“Cinta; kumaknai sebuah
simfoni yang tercecer diantara langit dan bumi,”
Kepada perempuan
jingga yang sedang menenun benang merah muda
Terima kasih
telah terlahir di dunia ini
Meski raganya
tak akan abadi, meski hatinya serapuh bulir pasir
Ijinkan aku
meretas segala simfoni yang menari di sudut hati
Kehadirannya
bagai kincir angin yang kukuh berputar pada satu tempat
Dia tak pernah
pergi kemanapun
Kepada perempuan
jingga yang menyuguhkan satu milyar cerita
Bagaimana
kabarnya hari ini?
Semesta
menitipkan salam satu detik yang lalu
Mengingatkan aku
berkali-kali akan kenangan manis itu
Terima kasih
sudah mengambil peran yang berarti dalam hidupku
Ketulusannya
telah sampai pada singgahsana awan perak; kerap menjadi saksi.
Di kota ini
angin semilir menyambutku perlahan
Aku berdiri
sigap tak terbantahkan
Wajah perempuan
jingga itu terlintas lagi dalam benakku
Aroma tubuhnya
mutlak terekam dalam memori
Kuhaturkan
selaksa kata terima kasih karena menuntunku sampai pada kota ini
Kota yang dia
bilang tak pernah tidur
Maka kuselipkan
seribu pucuk surat cinta
Yang terbuat
dari anyaman bunga anyelir, untuknya
Sebab lukanya
adalah gelisahku
Kebahagiaannya
adalah gelora dalam tiap langkahku
Aku ingin
merindukannya sedalam dia merindukanku; sebab dia perempuan jinggaku
Maka aku
berjalan ribuan mil sembari menenun seporsi cerita
Yang akan
kusampaikan padanya kelak
Agar kita
memiliki sesuatu yang ajaib untuk saling melengkapi
Agar kita bisa
saling mendekap diantara percikan emas gerimis
Dibawah awan
perak tatkala senja
Tanpanya, aku
hanya sebuah manekin yang bertamengkan rupa manusia
Kepada perempuan
jingga yang senantiasa kupuja dalam bait doa malam
Biarkan
simfoniku menari dibawah naungan suara lonceng menara yang temaram
Sehingga,
Cinta ini
bernyawa abadi yang hidup dalam 1001 awan perak dilapisan semesta
“Perempuan jinggaku,
jika hidup hanya untuk mati; maka ijinkan aku mencintaimu berkali-kali”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar