Aku Lily, tidak sebagus namaku, aku
bukanlah gadis remaja yang anggun dan memiliki semua yang diinginkan. Biasa
saja, tidak menarik, tidak pintar. Satu-satunya kelebihanku adalah menjadi tak
terlihat, tidak perduli bagaimana aku berusaha membuat orang-orang memandangku,
tidak perduli sekuat daya aku merubah apa yang seharusnya, aku tetap seperti
hantu bagi mereka. Aku kelas tiga, sekolah menengah atas, tahun terakhir yang
sungguh mengembirakan sebab tak lama lagi aku akan menuju fase dimana aku tidak
akan bertemu dengan orang-orang di sekolahku. Teman-teman, teman sekelas, adik
kelas, guru, kepala sekolah, pelajaran tak berguna, PR, mereka semua membuatku
sakit kepala hampir setiap harinya, membuatku mual ketika mulai memikirkannya.
Bahkan seluruh pelajaran di sekolah ini membuatku kehilangan selera makan.
Aku Lily, rambutku ikal panjang dan
terurai tidak normal, dan kadang mengeluarkan bau yang tidak sedap karena...
yeah, aku hanya mencucinya ketika aku ingin dan ingat. Tubuhku kurus dan tidak
menawan, tidak punya dada yang berukuran menabjukkan, dan tidak semampai
seperti model-model cover majalah
diluar sana. Kulitku terbilang kusam, pucat, bila terkena sinar matahari
langsung akan memerah dan mungkin akan melepuh dalam beberapa jam kemudian. Kabar
baiknya, aku mempunyai warna mata yang berbeda; coklat dan abu-abu, bagian
tubuh yang aku suka meski orang lain menganggap itu aneh dan menyeramkan. Ibuku
menganggapku monster kue kacang, karena aku sangat candu olehnya. Kakak
perempuanku, Lora, seringkali meneriakiku untuk membersihkan kamarnya,
memandangku seperti bukan adik kandungnya, menganggapku kerikil di dalam
hubungan darah keluarga; sebab aku jelek.
Maka, aku Lily. Pada tahun 1996,
lahirlah aku. Kala itu musim hujan, ibuku selamat dari bencana persalinan
kelahiranku. Saat itu dokter mengatakan bahwa aku tidak normal. Ada sesuatu
dari dalam tubuhku yang tumbuh, semacam tumor atau daging parasit, dan itu
mengancam nyawa ibuku. Sekali lagi, kabar baiknya, ibuku dengan murah hati
mengeluarkan aku dari dalam perutnya, mengangkat tumor atau parasit itu,
berkata omong kosong bahwa aku akan hidup, dan membesarkan aku sebagaimana
mestinya walaupun aku tidak pernah meminum asi.
Aku dibesarkan dalam sebuah rumah
bersama ibu dan kakakku, tanpa adanya sosok seorang ayah. Anehnya, ibu tidak
pernah memberitahuku kenapa ayah meninggalkan kami. Ibu pernah bilang bahwa ketika
ibu mengandungku tiga bulan, ayah hanya mengemasi barang-barangnya dan pergi
meninggalkan rumah tanpa ada sepatah katapun yang keluar, selebihnya, ibu tidak
pernah mengungkit lagi tentang kepergiannya. Ibu bungkam ketika aku bertanya
apa yang sudah berkali-kali aku pertanyakan. Bagaikan sia-sia, aku mencoba
mencari tahu tentang ayah namun aku hanya mendapatkan diriku terlalu kecewa.
Tak ada peninggalan yang berbekas, ataupun sedikit cerita tentangnya dari
orang-orang.
Sementara kakakku Gelora, pun tidak
mempunyai ingatan apapun terhadap ayah. Jadi aku memutuskan untuk melupakan hal
itu, mungkin Tuhan memberikan hal seperti ini pada kehidupanku, yang sering
disebut takdir.
Layaknya takdir malam ini, mendung
dan rembulan ditutupi oleh awan hitam, menggumpal seperti asap tebal yang
mencoba membuat langit tak berwarna. Aku berjalan menyusuri gang-gang kecil
disekitar rumahku seraya membawa sekantung plastik yang berisi telur dan sayur.
Beberapa lonceng didepan pintu rumah tetangga sedikit berdering terbawa angin.
Aku menengadahkan kepalaku keatas, menatap langit yang begitu terisi oleh
kegelapan. Deru angin dan desiran suaranya membuatku tak bergeming. Sesuatu
yang telah dimulai tak akan pernah berbalik lagi. Seketika aku merasa sendiri
di dunia ini, kepalaku sakit karena mendongak terlalu lama. Aku melihat
sekeliling, berjaga dalam seplastik belanjaan yang kugenggam erat. Rumahku
tidak jauh lagi, hanya melewati dua blok diujung pertigaan itu. Suara
gonggongan anjing yang terdengar parau memecahkan keheningan malam, kemudian
jangkrik tidak mau kalah. Aku bergidik, meskipun aku jelek dan buruk rupa, aku
masih saja takut akan cerita penyihir yang menculik gadis cantik yang tengah
berjalan sendirian. Yeah, itu hanya mitos. Namun aku tetap ketakutan.
Aku mempercepat langkahku, sebentar
lagi hujan. Entah penyihir jahat atau hantu yang sering disebut-sebut, ibuku
akan lebih seram ketimbang itu jika aku terlalu lama keluar berbelanja.
Dalam keadaan cahaya yang remang,
aku melihat sesosok tinggi hitam dipertigaan, bersandar pada tiang listrik. Aku
memperlambat derap langkahku. Jantungku berdetak tiga kali lebih cepat dari
biasanya. Aku mendesah, memaki keadaan mengerikan ini dalam hati. Tiba-tiba
sosok tinggi hitam itu berada dihadapanku, berdiri tegap dan setengah
tersenyum. Senyumannya terasa janggal.
“Si... siapa kamu?” suaraku
bergetar. Dia terengah-engah, napasnya sedikit memburu.
“To... tolong... tolong aku,” bagai
kilat dia jatuh terkapar. Aku kaget bukan main. Aku menarik napas panjang,
berusaha membangunkan dia, memapah hingga ujung gang. Susah payah merebahkan
pria yang berbobot berat itu, jika dia adalah penyihir yang menculik gadis
cantik maka akan aku pertanyakan nanti.
“Kamu baik-baik saja?” aku meraba
dahinya yang terasa dingin menjalar hingga kulitku. Pria itu napasnya masih
tersengal, namun sempat tersenyum.
“Kamu pasti Lily,” aku terkejut,
bagaimana dia bisa tahu namaku? Apa dia mengenalku?
“Aku Scar,” dia menjulurkan
tangannya mengajakku bersalaman, aku mendengus.
“Bisakah kamu sedikit serius? Ini
bukan waktunya berkenalan, jika kamu penyihir yang berniat menculik gadis
cantik maka aku tidak punya waktu untuk berdiskusi denganmu. Aku harus pulang
dan culiklah gadis lain yang lebih cantik dari aku,” aku berdiri, menatapnya
yang masih duduk terkapar. Demi Tuhan aku sempat melihatnya tertawa.
“Tenanglah, aku tidak bermaksud
menculikmu. Dan aku bukan penyihir. Kamu harus bergegas menyelamatkan aku, jika
tidak...” Scar terbatuk. Celotehnya berhasil menangkap perhatianku.
“Jika tidak kamu akan menyesal,” dia
melanjutkan kata-katanya.
“Apakah kamu adalah orang penting
yang harus aku selamatkan? Apakah aku harus membawamu pulang dan berkata pada
ibuku kalau kau harus diselamatkan jika tidak aku akan menyesal? Apakah aku
harus mempercayai semua omong kosong itu?” aku mendesak dalam hati. Siapa pria
ini? Mengapa dia tahu namaku? Dari mana dia berasal? Aku tidak pernah melihat
dia sebelumnya.
Desiran angin berhembus pelan
memainkan anak-anak rambutku yang kusam. Suara guntur bergemuruh pelan seakan
memberi pertanda bahwa aku harus segera pulang dan meninggalkan orang gila yang
mengaku harus diselamatkan. Aku menarik napas, meliriknya yang masih terkapar.
“Jika kamu butuh pertolongan, aku
bisa memanggilkan ambulan untukmu,” sergahku lirih, menatapnya yang kali ini
tidak tersenyum. Gerakannya melambat.
Sementara sudah gerimis, kilat
menyambar bagai kiamat kecil. Aku tidak berlogika lagi kali ini. Sebelum kulangkahkan
kakiku meninggalkannya, aku sempat menoleh memandangnya.
“Aku Lily,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar