Diantara
jejeran bintang malam ini, aku menghitung biasnya cahaya yang memantul
diwajahmu. Begitu sendu hingga aku lupa kesyahduan titik Kristal yang mengalir
dimatamu. Kau memelukku erat, menjamah tiap sudut tubuhku. Aku menikmatinya.
Inikah jalan buntu yang sering kita sebut petaka? Terkutuklah aku hingga bisa
mencintaimu sedalam ini. Darahku panas mengalir, hinggap satu demi satu logika
tidak waras yang merasuki alam bawah sadarku. Aku hendak pergi, namun kemana?
Jalan ini sulit, yang kumaksud, aku sulit menemukan sudut jingga. Hingga rupamu
yang melekat terus menerus hinggap. Kemudian kita dipertemukan Tuhan.
“Apakah yang membuatmu ingin
menghilang dari kehidupanku, akan membuatku bahagia?” Bagas seperti mengeja
kata demi kata, menatapku sayu. Laki-laki bertubuh tegap itu terus menjamah
tubuhku.
“Berhentilah sekarang,” aku
memohon, seraya menatap langit melalui balik jendela.
“Tapi aku mencintaimu,
Senja.” Bagas tetap terlihat seperti mengeja.
Kita baru saja dipertemukan diujung jembatan Banpo. Seperti
kata mama, jembatan itu yang mempertemukannya dengan papa.
“Ingin sekali aku menyerah,”
“Kalau aku, ingin sekali
menyerahkan semuanya untuk kamu,” Bagas membalikkan pernyataanku.
Jujur aku ingin menangis saat
ini, ketika Bagas mengecup keningku dibawah rembulan, dan kami mengumpat
dibalik jendela usang. Kecupan Bagas merayap hingga hidungku, menghembuskan
nafasnya pelan. Panas. Tak tahan aku melawan perasaan haus; akan dirinya yang
sangat kukagumi. Bahunya yang lebar dan hangat mendekap badanku yang kecil dan
bukan siapa-siapa. Aku merintih didalam hati, menjerit, meraung. Luka abadi ini
kurasakan ruasnya yang menganga, berdarah. Aku tak mampu mengais serpihannya
ditiap sudutnya. Aku kesakitan.
Dan malam ini kembali kita
menyatu, tubuh kita, hati kita, perasaan kita.
“Berjalanlah ke sarang tempatmu dilahirkan,
dan aku kembali pada dunia yang membuatku patah; hingga akhirnya aku bertemu
denganmu,” aku tersedu, namun kucoba untuk menjelaskan apa maksudku. Bagas tak
bergeming, tetapi bisa kurasakan peluhnya menetes.
“Akankah kita berpisah
lagi? Aku tak sanggup,”
“Terus maumu gimana? Lalu
mama papa? Lalu kak Sofia? Lalu orang-orang yang telah berbahagia atasmu dan
hidupmu?” aku terbata, sesak.
“Dek, kamu yang memaksa
kita berpisah lagi, aku benar-benar tidak bisa,” dekapan Bagas semakin erat.
“Lupakan aku, tinggalkan aku,
kembali pada hidupmu. Kemudian hiduplah selayaknya laki-laki yang selalu
dikagumi, aku hanya bisa memandangmu disini. Aku tidak apa-apa. Demi Tuhan aku
tidak akan terluka, namun untuk saat ini,” aku menghentikan ucapanku, menghela
napas panjang. “Untuk saat ini aku tak bisa melihatmu menikah dengan kak Sofia,
aku tak mampu. Aku tak mampu menghancurkan kalian, menghancurkan mama papa,
hanya dengan pertemuan kita yang selang berlalu 3 bulan ini. Maka, pergilah.
Berbahagialah atas nama Tuhan, mengucap janjilah, cintai kak Sofia sebagaimana
ia mencintaimu.” Aku terisak. Bagas terdiam. Tatapannya kosong, bibirnya
bergetar. Dekapannya semakin merenggang. Perubahannya, hampir membuatku gila.
“Maafkan aku, Dek. Maafkan aku,
Senja, yang mencintaimu. Andai saja ada dimensi kehidupan lain yang membuat
kita bisa bersama, andai saja ada,” aku tersenyum, hampir tertawa.
“Maksudmu, reinkarnasi?” aku memiringkan
wajah, menatapnya lucu. Bagas juga hampir tertawa.
“Ya, reinkarnasi, menjadi sepasang
kupu-kupu. Menjelajah senja, hingga terbenam matahari, bersama mencari madu
diantara sengit bunga-bunga, merangkum kisah sendiri, terbang lepas dengan
sayap kita, tak perduli mama papa, Sofia atau orang-orang tak waras yang lalu
lalang menjamah dunia. Kita hanya akan melawan hati, sebebas apapun. Kita bisa
berdoa pada Tuhan,” bola mata Bagas menerawang gelapnya malam, berangan-angan
dia, sepertinya.
“Lalu kita harus
mati dulu?”
“Boleh, kalau reinkarnasi
memang benar-benar ada,” Ia menambahi.
“Sudahlah, jangan
berandai-andai. Yang harus kita lakukan saat ini adalah melawan hati, menyadari
siapa kita dan pantasnya kita berada dimana.” Aku menatap Bagas, ia masih
menyusuri kerlip bintang.
“Bisakah kau berada
disini selagi kau mampu?”
“Aku mengantuk, ini sudah tengah
malam. Besok aku harus kembali ke Indonesia, tempatku dilahirkan.” Bagas
menghela nafas pelan, kemudian ia menunduk.
“Secepat itu? Apakah Korea
membosankan bagimu? Di Jembatan Banpo itu, aku masih ingat,”
“Berjanjilah padaku untuk tetap bahagia,
minggu depan kamu akan menikah. Berjanjilah,” aku memeluknya, erat. Menahan
tangis untuk kesekian kalinya.
“Aku janji,”
***
Lonceng Gereja
Khatolik berbunyi 3 kali. Hari ini adalah awal Desember, salju tipis turun
memenuhi ruang dunia. Aku menghitung waktu, menerjemahkan kebahagiaan
orang-orang yang berada disini. Melihat mama papa yang duduk disudut sana,
berkaca-kaca. Walau mereka telah bercerai sejak aku berumur 5 bulan, tetapi
cinta yang masih tersisa tetap terlihat membara. Aku bisa membacanya lewat
tatapan mata mereka. Seakan mereka berpelukan.
Sementara
mama dan papa berpisah, Bagas ikut dengan papa dan tinggal di Korea, Negara
kelahirannya. Aku, hidup dan menjalani hari-hariku di Indonesia, dengan mama.
Dan 3 bulan yang lalu, aku baru saja dipertemukan dengan Bagas, kakak
laki-lakiku, setelah hampir 19 tahun aku berpisah dengannya.
Cinta ini, didalam
hatiku, mengalir begitu saja. Bagas menunjukanku banyak cerita tentang Korea
dan dirinya. Kita selalu berbincang di Jembatan Banpo. Ia selalu membawakanku
segelas kopi hangat, sembari menikmati air mancur dan segala keindahan Banpo.
Sorak semarai kilau lampunya. Cinta kita tumbuh di Banpo. Aku mencintai Bagas,
bukan sebagai hubungan darah antara adik dan kakak, tetapi aku mencintainya
sebagai…
“Apakah kau bersedia dan
berjanji sehidup semati mencintai pasanganmu walau dalam keadaan suka dan duka,
sakit dan menderita?”
“Yes, I do,”
“Sekarang kalian sudah menjadi
sepasang suami istri, pleasure to kiss your mate each other,”
Aku mencintainya
sebagaimana wanita mencintai pria. Dengan hatiku, detik ini, aku bersumpah, aku
terluka.
Aku memandang sepasang
pengantin berbahagia diujung sana, mengucap janji sehidup semati. Dan aku,
kedinginan, disudut pintu gereja ini. Melawan perasaanku sendiri, seperti
ditikam sebilah pedang tajam dan tenggelam diantara kesakitan-kesakitan ini,
melalui luka yang semakin menganga.
Dengan langkah gontai aku
melangkah keluar gereja. Menyeberangi manusia-manusia asing yang berlalu lalang
berjalan melewatiku. Tak ada matahari, tak jua senja menjingga. Hanya salju
tipis yang dingin menusuk hingga ke tulang rusukku. Butirannya jatuh menghujami
hatiku. Cinta ini mengkristal, sesak bercampur perih menggeliat di hati dan
otakku. Aku tak bisa bernafas, aku tak berkutik. Langkah yang gemetar ini tak
gentar melangkah, menyusuri sudut demi sudut negeri gingseng.
Aku tak sadar ada
sebuah truk yang berada diujung jalan, suara teriakan orang-orang
disekelilingku berangsur samar. Bagai sedetik berlalu, tubuhku dihantam truk
itu, aku terjatuh, terkapar, tetapi tak merasakan sakit. Dibawah salju aku
terbaring, dengan setitik air mata yang jatuh disudut mataku. Aku memejamkan
mata, menunggu malaikat maut menjemputku dengan sinar putihnya. Aku tak sadar
lagi.
***
Aku membuka mata.
Ini di jembatan Banpo. Namun aku bersayap, aku terbang! Dan ini senja. Aku
memandang air mancur dan segala sinar kerlap-kerlip. Tanpa kusadari aku tak
sendirian.
“Senja,” suaranya khas dan
hangat. Sekuat daya aku menoleh sembari mengepakkan sayapku.
“Kamu…”
“Aku Bagas,”
“Dan kita?”
“Kita adalah
sepasang kupu-kupu”
“Bagaimana
bisa?”
“Kamu sudah mati,
Senja. Tertabrak truk di persimpangan jalan dekat Gereja di hari pernikahanku.
Seperti disambar petir melihat kamu pergi,”
“Lalu, Bagas,
bagamana kamu bisa…”
“Aku menyusulmu ke
dimensi kehidupan yang baru, merajut kembali cinta kita,”
“Kamu??!” aku
tersentak.
“Aku bunuh diri, meninggalkan
Sofia yang tengah mengandung anakku 3 bulan, meninggalkan papa yang tengah
sakit keras, meninggalkan mama yang hampir gila karna kepergianmu,”
“Kenapa kamu
melakukan ini, Bagas?”
“Sebab aku tak ingin meninggalkanmu.
Diamlah, Senja.nikmati reinkarnasi ini. Bukankah aku pernah berjanji padamu,
bahwa aku akan tetap bahagia? Namun aku tidak merasakan kebahagian apapun
dikehidupanku sebelumnya. Maka kuputuskan untuk mengejarmu, melalui kematian,
dan hidup kembali. Disinilah kebahagianku, tepatnya dihatimu. Sekarang kita
bukan kakak beradik lagi. Kita adalah sepasang kupu-kupu bersayap mekar,”
Air mancur di jembatan
Banpo meluap keluar, matahari sudah terbenam. Kami terus mengepakkan sayap
kami. Memandang sinar-sinar pengharapan. Dan kini aku mengerti, cinta tak
pernah mengenal batas waktu.
Di Jembatan Banpo,
Korea Selatan, aku dan Bagas saling mendekap.
thanks then. i hope i could write and write more stories i imagine.
BalasHapus