Barang kali,
hanya aku saja yang kuno
Alergi pula
terhadap tarian-tarian
Dan jenjang kaki
panjang dalam birama topeng-topeng televisi
Atau; barang
kali, hanya aku saja yang keliru
Menerjemahkan
suara yang pura-pura pilu
Di balik pintu,
di televisi
Ingin saja aku
menghapus gincu berdarah
Dalam napas yang
mendesah
Wanita itu;
menjual sebuah harga bangsa
Merenggut kenari
tahta cita anak negeri
Lewat televisi
Ada juga yang
berteriak tentang suatu keyakinan
Iya,
keyakinan...
“O’tuanku, kami
bekerja untuk sebuah moral,”
Ah...! Bicarakan
saja mimpi tidurmu barusan
Bukankah arti
pembangunan bagimu adalah harfiah?
Kemudian
tersenyum di balik bingkai televisi
Kotor...!
Televisi kini semakin berdebu
Dan aku tak
mampu membeli kemoceng baru
Untuk mengusap
wajah-wajah di layar televisi itu
Iya, televisi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar