Senin, 17 Desember 2012

Putri Tidur Bercerita: Cinta di Batas Banpo

           Diantara jejeran bintang malam ini, aku menghitung biasnya cahaya yang memantul diwajahmu. Begitu sendu hingga aku lupa kesyahduan titik Kristal yang mengalir dimatamu. Kau memelukku erat, menjamah tiap sudut tubuhku. Aku menikmatinya. Inikah jalan buntu yang sering kita sebut petaka? Terkutuklah aku hingga bisa mencintaimu sedalam ini. Darahku panas mengalir, hinggap satu demi satu logika tidak waras yang merasuki alam bawah sadarku. Aku hendak pergi, namun kemana? Jalan ini sulit, yang kumaksud, aku sulit menemukan sudut jingga. Hingga rupamu yang melekat terus menerus hinggap. Kemudian kita dipertemukan Tuhan.
       “Apakah yang membuatmu ingin menghilang dari kehidupanku, akan membuatku bahagia?” Bagas seperti mengeja kata demi kata, menatapku sayu. Laki-laki bertubuh tegap itu terus menjamah tubuhku.
       “Berhentilah sekarang,” aku memohon, seraya menatap langit melalui balik jendela.
          “Tapi aku mencintaimu, Senja.” Bagas tetap terlihat seperti mengeja.
Kita baru saja dipertemukan diujung jembatan Banpo. Seperti kata mama, jembatan itu yang mempertemukannya dengan papa.
          “Ingin sekali aku menyerah,”
        “Kalau aku, ingin sekali menyerahkan semuanya untuk kamu,” Bagas membalikkan pernyataanku.
        Jujur aku ingin menangis saat ini, ketika Bagas mengecup keningku dibawah rembulan, dan kami mengumpat dibalik jendela usang. Kecupan Bagas merayap hingga hidungku, menghembuskan nafasnya pelan. Panas. Tak tahan aku melawan perasaan haus; akan dirinya yang sangat kukagumi. Bahunya yang lebar dan hangat mendekap badanku yang kecil dan bukan siapa-siapa. Aku merintih didalam hati, menjerit, meraung. Luka abadi ini kurasakan ruasnya yang menganga, berdarah. Aku tak mampu mengais serpihannya ditiap sudutnya. Aku kesakitan. 
         Dan malam ini kembali kita menyatu, tubuh kita, hati kita, perasaan kita.
      “Berjalanlah ke sarang tempatmu dilahirkan, dan aku kembali pada dunia yang membuatku patah; hingga akhirnya aku bertemu denganmu,” aku tersedu, namun kucoba untuk menjelaskan apa maksudku. Bagas tak bergeming, tetapi bisa kurasakan peluhnya menetes.
          “Akankah kita berpisah lagi? Aku tak sanggup,”
         “Terus maumu gimana? Lalu mama papa? Lalu kak Sofia? Lalu orang-orang yang telah berbahagia atasmu dan hidupmu?” aku terbata, sesak.
         “Dek, kamu yang memaksa kita berpisah lagi, aku benar-benar tidak bisa,” dekapan Bagas semakin erat.
       “Lupakan aku, tinggalkan aku, kembali pada hidupmu. Kemudian hiduplah selayaknya laki-laki yang selalu dikagumi, aku hanya bisa memandangmu disini. Aku tidak apa-apa. Demi Tuhan aku tidak akan terluka, namun untuk saat ini,” aku menghentikan ucapanku, menghela napas panjang. “Untuk saat ini aku tak bisa melihatmu menikah dengan kak Sofia, aku tak mampu. Aku tak mampu menghancurkan kalian, menghancurkan mama papa, hanya dengan pertemuan kita yang selang berlalu 3 bulan ini. Maka, pergilah. Berbahagialah atas nama Tuhan, mengucap janjilah, cintai kak Sofia sebagaimana ia mencintaimu.” Aku terisak. Bagas terdiam. Tatapannya kosong, bibirnya bergetar. Dekapannya semakin merenggang. Perubahannya, hampir membuatku gila.
       “Maafkan aku, Dek. Maafkan aku, Senja, yang mencintaimu. Andai saja ada dimensi kehidupan lain yang membuat kita bisa bersama, andai saja ada,” aku tersenyum, hampir tertawa.
     “Maksudmu, reinkarnasi?” aku memiringkan wajah, menatapnya lucu. Bagas juga hampir tertawa.
       “Ya, reinkarnasi, menjadi sepasang kupu-kupu. Menjelajah senja, hingga terbenam matahari, bersama mencari madu diantara sengit bunga-bunga, merangkum kisah sendiri, terbang lepas dengan sayap kita, tak perduli mama papa, Sofia atau orang-orang tak waras yang lalu lalang menjamah dunia. Kita hanya akan melawan hati, sebebas apapun. Kita bisa berdoa pada Tuhan,” bola mata Bagas menerawang gelapnya malam, berangan-angan dia, sepertinya.
           “Lalu kita harus mati dulu?”
         “Boleh, kalau reinkarnasi memang benar-benar ada,” Ia menambahi.
         “Sudahlah, jangan berandai-andai. Yang harus kita lakukan saat ini adalah melawan hati, menyadari siapa kita dan pantasnya kita berada dimana.” Aku menatap Bagas, ia masih menyusuri kerlip bintang.
           “Bisakah kau berada disini selagi kau mampu?”
        “Aku mengantuk, ini sudah tengah malam. Besok aku harus kembali ke Indonesia, tempatku dilahirkan.” Bagas menghela nafas pelan, kemudian ia menunduk.
        “Secepat itu? Apakah Korea membosankan bagimu? Di Jembatan Banpo itu, aku masih ingat,”
      “Berjanjilah padaku untuk tetap bahagia, minggu depan kamu akan menikah. Berjanjilah,” aku memeluknya, erat. Menahan tangis untuk kesekian kalinya.
           “Aku janji,”
***
            Lonceng Gereja Khatolik berbunyi 3 kali. Hari ini adalah awal Desember, salju tipis turun memenuhi ruang dunia. Aku menghitung waktu, menerjemahkan kebahagiaan orang-orang yang berada disini. Melihat mama papa yang duduk disudut sana, berkaca-kaca. Walau mereka telah bercerai sejak aku berumur 5 bulan, tetapi cinta yang masih tersisa tetap terlihat membara. Aku bisa membacanya lewat tatapan mata mereka. Seakan mereka berpelukan.
             Sementara mama dan papa berpisah, Bagas ikut dengan papa dan tinggal di Korea, Negara kelahirannya. Aku, hidup dan menjalani hari-hariku di Indonesia, dengan mama. Dan 3 bulan yang lalu, aku baru saja dipertemukan dengan Bagas, kakak laki-lakiku, setelah hampir 19 tahun aku berpisah dengannya.
            Cinta ini, didalam hatiku, mengalir begitu saja. Bagas menunjukanku banyak cerita tentang Korea dan dirinya. Kita selalu berbincang di Jembatan Banpo. Ia selalu membawakanku segelas kopi hangat, sembari menikmati air mancur dan segala keindahan Banpo. Sorak semarai kilau lampunya. Cinta kita tumbuh di Banpo. Aku mencintai Bagas, bukan sebagai hubungan darah antara adik dan kakak, tetapi aku mencintainya sebagai…
         “Apakah kau bersedia dan berjanji sehidup semati mencintai pasanganmu walau dalam keadaan suka dan duka, sakit dan menderita?”
             “Yes, I do,”
        “Sekarang kalian sudah menjadi sepasang suami istri, pleasure to kiss your mate each other,”
            Aku mencintainya sebagaimana wanita mencintai pria. Dengan hatiku, detik ini, aku bersumpah, aku terluka.
         Aku memandang sepasang pengantin berbahagia diujung sana, mengucap janji sehidup semati. Dan aku, kedinginan, disudut pintu gereja ini. Melawan perasaanku sendiri, seperti ditikam sebilah pedang tajam dan tenggelam diantara kesakitan-kesakitan ini, melalui luka yang semakin menganga.
          Dengan langkah gontai aku melangkah keluar gereja. Menyeberangi manusia-manusia asing yang berlalu lalang berjalan melewatiku. Tak ada matahari, tak jua senja menjingga. Hanya salju tipis yang dingin menusuk hingga ke tulang rusukku. Butirannya jatuh menghujami hatiku. Cinta ini mengkristal, sesak bercampur perih menggeliat di hati dan otakku. Aku tak bisa bernafas, aku tak berkutik. Langkah yang gemetar ini tak gentar melangkah, menyusuri sudut demi sudut negeri gingseng.
            Aku tak sadar ada sebuah truk yang berada diujung jalan, suara teriakan orang-orang disekelilingku berangsur samar. Bagai sedetik berlalu, tubuhku dihantam truk itu, aku terjatuh, terkapar, tetapi tak merasakan sakit. Dibawah salju aku terbaring, dengan setitik air mata yang jatuh disudut mataku. Aku memejamkan mata, menunggu malaikat maut menjemputku dengan sinar putihnya. Aku tak sadar lagi.
***
            Aku membuka mata. Ini di jembatan Banpo. Namun aku bersayap, aku terbang! Dan ini senja. Aku memandang air mancur dan segala sinar kerlap-kerlip. Tanpa kusadari aku tak sendirian.
        “Senja,” suaranya khas dan hangat. Sekuat daya aku menoleh sembari mengepakkan sayapku.
              “Kamu…”
              “Aku Bagas,”
              “Dan kita?”
              “Kita adalah sepasang kupu-kupu”
              “Bagaimana bisa?”
       “Kamu sudah mati, Senja. Tertabrak truk di persimpangan jalan dekat Gereja di hari pernikahanku. Seperti disambar petir melihat kamu pergi,”
            “Lalu, Bagas, bagamana kamu bisa…”
            “Aku menyusulmu ke dimensi kehidupan yang baru, merajut kembali cinta kita,”
            “Kamu??!” aku tersentak.
       “Aku bunuh diri, meninggalkan Sofia yang tengah mengandung anakku 3 bulan, meninggalkan papa yang tengah sakit keras, meninggalkan mama yang hampir gila karna kepergianmu,”
            “Kenapa kamu melakukan ini, Bagas?”
      “Sebab aku tak ingin meninggalkanmu. Diamlah, Senja.nikmati reinkarnasi ini. Bukankah aku pernah berjanji padamu, bahwa aku akan tetap bahagia? Namun aku tidak merasakan kebahagian apapun dikehidupanku sebelumnya. Maka kuputuskan untuk mengejarmu, melalui kematian, dan hidup kembali. Disinilah kebahagianku, tepatnya dihatimu. Sekarang kita bukan kakak beradik lagi. Kita adalah sepasang kupu-kupu bersayap mekar,”
          Air mancur di jembatan Banpo meluap keluar, matahari sudah terbenam. Kami terus mengepakkan sayap kami. Memandang sinar-sinar pengharapan. Dan kini aku mengerti, cinta tak pernah mengenal batas waktu.
           Di Jembatan Banpo, Korea Selatan, aku dan Bagas saling mendekap.

1 komentar:

  1. thanks then. i hope i could write and write more stories i imagine.

    BalasHapus