Rabu, 02 Oktober 2013

SENJA

Langit mulai mengumpat dibalik jingga
Aku menatap ruas padi yang bergeming
Disela fatamorgana ini, aku pejamkan hati
Meraba getir rindu yang berotasi pada roda jiwa

Mencintaimu selamanya...
Merupakan takdir yang senantiasa ku genggam erat
Menyekat pelupuk jantung paling dalam
Menutup semua ruang tergelap dihatimu

Dibawah langit yang menjingga
Dan sinar mentari yang mulai lelah membias
Aku memungut kepingan hati yang patah
Berharap senja menyulapnya menjadi seperti semula
Kembali utuh, kembali menyengat rindu

Namun kelopak hitam yang bergelut membungkus tawa
Nian berubah tangis yang rapuh
Aku tertunduk, termangu
Sejak kapan aku berani memuja hadirmu?
Atau Tuhankah yang berpujangga atas nama cinta?

Kekasih, tengoklah aku
Tengok hatiku
Saat segalanya terasa hambar dan mati rasa
Berikan aku lembayung senja yang kau janjikan
Kemudian siram aku dengan hangatnya hujan

Ketika semuanya belum terlambat, kekasih;
Pulanglah kerumahku dan menepi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar