Suara
jangkrik makin menyaring. Telaga malam membuai buta bulan merah, aku
menengadah. Kupejamkan panas mataku, membara bagai bilar-bilar temaram. Dan
ternyata masih kurasakan dekapannya persis dibelakangku. Jari jemari mulai meraba
dari pinggul hingga busur perut. Nafasku tertahan, aku membuka mata kemudian
memejamkannya sekali lagi; menikmati jemari itu menari diantara tubuhku.
Kubiarkan dia meronta untuk mencumbu rinduku.
Kemudian resahku memburu. Aku menggigit bibir bawahku,
mencoba mengucap kata yang sedari tadi tertunda.
“Hanya saja… kerap kali aku mencintai rupamu, Banyu,”
lelaki itu terus menggodaku imanku, dia bungkam dalam belaian yang seolah
merusak otakku. “Banyu,” aku memanggil namanya yang seringkali sukar diucap.
“Benamkanlah jiwamu di hati ini…” tangannya mengepal,
menepuk dada. Sigap. “…di hati yang kian menua. Sampai aku lupa bahwa aku juga
mencintaimu, rupamu,” bibirnya yang terasa hangat menyentuh telingaku sembari
menghembuskan napasnya. Tubuhku bergetar, angin semilir melewati kami. Untuk
sesaat hanya suara malam yang tersisa. Namun sunyi ini terasa memecah hatiku,
membunuh serat-serat udara yang mencekat. Aku lupa diri!
“Tidakkah kau bertanya mengapa tangismu bermetafora
sangat indah malam ini…? Menggelapkan sudut kota, teriris namun manis,” ucap
Banyu setengah berbisik. “Aku menciummu seribu kali, dalam bunga tidurku,
mencium harum tubuhmu yang beraroma pekat darah tulip. Wajahmu membiru seperti
bintang aldebaran; syahdu memikat jenaka birahi… yang menyesatkanku untuk terus
milikimu. Matamu itu, perempuanku, yakni sebilah pedang kirana, menyayat
singgahsana. Aku ingin bercumbu sekali lagi,” ucap Banyu melanjutkan.
“Hanya saja kisah kita berkabut, tersesat,” aku membubuhi.
“Dan terus menjeratku. Kau, lelakiku, yang terlalu fana
kupuja, menyeretku ke lembah perak. Tidakkah kau bertanya mengapa aku terisak?
Kau sudah menenggelamkan deru hasratku untuk… untuk tetap bisu. Berjuta kali
aku mengecup bibirmu dalam khayalan gilaku,” sergahku meyakinkan.
Jemari Banyu menyentuh wajahku, matanya terpilar dalam
sebongkah emas yang menikamku. Menikam! Tatkala mata kami bertemu. Aliran
darahku terpacu begitu curam. Aku mendesah selirih butir debu yang melenyapkan
akal sehatku. Aku terlanjur mencintai lelakiku, walau cintaku tertanam abadi
dan terasa berdosa. Bukankah cinta itu lucu? Tuasnya semu memberi ruang hampa
pada tiap tarikan napas. Kemudian lagi-lagi Banyu membelai wajahku, meraba
bibirku dan menyapu semua hasratku.
Getir…
Kurasakan hangat bibirnya dalam kecupan lembut di
bibirku. Bintangpun jatuh saat kami saling mendekap asa. Hingga aku tak sadar
bahwa aku telah mati rasa menimang malam demi merenggut bibirnya. Jantungku
berdebar dan darahku panas. Seolah aku mencumbu kematian kala menyatu dengan
tubuh lelakiku. Aku mengutuk berulang kali; menjerit dalam hati. Aku
benar-benar mencintai lelakiku.
“Bibirmu semanis buah mimpi, Banyu. Bibirmu melumat jejak
jenaka dalam palung gelisahku. Kau menawarkan sejuta elegi yang berbalut tirai
merah, sebagai pembatas nyawamu,” ucapku setengah berbisik.
“Setidaknya aku merasakan akar deduksi rindu dalam bait
hidupku yang mengerucut padamu,” sergah Banyu, matanya kini redup.
“Takdir bukan sebuah ilusi, takdir berupa karya seni
dalam skenario Tuhan,” suaraku mulai parau.
“Takdirku berhenti padamu. Sebuah titik temu yang sangat
jelas untuk dilihat. Aku sadar, perempuanku, kau penikmat kematian. Maka ijinkan
aku memberimu tembaga kenikmatan dunia,” tubuh Banyu bergetar seusai mengucap
kalimat barusan.
“…Maka aku akan menghampirimu dalam kehidupanku
selanjutnya, perempuanku,” tambahnya getir. Airmataku luruh, jatuh pada rumpuan
kerajaan malam yang mencekam.
“Kau merayu, mengadu, menderu dalam kenaifan akan
kematian. Bukankah sayapku akan membunuhmu?”
“Tapi tidak perasaanku,”
Aku menghela napas sembari menggenggam erat cinta dari
sesosok manusia. Jemariku berubah menjadi kerlap-kerlip hitam, kemudian
menjamah pusat tubuh Banyu. Aku bisa merasakan detak jantung yang begitu curam,
miliknya. Hatiku meronta tatkala kutarik keluar nyawa Banyu dari tubuh piasnya.
Menyapu semua malam sehingga burung kenari bersembunyi dibalik ranting dan
dedaunan. Mataku hitam sekat haus akan jiwa-jiwa fana. Sesaat sebelum kematian
Banyu, ia tersenyum. Pertanda lelakiku telah siap mati malam ini.
Maka kugenggam erat ruh Banyu, menerbangkannya keatas
langit. Bulan makin memerah pertanda malam sudah usai. Kutinggalkan tubuh Banyu
yang tak bernyawa itu. Aku mengepakkan kedua sayap, terbang menembus cakrawala.
Masih dapat kuingat jelas hangat bibirnya dan panas degupnya; lelakiku, seorang
manusia. Sedang aku hanyalah malaikat pencabut nyawa yang jatuh hati padanya. Hingga
aku tahu, Banyu ditakdirkan mati malam ini. Malam tempat kami berpisah disela
haluan pagi buta yang mencengkram seluruh kutukanku pada Tuhan.
“Sebersit aku memanggilmu lelakiku; hingga aku lupa bahwa
kita berbeda,” ucapku dalam hati. Kepakan sayapku membelah angkasa, siap melanjutkan
tugas merengut nyawa manusia selanjutnya.
“Namun Banyu tetap menjadi lelakiku,” aku berbisik lirik.
Purwokerto,
15 April 2016.
Sepucuk surat yang basah; tercecer
di kaki hujan! Aku menulis menggunakan pena darimu; yang sempat kubuang. Dulu.
Akhirnya menulis lagi.
BalasHapus