Minggu, 15 Mei 2016

JUBAH MERAH

            Aku berusia 8 tahun kala itu; ketika pertama kali aku melihat satu sosok yang kerap membelenggu palung terdalam. Teduh matanya menghujani sepertiga detik malamku. Berkata wanita itu kepadaku dengan jubah merah yang selalu ia kenakan, “jangan mau dimainkan oleh mimpi,” sembari mengusap kepalaku. Aku terbuai oleh tutur katanya, terbius oleh sosoknya yang rupawan. Dan entah… yang terlalu sering kuhitung, entah yakni dalam jarak waktu yang terasa merentang panjang, mengelukan jiwa; cepatlah beranjak dewasa. Begitu kata hati berisyarat.
            Waktu berjalan alangkah lambat, begitu mengikatku yang ingin berlari ke masa depan. Ataukah peristiwa itu hanya mengobrak-abrik perasaan kecilku yang naïf? Wanita itu tak khayal membius pusat jantung yang tersemu, membuatku mengiba kepadanya. Aku terhipnotis oleh petuah kristalnya yang selalu membias sinar bagai jingga matahari yang mencari celah untuk menerangi bumi. Aku tak berdaya, aku candu.
            Kemudian sekali lagi bayangnya menari diantara kiblat hujan, seperti detik jarum jam pada menara lonceng; tak pernah berhenti. Jubah merahnya itu selalu membias mataku yang sendu. Tubuhnya yang tinggi langsing dan rambutnya yang ikal panjang terurai berwarna pirang emas mengibahkan sepertiga detak nadi. Apalagi matanya yang biru, ah… membuai sekali.
            Wanita itu seorang janda berusia 30, usia yang terlalu dini untuk ditangguhkan. Sedang aku hanya laki-laki yang menimba kehidupan dalam jalur sephia; singgah dalam istana yang kusebut panti asuhan. Aku selalu menanti sosoknya saat akhir pekan tiba, di pekarangan luar yang luas dan mencekik.
            Suatu ketika pada bulan Desember yang bersalju; aku melihat tubuhnya yang terhempas oleh ringkihnya cuaca. Berjalan dengan anggun menuju pintu depan tetap pada jubah merah yang seragam dengan warna bibirnya. Wanita itu menyunggingkan sebuah senyum, melengkung seperti bulan sabit. Tahi lalat yang hampir menyatu dengan punggung bibir menghias wajahnya, membanting hasrat untuk mendekapnya.
            “Hai, Andy,” dia menyapaku samar saat melewatiku, aku setengah tertegun dengan aroma kayu manis yang seolah telah mendarah daging dengan tubuhnya. Wanita itu menjentik ujung kepalaku dengan jemarinya yang terlihat seperti kumpulan partitur berdansa.
            “Hai, Ann,” balasku gagap, mengikuti langkahnya. “…apa kau ingin bermain piano denganku?” tanyaku berlanjut sembari menggapai sisi ujung jubah merahnya.
            “Baik, tapi setelah aku berbincang dengan nyonya Adeline,” sahutnya.
            Nyonya Adeline adalah wanita paruh baya yang memiliki kulit seperti batu pualam berbias pucat. Beliau yang menjaga seluruh panti asuhan ini beserta penghuninya. Wanita tua yang lebih cocok disebut nenek sihir itu memang akrab dengan wanita jubah merahku. Entah mengapa, wanita jubah merah kerap meluangkan waktu dengan si nenek sihir. Nampak nyaman berlama-lama berbincang dengannya, membuatku bertanya; apa perihal gerangan yang tengah dibicarakan mereka. Apakah tentang masa depan?
            Aku mengalihkan pandanganku pada sebuah ruangan tertutup yang bertuliskan “kantor”. Si wanita jubah merah memasuki ruangan itu, bertemu dengan nyonya Adeline. Ruangan itu Nampak seperti penjara dimataku, penjara yang terlalu mencolok; menyilaukan mata. Segala sudut ruang terlihat tua dan berdebu, bersisik. Aku melangkah menyisip tanpa suara tapak kaki. Pintu itu sudah tertutup rapat, seperti sebuah ruang rahasia yang telah ada selama ribuan tahun. Penasaran aku, kemudian aku kerucutkan tajam pendengaran dari ambang pintu. Entah apa yang terjadi, aku mendengan suara.
            Terlalu bising dan menggelisahkan; suara yang terdengar didalam. Bagai puan neraka yang menyimak jeritan jiwa-jiwa sepi. Aku membungkukkan badan, mencoba menyusuri. Aku menangkap sebuah isak tangis, entah wanita jubah merah, atau si nenek sihir. Entah, aku hanya bisa menerka.
            Badai salju bulan Desember ikut bergemuruh, membekukan seluruh bangunan tua ini. Aku bergidik. Masih misteri untuk laki-laki kecil sepertiku. Jemari kakiku meringkuk; ingin mencengkram gelaga badai salju diluar. Keingintahuan dalam otakku rupanya menjadi pucuk-pucuk birama di detak jantung. Bikin ngilu.
            Satu setengah jam berlalu membuatku menggigil, dan pintu terbuka. Tubuh wanita jubah merah langsung menyergapku, mendekapku rapat-rapat sembari terisak. Tanganku menggenggam sejumput rambut yang tergerai dipunggungnya. Isakan wanita ini membuatku juga ingin menangis.
            “Piano?” tawar wanita jubah merah itu terbata. Sesekali menghapus jejak air mata. Aku mengangguk tanpa bersuara, kemudian mengikuti langkah gontainya menuju ruang piano.
            “Kau tahu, mengapa tuts piano berwarna hitam dan putih?” tanyanya pelan, aku menengadahkan kepala untuk menelusur jawaban diwajahnya. “Tidak,” sahutku. Jemarinya yang lentik menyentuh setiap bagian dari tuts piano dari ujung ke ujung, bibirnya bergetar dan matanya sayu.
            “Manusia mempunyai dua sisi, gelap dan terang. Kau tidak bisa memainkan piano hanya dengan satu warna. Yang kau jumpai nanti hanya kekosongan, nada yang semu,” tukasnya pelan. “aku tidak mengerti, Ann,” aku menyahut.
            “Kau masih terlalu muda untuk mengerti. Piano bagaikan manusia, Andy. Kedua sisi gelap dan terang itu adalah bagian dari manusia, merentang, mengeluarkan nada-nada yang entah nanti akan memilukan atau tidak. Namun, hitam dan putih menyatu dalam serdadu kenaifan,” wanita jubah merah menjelaskan.
            “Lalu mengapa tuts piano tidak dijadikan abu-abu saja?” aku penasaran. Dia terkekeh.
            “Abu-abu adalah bilur yang memaparkan ketidakpastian. Lalu mengapa ada laki-laki dan perempuan? Iblis dan malaikat? Buruk dan baik? Utara dan selatan? Bulan dan matahari? Gunung dan lautan?” jemari lentik wanita itu mulai memainkan satu lagu kesukaannya; Sonata no. 8 Pathetique.
            Kemudian lagu itu adalah lagu terakhir yang dia mainkan. Hari terakhir dimana dia datang berkunjung di pertengahan bulan Desember yang bersalju. Aku merenggut, seketika kehampaan menuas dalam biru, membungkam sanubari. Piano itu tak pernah kusentuh lagi, memandanginyapun aku enggan. Berulang kali aku kerap bertanya tentang wanita berjubah merah pada nyonya Adeline, si nenek sihir dari negeri selatan; begitu kata teman-teman, namun tak ada satu jawaban yang terlontar. Aku tersesat diambang kabut malam, yang meneriaki semua kecacatan peristiwa.
            Seiring dengan ketiadaan wanita jubah merah, waktu seakan berlari kencang. Menghempas kedewasaanku yang sepanjang usia menggali kubur keberadaannya. Saat usiaku menginjak 32 tahun, aku tetap pada jalur kesendirian. Bahkan ketika hujan mengguyur kota dan tak sengaja aku melihat sesosok berjubah merah memayungi rambut emasnya, ku hempaskan kaki berlari mengejar diantara kerumunan manusia. Benar, aku mengejar ketiadaan, mengejar bayangan.
            Melulu mengibahkan sejuta bulir tirani yang mengkristal, pecah dalam kekosongan malam. Aku tak ingin menyerah untuk mencari wanita jubah merah itu. Kerap aku mengiba dihamparan Katedral, sembari mengepakkan hati yang patah. Aku jatuh berkali-kali.
            Kemudian pada suatu pagi di musim panas, aku menerima panggilan telepon dari kenalan yang ahli dalam mencari keberadaan seseorang. “Aku menemukannya,” sergahnya setengah berteriak. Seketika kupacu tubuhku menuju si wanita berjubah merah berpijak, menuju keberadaan yang mungkin menghilangkan akal sehatku. Sebuah tempat antah berantah dalam negeri angina yang selalu kuimpikan setiap malam. Tempat yang begitu asing ditelinga, melewati semilyar jalan setapak yang membara oleh terik matahari. Tempat yang berpayung biru tak berkesudahan.
            Wanita berjubah merah itu terbaring diatas tempat tidur tua, matanya sendu tertutup oleh keriput. Di sebuah rumah yang teduh, aku menemukannya.
            “Hai, Ann,” ucapku pelan terselimuti getaran frekuensi suara yang terdengar menyesak. Mataku menyusuri sekeliling dan berhenti pada sudut ruang yang menggantung jubah merah lusuh, yang dulu terlihat tidak lusuh. Aku menggenggam tangan wanita itu. Dia memejamkan mata, nampak membuang muka dan tertidur.
            “Kau tidak akan mendengarnya bicara. Dia memilih bisu sejak…” seorang wanita lain yang lebih muda menghampiri kami. Dia menggigit bibir, ragu untuk melanjutkan. Aku mengernyitkan dahi
            “…sejak dia bebas,” lanjutnya pilu.
            “Bebas?” tanyaku.
            “Satu tahun yang lalu,” jawabnya meresah.
            “Apa yang terjadi?” lanjutku bertanya. Ingin segera mendengar kisahnya.
            “24 tahun yang lalu, nyonya Ann membunuh seorang klien. Tidak, mungkin lebih cocok untuk memanggilnya pelanggan. Seorang pria tua yang acap kali melakukan kekerasan padanya. Kemudian keadilan tak berpihak padanya. Nyonya Ann dijatuhi hukuman 22 tahun,” raut wajahku berubah geram. Sungguh, ini menyiksaku.
            “Pelanggan?” aku bertanya lagi.
            “Beliau menjual tubuhnya, dulu,” sahut si wanita muda itu. “Dan aku adalah hasil dari pekerjaannya,” dia melanjutkan. Tubuhku melemas, pandanganku nanar.
            “Lalu, apa arti panti asuhan…”
            “Panti asuhan Moldova? Bagaimana kau tahu tempat itu? Ibu berasal dari sana, Moldova adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki,” jelas wanita muda sembari menyelimuti ibunda yang tengah tertidur.
            Aku menundukkan kepala, menahan air mata. Mengutuk Tuhan dalam hati. Perasaanku berkecamuk seolah memecah kaca jendela yang berubah memekat. Menyalahkan diri sendiri berulang kali. Hanya jubah merah itu yang membias, menyilaukan perdebatan hati.

            Aku memang menemukannya, namun aku tak menemukan jati dirinya. Aku memang mengenalnya, namun ternyata aku hanya mengenal jubah merahnya. Aku tahu warna matanya, namun aku tak tahu ceritanya.

3 komentar:

  1. As usual.. Alurnya bisa ditebak tapi bikin penasaran. 😉
    Knapa jubahnya merah?? Mungkin ada maknanya kah??

    BalasHapus
  2. Abu-abu adalah bilur yang memaparkan ketidakpastian. Lalu mengapa ada laki-laki dan perempuan? Iblis dan malaikat? Buruk dan baik?
    Yang pertama disebutin yang jelek dulu?
    Laki-laki, iblis, buruk.
    Yang kedua, yang bagus?
    Perempuan, malaikat, baik.
    Sepertinya bukan kebetulan.
    :)

    BalasHapus