Kamis, 14 April 2016

TELEVISI


Barang kali, hanya aku saja yang kuno
Alergi pula terhadap tarian-tarian
Dan jenjang kaki panjang dalam birama topeng-topeng televisi
Atau; barang kali, hanya aku saja yang keliru
Menerjemahkan suara yang pura-pura pilu
Di balik pintu, di televisi

Ingin saja aku menghapus gincu berdarah
Dalam napas yang mendesah
Wanita itu; menjual sebuah harga bangsa
Merenggut kenari tahta cita anak negeri
Lewat televisi

Ada juga yang berteriak tentang suatu keyakinan
Iya, keyakinan...
“O’tuanku, kami bekerja untuk sebuah moral,”
Ah...! Bicarakan saja mimpi tidurmu barusan
Bukankah arti pembangunan bagimu adalah harfiah?
Kemudian tersenyum di balik bingkai televisi

Kotor...! Televisi kini semakin berdebu
Dan aku tak mampu membeli kemoceng baru
Untuk mengusap wajah-wajah di layar televisi itu
Iya, televisi...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar