Kamis, 14 April 2016

1001 AWAN PERAK DI LAPISAN SEMESTA

“Cinta; kumaknai sebuah simfoni yang tercecer diantara langit dan bumi,”
Kepada perempuan jingga yang sedang menenun benang merah muda
Terima kasih telah terlahir di dunia ini
Meski raganya tak akan abadi, meski hatinya serapuh bulir pasir
Ijinkan aku meretas segala simfoni yang menari di sudut hati
Kehadirannya bagai kincir angin yang kukuh berputar pada satu tempat
Dia tak pernah pergi kemanapun

Kepada perempuan jingga yang menyuguhkan satu milyar cerita
Bagaimana kabarnya hari ini?
Semesta menitipkan salam satu detik yang lalu
Mengingatkan aku berkali-kali akan kenangan manis itu
Terima kasih sudah mengambil peran yang berarti dalam hidupku
Ketulusannya telah sampai pada singgahsana awan perak; kerap menjadi saksi.

Di kota ini angin semilir menyambutku perlahan
Aku berdiri sigap tak terbantahkan
Wajah perempuan jingga itu terlintas lagi dalam benakku
Aroma tubuhnya mutlak terekam dalam memori
Kuhaturkan selaksa kata terima kasih karena menuntunku sampai pada kota ini
Kota yang dia bilang tak pernah tidur

Maka kuselipkan seribu pucuk surat cinta
Yang terbuat dari anyaman bunga anyelir, untuknya
Sebab lukanya adalah gelisahku
Kebahagiaannya adalah gelora dalam tiap langkahku
Aku ingin merindukannya sedalam dia merindukanku; sebab dia perempuan jinggaku

Maka aku berjalan ribuan mil sembari menenun seporsi cerita
Yang akan kusampaikan padanya kelak
Agar kita memiliki sesuatu yang ajaib untuk saling melengkapi
Agar kita bisa saling mendekap diantara percikan emas gerimis
Dibawah awan perak tatkala senja
Tanpanya, aku hanya sebuah manekin yang bertamengkan rupa manusia

Kepada perempuan jingga yang senantiasa kupuja dalam bait doa malam
Biarkan simfoniku menari dibawah naungan suara lonceng menara yang temaram
Sehingga,
Cinta ini bernyawa abadi yang hidup dalam 1001 awan perak dilapisan semesta

“Perempuan jinggaku, jika hidup hanya untuk mati; maka ijinkan aku mencintaimu berkali-kali”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar