku menyudahi goresanku yang
terakhir.
“Ini dia rupamu,” aku memperlihatkan lukisanku padanya.
“Mungkin kau terlalu lama diam hingga lupa paras manismu,”
tukasku sembari membereskan peralatan “tempur”ku.
Waktu senja hampir usai, cakrawala menutup hari dengan
kedatangan malam. Lembayung berubah menjadi kelabu, jangkrik ikut-ikutan
berbising. Seketika lonceng hati berdenting. Aku menghela napas panjang,
saatnya berpisah dengan si nona manis. Aku beranjak dari tempatku, tersenyum
sekali lagi. “Besok siang aku akan singgah kesini lagi, nona, kesisimu,” ucapku
lirih.
Bergegas seorang penjaga galeri menghampiriku dengan
wajah sumringah.
“Tugas sekolah lagi, mas Arya?” tanyanya seraya
menghampiriku.
“Iya nih,” aku setengah tertawa ketika mendengar kata “sekolah”.
Mungkin penjaga itu masih kesulitan membedakan sekolah dengan kampus. Baginya sama
saja, sama-sama gedung, ada muridnya, ada gurunya, ada pelajaran, dan ada
tugas.
“Besok mau mampir lagi, mas? Sekarang mah lebih ketat
peraturannya. Maghrib sudah tutupan,”
sergah penjaga itu dengan nada betawi kentalnya. “…Ngomong-ngomong patung
perempuan ini paling laris dinikmati semua pengunjung. Mas Arya gambar patung
ini lagi? Kan kemarin sudah, mas,” Aku mengangguk dan mendesah, kemudian
melangkah pergi sambil mengucap salam. Hingga sampai di depan pintu galeri aku
baru sadar bahwa gerimis mengguyur kota ini. Rintiknya terlihat jelas dilumat
lampu tiang. Rintik air menjadi warna jingga, aku terpesona. Sama seperti aku
terpesona pada si nona manis itu.
Tunggu. Apa tadi si penjaga bilang? Nona manis itu adalah
patung? Dia saja yang buta dan bodoh tak dapat membedakan mana jiwa dan mana
patung. Walaupun… seandainya… nona manis adalah patung, aku tidak perduli. Aku sudah
terlanjur tersesat dan jatuh cinta.
Kali ini rindu sepahku luruh diantara gerimis oranye. Aku
melangkah menembus malam, membelah titian gerimis yang telah menjadi hujan.
“Nona manis, tunggu aku esok,” bisikku pelan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar