Kamis, 14 April 2016

#1: Aku Lily

            Aku Lily, tidak sebagus namaku, aku bukanlah gadis remaja yang anggun dan memiliki semua yang diinginkan. Biasa saja, tidak menarik, tidak pintar. Satu-satunya kelebihanku adalah menjadi tak terlihat, tidak perduli bagaimana aku berusaha membuat orang-orang memandangku, tidak perduli sekuat daya aku merubah apa yang seharusnya, aku tetap seperti hantu bagi mereka. Aku kelas tiga, sekolah menengah atas, tahun terakhir yang sungguh mengembirakan sebab tak lama lagi aku akan menuju fase dimana aku tidak akan bertemu dengan orang-orang di sekolahku. Teman-teman, teman sekelas, adik kelas, guru, kepala sekolah, pelajaran tak berguna, PR, mereka semua membuatku sakit kepala hampir setiap harinya, membuatku mual ketika mulai memikirkannya. Bahkan seluruh pelajaran di sekolah ini membuatku kehilangan selera makan.
            Aku Lily, rambutku ikal panjang dan terurai tidak normal, dan kadang mengeluarkan bau yang tidak sedap karena... yeah, aku hanya mencucinya ketika aku ingin dan ingat. Tubuhku kurus dan tidak menawan, tidak punya dada yang berukuran menabjukkan, dan tidak semampai seperti model-model cover majalah diluar sana. Kulitku terbilang kusam, pucat, bila terkena sinar matahari langsung akan memerah dan mungkin akan melepuh dalam beberapa jam kemudian. Kabar baiknya, aku mempunyai warna mata yang berbeda; coklat dan abu-abu, bagian tubuh yang aku suka meski orang lain menganggap itu aneh dan menyeramkan. Ibuku menganggapku monster kue kacang, karena aku sangat candu olehnya. Kakak perempuanku, Lora, seringkali meneriakiku untuk membersihkan kamarnya, memandangku seperti bukan adik kandungnya, menganggapku kerikil di dalam hubungan darah keluarga; sebab aku jelek.
            Maka, aku Lily. Pada tahun 1996, lahirlah aku. Kala itu musim hujan, ibuku selamat dari bencana persalinan kelahiranku. Saat itu dokter mengatakan bahwa aku tidak normal. Ada sesuatu dari dalam tubuhku yang tumbuh, semacam tumor atau daging parasit, dan itu mengancam nyawa ibuku. Sekali lagi, kabar baiknya, ibuku dengan murah hati mengeluarkan aku dari dalam perutnya, mengangkat tumor atau parasit itu, berkata omong kosong bahwa aku akan hidup, dan membesarkan aku sebagaimana mestinya walaupun aku tidak pernah meminum asi.
            Aku dibesarkan dalam sebuah rumah bersama ibu dan kakakku, tanpa adanya sosok seorang ayah. Anehnya, ibu tidak pernah memberitahuku kenapa ayah meninggalkan kami. Ibu pernah bilang bahwa ketika ibu mengandungku tiga bulan, ayah hanya mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumah tanpa ada sepatah katapun yang keluar, selebihnya, ibu tidak pernah mengungkit lagi tentang kepergiannya. Ibu bungkam ketika aku bertanya apa yang sudah berkali-kali aku pertanyakan. Bagaikan sia-sia, aku mencoba mencari tahu tentang ayah namun aku hanya mendapatkan diriku terlalu kecewa. Tak ada peninggalan yang berbekas, ataupun sedikit cerita tentangnya dari orang-orang.
            Sementara kakakku Gelora, pun tidak mempunyai ingatan apapun terhadap ayah. Jadi aku memutuskan untuk melupakan hal itu, mungkin Tuhan memberikan hal seperti ini pada kehidupanku, yang sering disebut takdir.
            Layaknya takdir malam ini, mendung dan rembulan ditutupi oleh awan hitam, menggumpal seperti asap tebal yang mencoba membuat langit tak berwarna. Aku berjalan menyusuri gang-gang kecil disekitar rumahku seraya membawa sekantung plastik yang berisi telur dan sayur. Beberapa lonceng didepan pintu rumah tetangga sedikit berdering terbawa angin. Aku menengadahkan kepalaku keatas, menatap langit yang begitu terisi oleh kegelapan. Deru angin dan desiran suaranya membuatku tak bergeming. Sesuatu yang telah dimulai tak akan pernah berbalik lagi. Seketika aku merasa sendiri di dunia ini, kepalaku sakit karena mendongak terlalu lama. Aku melihat sekeliling, berjaga dalam seplastik belanjaan yang kugenggam erat. Rumahku tidak jauh lagi, hanya melewati dua blok diujung pertigaan itu. Suara gonggongan anjing yang terdengar parau memecahkan keheningan malam, kemudian jangkrik tidak mau kalah. Aku bergidik, meskipun aku jelek dan buruk rupa, aku masih saja takut akan cerita penyihir yang menculik gadis cantik yang tengah berjalan sendirian. Yeah, itu hanya mitos. Namun aku tetap ketakutan.
            Aku mempercepat langkahku, sebentar lagi hujan. Entah penyihir jahat atau hantu yang sering disebut-sebut, ibuku akan lebih seram ketimbang itu jika aku terlalu lama keluar berbelanja.
            Dalam keadaan cahaya yang remang, aku melihat sesosok tinggi hitam dipertigaan, bersandar pada tiang listrik. Aku memperlambat derap langkahku. Jantungku berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Aku mendesah, memaki keadaan mengerikan ini dalam hati. Tiba-tiba sosok tinggi hitam itu berada dihadapanku, berdiri tegap dan setengah tersenyum. Senyumannya terasa janggal.
            “Si... siapa kamu?” suaraku bergetar. Dia terengah-engah, napasnya sedikit memburu.
            “To... tolong... tolong aku,” bagai kilat dia jatuh terkapar. Aku kaget bukan main. Aku menarik napas panjang, berusaha membangunkan dia, memapah hingga ujung gang. Susah payah merebahkan pria yang berbobot berat itu, jika dia adalah penyihir yang menculik gadis cantik maka akan aku pertanyakan nanti.
            “Kamu baik-baik saja?” aku meraba dahinya yang terasa dingin menjalar hingga kulitku. Pria itu napasnya masih tersengal, namun sempat tersenyum.
            “Kamu pasti Lily,” aku terkejut, bagaimana dia bisa tahu namaku? Apa dia mengenalku?
            “Aku Scar,” dia menjulurkan tangannya mengajakku bersalaman, aku mendengus.
          “Bisakah kamu sedikit serius? Ini bukan waktunya berkenalan, jika kamu penyihir yang berniat menculik gadis cantik maka aku tidak punya waktu untuk berdiskusi denganmu. Aku harus pulang dan culiklah gadis lain yang lebih cantik dari aku,” aku berdiri, menatapnya yang masih duduk terkapar. Demi Tuhan aku sempat melihatnya tertawa.
            “Tenanglah, aku tidak bermaksud menculikmu. Dan aku bukan penyihir. Kamu harus bergegas menyelamatkan aku, jika tidak...” Scar terbatuk. Celotehnya berhasil menangkap perhatianku.
            “Jika tidak kamu akan menyesal,” dia melanjutkan kata-katanya.
            “Apakah kamu adalah orang penting yang harus aku selamatkan? Apakah aku harus membawamu pulang dan berkata pada ibuku kalau kau harus diselamatkan jika tidak aku akan menyesal? Apakah aku harus mempercayai semua omong kosong itu?” aku mendesak dalam hati. Siapa pria ini? Mengapa dia tahu namaku? Dari mana dia berasal? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya.
            Desiran angin berhembus pelan memainkan anak-anak rambutku yang kusam. Suara guntur bergemuruh pelan seakan memberi pertanda bahwa aku harus segera pulang dan meninggalkan orang gila yang mengaku harus diselamatkan. Aku menarik napas, meliriknya yang masih terkapar.
            “Jika kamu butuh pertolongan, aku bisa memanggilkan ambulan untukmu,” sergahku lirih, menatapnya yang kali ini tidak tersenyum. Gerakannya melambat.
            Sementara sudah gerimis, kilat menyambar bagai kiamat kecil. Aku tidak berlogika lagi kali ini. Sebelum kulangkahkan kakiku meninggalkannya, aku sempat menoleh memandangnya.

            “Aku Lily,”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar